Ini Gejala dan Risiko Frozen Shoulder

  • 05 Des 2025 20:19 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Frozen shoulder atau adhesive capsulitis merupakan kondisi yang menimbulkan kekakuan dan nyeri pada area bahu, sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Bahkan dalam beberapa kasus frozen shoulder, hampir tidak dapat digerakkan sama sekali. Gangguan ini biasanya berlangsung dalam jangka panjang, dimulai dari beberapa bulan, hingga kemudian bertahun-tahun, dan jarang kembali terjadi pada bahu yang sama.

Dikutip dari Halodoc, pada Jumat (5/12/2025), kondisi tersebut muncul akibat terbentuknya jaringan parut pada kapsul pelindung yang menyelubungi sendi bahu. Kapsul ini merupakan jaringan ikat yang berfungsi melindungi struktur penting pada bahu seperti tulang, ligamen, dan tendon.

Ketika jaringan parut menebal dan menempel erat di sekitar sendi bahu, ruang gerak bahu menjadi sangat terbatas. Situasi ini kemudian menimbulkan kekakuan ekstrem yang dikenal sebagai frozen shoulder.

Gejala frozen shoulder biasanya berkembang secara bertahap dan dapat memburuk seiring berjalannya waktu. Proses pemulihan setiap orang berbeda-beda dan dapat berlangsung cukup lama.

Tahap pertama ditandai dengan rasa nyeri yang muncul setiap kali bahu digerakkan, disertai berkurangnya kelenturan gerak. Fase ini umumnya berlangsung selama beberapa minggu.

Pada tahap kedua, rasa sakit mulai berkurang, namun bahu menjadi semakin kaku, sehingga ruang gerak semakin terbatas. Periode ini dapat terjadi antara empat bulan hingga satu tahun.

Pada fase ketiga, pergerakan bahu berangsur pulih dan fleksibilitas perlahan kembali normal. Masa pemulihan pada tahap ini bisa mencapai satu hingga tiga tahun.

Dalam sejumlah kasus, frozen shoulder berkaitan dengan penyakit rematik atau dialami oleh penderita diabetes. Artinya, diabetes menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Faktor lain yang meningkatkan risiko frozen shoulder adalah usia di atas 40 tahun dan jenis kelamin perempuan. Selain itu, berbagai penyakit sistemik, seperti gangguan pembuluh darah, gangguan tiroid, tuberkulosis, parkinson, hingga stroke juga dapat meningkatkan peluang seseorang mengalami kondisi ini. Risiko juga meningkat pada individu yang jarang menggerakkan bahu untuk waktu lama, misalnya setelah cedera, patah tulang, operasi bahu, atau pemulihan pasca-stroke.

Penanganan frozen shoulder dapat dilakukan melalui pemberian obat, terapi fisik untuk mengembalikan jangkauan gerak, hingga tindakan operasi jika terapi konservatif gagal memberikan hasil. Umumnya pemulihan dapat berlangsung antara satu hingga satu setengah tahun.

Pada kondisi yang tidak membaik dengan pengobatan awal, dokter dapat mempertimbangkan prosedur medis, seperti menyuntikkan cairan steril ke dalam sendi bahu, manipulasi bahu, atau pembedahan untuk mengatasi jaringan yang menyebabkan kekakuan.

Sebagai langkah pencegahan, penting untuk tetap menggerakkan bahu secara rutin meskipun terbatas, terutama ketika sedang menjalani masa pemulihan setelah cedera atau operasi. Pasien dianjurkan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis latihan yang aman dilakukan, guna mengurangi risiko frozen shoulder dan mempercepat pemulihan fungsi bahu.

(Zahra Nurhidayah – Universitas Muhammadiyah prof. Dr. HAMKA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....