Prevalensi GERD di Indonesia Melonjak
- 23 Mei 2025 13:53 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Gangguan asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) semakin menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan data Journal of Clinical Gastroenterology edisi April 2024, prevalensi GERD di Indonesia melonjak dari 61,8% pada 2019 menjadi 67,9% pada 2021. Artinya, hampir 7 dari 10 orang dewasa di tanah air kini hidup dengan gejala seperti heartburn, mual, hingga gangguan tidur akibat refluks asam lambung.
Lonjakan ini tidak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat, mulai dari pola makan ala Barat, stres kronis, obesitas, hingga faktor penuaan populasi. Kondisi ini mendorong dunia medis mencari solusi terapi yang lebih efektif dan nyaman.
Salah satu inovasi terbaru yang kini jadi sorotan adalah Fexuprazan, terapi berbasis Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB) yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal Korea Selatan, Daewoong Pharmaceutical.
| Baca juga: Ini Strategi Jaga Berat Badan saat Ramadan |
Selama ini, terapi utama GERD mengandalkan obat golongan Proton Pump Inhibitor (PPI) seperti esomeprazole. Meski efektif, PPI punya beberapa keterbatasan: harus diminum sebelum makan, efeknya baru terasa setelah beberapa hari, serta waktu paruhnya pendek—sekitar 1–1,5 jam. Tak heran, banyak pasien masih mengalami gejala, terutama di malam hari.
Fexuprazan hadir menjawab tantangan ini. Artinya, pasien bisa mengonsumsinya kapan saja, tanpa harus memperhatikan waktu makan. Ini tentu menjadi kabar baik bagi mereka yang memiliki aktivitas padat.
Lebih dari itu, Fexuprazan bekerja dengan menghambat sekresi asam lambung melalui ikatan kompetitif pada pompa proton, memberikan penekanan asam yang stabil terutama saat malam hari, saat gejala GERD biasanya memburuk.
Efektivitas Fexuprazan tak hanya dirasakan pasien, tapi juga diakui dunia medis. Pada 2024, Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia (PGI) resmi memperbarui pedoman nasional penanganan GERD dan untuk pertama kalinya memasukkan P-CAB termasuk Fexuprazan sebagai terapi yang direkomendasikan setara dengan PPI.
Langkah ini menandai kepercayaan yang terus tumbuh terhadap P-CAB sebagai solusi terapi modern yang lebih efisien.
Uji klinis di Indonesia memperkuat harapan terhadap Fexuprazan. Dibandingkan esomeprazole yang butuh waktu hingga 8 minggu untuk memperbaiki gejala secara signifikan, Fexuprazan menunjukkan hasil hanya dalam 7 hari. Pasien melaporkan peningkatan kualitas tidur dan penurunan gejala heartburn malam hari.
“Penelitian ini membuktikan bahwa Fexuprazan meredakan gejala GERD lebih cepat dibandingkan esomeprazole. Ini terobosan penting, terutama bagi pasien dengan gejala malam hari dan penurunan kualitas hidup,” ujar Prof. Ari Fahrial Syam, Ketua PGI dan peneliti utama studi tersebut.
Melihat hasil positif tersebut, Daewoong Pharmaceutical kini tengah mengajukan persetujuan regulasi untuk Fexuprazan di Indonesia. Tak hanya itu, mereka juga berencana memperluas indikasi penggunaannya untuk gangguan pencernaan lain seperti gastritis dan dispepsia fungsional, serta menggandeng asosiasi medis dan akademisi lokal.
“Kecepatan peredaan gejala dan kenyamanan dosis Fexuprazan menjadikannya solusi bernilai tinggi bagi peningkatan kualitas hidup pasien,” kata Jisun Lee, Head of Clinical Development Daewoong Pharmaceutical.
Dengan prevalensi GERD yang terus meningkat, kehadiran Fexuprazan membawa angin segar bagi para pasien. Efektivitas cepat, kenyamanan penggunaan, dan kontrol gejala yang superior menjadikannya terapi masa depan dalam penanganan GERD di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....