3 Kata yang Sering Disalahpahami, Ini Penjelasan KBBI

  • 07 Okt 2026 15:22 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta — Dalam komunikasi sehari-hari, sejumlah kata sering digunakan berdasarkan kebiasaan tanpa terlebih dahulu melihat makna sebenarnya. Karena sudah akrab digunakan, sebuah kata bahkan dapat dipahami dengan arti yang berbeda dari pengertian yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI.

Perbedaan pemahaman itu antara lain terlihat pada kata absen dan acuh. Sementara itu, perkembangan pemaknaan kata juga dapat terjadi dalam bahasa Indonesia, seperti pada kata wacana yang kini memiliki makna yang sesuai dengan penggunaan yang cukup umum dalam percakapan sehari-hari.

KBBI VI Daring yang dikelola Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang kami akses pada Rabu, 7 Oktober 2026, mencatat makna kata berdasarkan perkembangan bahasa Indonesia.

Berikut 3 kata yang sering disalahpahami:

Ilustrasi halaman kamus yang diperiksa dengan kaca pembesar untuk melihat makna sebuah kata. (Foto: Nothing Ahead/Pexels)
1. Absen Bukan Berarti Kehadiran

Kata absen menjadi salah satu kata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ungkapan seperti “titip absen dong” cukup umum digunakan ketika seseorang meminta orang lain mencatat kehadirannya.

Namun, berdasarkan KBBI VI Daring, absen merupakan verba yang berarti “tidak masuk” atau “tidak hadir”. Dengan pengertian tersebut, penggunaan kata absen untuk menyebut kehadiran perlu dibedakan dari istilah yang merujuk pada pencatatan kehadiran.

Untuk menyebut kehadiran, KBBI VI Daring mencantumkan kata presensi. Kata tersebut merupakan nomina yang berarti “kehadiran”. Dengan demikian, presensi lebih tepat digunakan ketika yang dimaksud adalah kehadiran seseorang.

Contohnya, seseorang yang tidak hadir dapat disebut absen, sedangkan daftar atau kegiatan untuk mencatat kehadiran dapat disebut berkaitan dengan presensi. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya melihat makna kata sebelum menggunakannya dalam kalimat.

2. Acuh Berarti Peduli

Kata berikutnya adalah acuh. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini cukup sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak peduli terhadap keadaan di sekitarnya.

Padahal, KBBI VI Daring mencatat acuh sebagai verba yang berarti “peduli” atau “mengindahkan”. KBBI juga memberikan contoh penggunaan kata tersebut dalam kalimat yang menunjukkan makna peduli atau mengindahkan.

Karena itu, kalimat “dia acuh ketika melihat kejadian tersebut” secara makna tidak menunjukkan sikap tidak peduli. Jika ingin menyampaikan makna tidak memedulikan sesuatu, bentuk kalimatnya perlu disesuaikan, misalnya dengan menggunakan “tidak acuh” atau ungkapan lain yang secara jelas menunjukkan sikap tidak peduli.

3. Wacana Kini Memiliki Makna Rencana

Berbeda dengan dua kata sebelumnya, wacana justru menunjukkan bagaimana penggunaan bahasa dapat berkembang dan kemudian tercatat dalam KBBI.

Dalam naskah awal, kata wacana disebut hanya bermakna komunikasi verbal, percakapan, atau satuan bahasa yang lengkap. Namun, KBBI VI Daring terbaru mencantumkan enam makna untuk kata tersebut.

Selain bermakna komunikasi verbal, keseluruhan tutur, satuan bahasa terlengkap, kemampuan atau proses berpikir secara sistematis, dan pertukaran ide secara verbal, wacana juga memiliki makna sebagai “rencana yang baru sebatas dibicarakan dan belum jelas kepastian pelaksanaannya”.

Makna tersebut membuat penggunaan kalimat seperti “rencana itu masih sebatas wacana” tidak dapat disebut sebagai penggunaan kata yang keliru. KBBI VI Daring justru telah mencatat makna tersebut secara resmi.

(Syahrani Alyssia Tunggadewi - Universitas Negeri Jakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....