Tips Irjen Pol Eko Rudi Perkuat Deteksi Dini Kamtibmas Digital
- 17 Sep 2026 16:31 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Deteksi dini keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) berbasis komunitas digital, tidak cukup mengandalkan teknologi
- Sistem itu perlu dimulai dari kemampuan membaca gejala, mengumpulkan data lapangan, melibatkan banyak unsur, dan mengubah informasi menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti
RRI.CO.ID, Jakarta - Deteksi dini keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) berbasis komunitas digital, tidak cukup mengandalkan teknologi. Sistem itu perlu dimulai dari kemampuan membaca gejala, mengumpulkan data lapangan, melibatkan banyak unsur, dan mengubah informasi menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Dr. Eko Rudi Sudarto, menjelaskan pendekatan itu dalam Podcast SEVIMA, terkait dengan kegiatan STIK Mengabdi. Program STIK Mengabdi dilaksanakan di Palembang dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada 25-28 Agustus 2026.
Program itu diarahkan untuk memperkuat pencegahan gangguan kamtibmas, termasuk pada kondisi kedaruratan kebakaran hutan dan lahan. Dari penjelasan Irjen Pol Eko, sedikitnya ada lima langkah yang dapat dibaca, sebagai struktur kerja deteksi dini berbasis komunitas digital.
1. Mulai dari Deteksi Sebelum Gangguan Terjadi
Langkah pertama adalah menggeser perhatian dari respons setelah kejadian, menuju pembacaan tanda sebelum risiko berkembang. Irjen Pol Eko menekankan, kemampuan riset seharusnya membantu menemukan pola yang muncul berulang kali.
"Sebelum bencana terjadi, diperlukan deteksi dini. Karena peristiwa bencana ini kan berulang berulang dari tahun ke tahun, terus deteksinya seperti apa," ujar Irjen Pol Eko saat berbincang dalam Podcast SEVIMA, Kamis, 17 September 2026.
Pendekatan itu menempatkan deteksi dini sebagai proses memahami gejala awal, bukan sekadar menerima laporan ketika kondisi sudah membesar. Dalam konteks karhutla, misalnya, pola cuaca, karakter wilayah, kebiasaan masyarakat, dan kejadian berulang dapat menjadi bahan, untuk melihat risiko lebih cepat.
Artikel resmi Indonesian National Police, berjudul ‘Police Science College Strengthens Digital Community-Based Early Detection Systems’, juga menyebut sistem berbasis komunitas digital digunakan untuk mempercepat komunikasi, pelaporan, dan koordinasi saat kondisi darurat. Dengan demikian, teknologi berfungsi mempercepat aliran informasi, sementara kemampuan membaca gejala, tetap bergantung pada manusia yang memahami kondisi lapangan.
2. Kumpulkan Fakta Lapangan, Bukan Hanya Asumsi
Irjen Pol Eko menjelaskan, mahasiswa perlu melihat fenomena secara langsung. Pengumpulan informasi dapat dilakukan melalui pengamatan di beberapa wilayah, sampling, pengumpulan bukti, dan wawancara kepada pihak yang mengetahui kondisi setempat.
"Data-data dikumpulkan. Termasuk juga melakukan wawancara dengan warga setempat, yang merasakan langsung dari bencana di wilayahnya," kata Irjen Pol Eko.
Menurutnya, data dapat diolah dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. "Yang penting, informasi lapangan tidak berhenti sebagai cerita terpisah. Fakta perlu dikompilasi agar terlihat pola, perbedaan kondisi antarwilayah, sumber masalah, dan kemungkinan penanganannya," katanya.
3. Bangun Jejaring Pentahelix
Deteksi dini berbasis komunitas juga membutuhkan sumber informasi yang beragam. Dalam podcast, Eko menyebut unsur polisi, pemerintah, swasta, media, dan pengusaha, sebagai bagian yang dapat dimintai informasi mengenai kondisi lapangan.
"Tidak semua masalah selesai oleh satu struktur. Atau bahkan satu orang yang impossible. Pentingnya duduk bersama melalui pendekatan triple helix atau pentahelix," katanya.
"Pola ini membuat deteksi dini tidak bergantung pada satu institusi. Informasi dari masyarakat dapat dibandingkan dengan temuan pemerintah, kepolisian, media, kampus, maupun pelaku usaha yang berada di wilayah yang sama," tambahnya.
4. Gunakan Kanal Digital untuk Mempercepat Informasi
Komunitas digital dapat berfungsi sebagai saluran penyampaian informasi sekaligus edukasi. Irjen Pol Eko mencontohkan, mahasiswa yang menyampaikan perkembangan lapangan, dan membuat konten pada media sosial.
"Mereka membuat kolom Instagram, membuat konten-konten yang mengedukasi. Konten-konten yang memberikan informasi sehingga masyarakat tahu," katanya.
Ia juga menyinggung perubahan besar pada era digital, yang membuat informasi dapat diperoleh dalam waktu sangat cepat. Dalam kerangka deteksi dini kamtibmas, kanal digital dapat membantu laporan bergerak lebih cepat, dari titik kejadian menuju pihak yang perlu mengetahui, selama informasi tersebut tetap dikelola dan diverifikasi.
5. Ubah Data Menjadi Rekomendasi Bersama
Tahap terakhir adalah memastikan informasi tidak berhenti sebagai dokumentasi. Data perlu dianalisis dan dibawa ke ruang diskusi, agar menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk tindakan lanjutan. "Kemudian bisa menganalisis dan memberikan rekomendasi, baiknya apa yang dilakukan," ucapnya.
Ia menyebut rekomendasi dapat lahir dari diskusi, FGD, roundtable discussion, atau pertemuan yang lebih kecil. Proses itu memberi ruang bagi berbagai pihak untuk mempertemukan sudut pandang, dan menguji informasi sebelum menentukan langkah.
Lima langkah itu menunjukkan, deteksi dini kamtibmas berbasis komunitas digital, bukan hanya persoalan aplikasi atau kecepatan teknologi. Sistemnya dibangun dari kemampuan membaca pola, mengumpulkan fakta, memperluas sumber informasi, mempercepat komunikasi digital, dan menyusun rekomendasi bersama.
Dalam model itu, teknologi mempercepat proses. Sedangkan komunitas tetap menjadi sumber informasi terdekat dengan kondisi lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....