2.500 Mahasiswa Presiden University Rampung Ikuti PREUNI 2026
- 14 Sep 2026 20:50 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebanyak 2.500 mahasiswa Presiden University telah menyelesaikan rangkaian kegiatan (PREUNI 2026) mengenai pengenalan lingkungan kampus dan mengetahui lebih jauh tantangan yang akan mereka hadapi.
Proses ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, diplomat, akademisi, pemimpin bisnis dan profesional dari berbagai bidang dengan beragam perspektif tentang Indonesi, dunia dan peran yang dapat diambil mahasiswa.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia, Irene Umar mengatakan, mahasiswa merupakan bagian dari generasi yang memiliki peran penting dalam membawa perubahan bagi Indonesia.
"Potensi besar dari talenta talenta muda ini diyakini dapat membawa ekonomi kreatif Indonesia ke tingkat berikutnya," ujar Irene Umar dalam keterangan resminya, Senin, 14 September 2026.
Hal tersebut juga ditegaskan oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Sultan Baktiar Najamudin. Berangkat dari pengalamannya, ia menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kesempatan untuk mengambil peran dan memberikan dampak besar.
“Justru yang dipilih ketua paling muda. Kita punya harapan, orang-orang muda bisa memberi dampak yang besar,” katanya.
Kesempatan tersebut juga datang bersama tanggung jawab. Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A.,M.Soc.Sc., Ph.D., mengajak mahasiswa memahami bahwa kehidupan di universitas memberikan kebebasan berbeda dibanding saat di sekolah menengah.
Mereka memiliki lebih banyak ruang untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri, tetapi kebebasan itu juga menuntut kesiapan menghadapi konsekuensinya karena itulah bagian dari menjadi dewasa.
Perspektif mahasiswa kemudian diperluas pada dunia yang semakin terhubung melalui kolaborasi lintas negara. Kanselir Internasional President University, Prof. Ki-chan Kim, mengajak mahasiswa untuk tidak hanya membangun kekuatan diri, tetapi juga membantu orang-orang di sekitarnya berkembang.
"Semangat tersebut ia kaitkan dengan hubungan Indonesia dan Korea yang menurutnya dapat saling melengkapi melalui inovasi dan kolaborasi," ucapnya.
Semangat kolaborasi lintas negara juga menjadi bagian penting dalam membangun masa depan kawasan. Duta Besar Australia untuk ASEAN, Tiffany McDonalds, mendorong mahasiswa membangun koneksi lintas batas dan percaya pada kemampuan mereka menciptakan perubahan.
“Masa depan ASEAN berada di tangan generasi kalian. Bangun koneksi lintas batas agar hubungan diplomatik dapat terus dirayakan. Jangan meremehkan kemampuan kalian untuk menciptakan perubahan.”
Kepala Kantor Koordinator Residen PBB di Indonesia, Matthew Johnson-Idan, menambahkan bahwa tantangan lintas negara membutuhkan cara berpikir yang melampaui batas negara. Menurutnya, ketika persoalan yang bersifat regional atau global hanya dilihat secara lokal, solusi yang dihasilkan dapat keliru, baik dalam kebijakan, keputusan bisnis, maupun bidang teknis.
"Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai bidangnya, tetapi juga perlu memahami konteks yang lebih luas dan melihat persoalan dari berbagai perspektif," ujarnya.
Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk ASEAN, Duta Besar M.I. Derry Aman, kemudian mengajak mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin kompetitif.
Baginya, mahasiswa perlu memastikan waktu di universitas diisi dengan pengalaman yang berarti. Ia bahkan membuka kesempatan konkret dengan menyampaikan bahwa ketika waktunya tiba, mahasiswa President University dipersilakan mengikuti program magang di kantornya.
Memasuki dunia profesional membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Mahasiswa perlu membangun pengalaman, karakter, jejaring, dan kemampuan untuk terus belajar selama berada di universitas. Rektor President University, Handa S. Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., menyoroti lingkungan internasional sebagai bagian penting dari pengalaman mahasiswa.
“Hingga hari ini, kami memiliki mahasiswa internasional terbanyak di Indonesia. Dengan mahasiswa dan alumni dari 57 negara, kami memberi kesempatan bagi mahasiswa berinteraksi dengan beragam perspektif sejak masa kuliah sebagai bekal menghadapi dunia profesional yang semakin global," kata Handa.
Kesiapan tersebut perlu mulai dibangun sejak mahasiswa memasuki universitas. Lanny Wijaya, Kepala Bisnis Baru untuk Pasar Indonesia di LinkedIn, mengaku kagum karena hampir seluruh mahasiswa baru yang ditemuinya telah memiliki akun LinkedIn sejak tahap moving-in.
Namun menurutnya, akun tersebut baru langkah awal. Mahasiswa perlu membangun pengalaman, kemampuan bekerja dengan orang lain, dan rekam jejak yang menunjukkan bahwa mereka mampu menyelesaikan sesuatu.
Untuk membangun pengalaman itu, mahasiswa juga perlu memiliki kemauan untuk terus belajar. Wakil Rektor Universiti Utara Malaysia, Prof. Dr. Ahmad Martadha, mengingatkan bahwa kepemimpinan dimulai dari kemauan untuk belajar, termasuk menjadi pengikut yang baik sebelum menjadi pemimpin. Ia juga menekankan pentingnya memperlakukan orang lain tanpa memandang latar belakang.
Hal serupa disampaikan Paul Luo, Co-Founder dan Direktur Utama PT Batavia Prosperindo Investama dan PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk sekaligus alumni Angkatan 2002, angkatan pertama President University. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan, menjadi pribadi yang dapat diandalkan, dan menepati janji. Menurutnya, keterampilan teknis dapat dipelajari, tetapi karakter membutuhkan waktu untuk dibangun, sementara proses belajar harus terus berjalan.
Pesan tentang kesiapan diri juga diperkuat oleh Puteri Indonesia 2026 dan Miss Supranational Asia & Oceania 2026, Agnes Aditya Rahajeng, yang mengajak mahasiswa membangun kepercayaan diri dan hubungan yang bermakna. Pendiri sekaligus Komisaris Utama PT Gunanusa Eramandiri Tbk., Gunawan Tjokro, turut memberikan perspektif mengenai pentingnya kesiapan finansial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....