Penyebab Gempa M 5,9 Kepulauan Seribu Terasa hingga Jawa-Sumatera

  • 14 Sep 2026 15:23 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Gempa magnitudo 5,9 Kepulauan Seribu terjadi di kedalaman 376 kilometer dan dinyatakan tidak berpotensi tsunami.
  • Sebagian besar warga Kepulauan Seribu tidak merasakan gempa, sementara sebagian warga di beberapa pulau hanya merasakan getaran singkat.
  • Ahli menjelaskan gempa tersebut termasuk gempa intraslab dan tidak berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa bumi magnitudo 5,9 yang mengguncang Kepulauan Seribu pada Sabtu, 12 September 2026 kemarin, justru dilaporkan terasa di wilayah yang jauh dari pusat gempa, termasuk Sumatera. Kedalaman sumber gempa yang mencapai sekitar 376 kilometer menjadi faktor utama yang membuat radius getaran terasa lebih luas, meski dampaknya di sekitar Kepulauan Seribu relatif kecil, kata Pakar Kebencanaan Geologi Dicky Muslim.

Peta kawasan Kepulauan Seribu yang menjadi wilayah terdampak getaran gempa bumi pada Sabtu, 12 September 2026. ANTARA/HO-Pemkab Kepulauan Seribu. (Foto: BMKG)

Gempa Dalam Membuat Getaran Menyebar Lebih Luas

Pusat gempa berada sekitar enam kilometer tenggara Kepulauan Seribu, pada koordinat 5,81 derajat Lintang Selatan dan 106,56 derajat Bujur Timur. Namun, kedalaman 376 kilometer membuat karakter gempa ini berbeda dari gempa dangkal yang biasanya lebih mudah menimbulkan kerusakan di dekat episentrum.

Pakar Kebencanaan Geologi sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Dicky Muslim, menjelaskan gempa tersebut termasuk kelompok gempa intraslab. “Itu cukup dalam, 375 kilometer dari permukaan. Magnitudonya 5,9, cukup besar dan terasa sampai ke Sumatra,” ujar Dicky dalam wawancara dengan Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Kesaksian warga menunjukkan adanya perbedaan pengalaman ketika gempa terjadi. Raja, pengusaha kuliner di Pulau Pramuka, mengatakan dirinya baru mengetahui gempa setelah membaca pemberitaan karena tidak merasakan getaran saat kejadian.

“Di pulau sama sekali enggak ngerasain apa-apa. Malah kita tahunya dari berita,” kata Raja kepada Pro 1 RRI Jakarta. Ia juga mengatakan kondisi Pulau Pramuka tetap aman dan tidak ada kepanikan setelah gempa.

Pengalaman serupa disampaikan Mole, nelayan di Pulau Pari. Ia mengatakan sebagian warga tidak mengetahui adanya gempa karena waktu kejadian masih berada di waktu dini hari, meskipun sejumlah tamu atau warga yang sudah terbangun sempat merasakan getaran.

“Justru saya juga tahu dari berita-berita itu, karena saya sendiri tidak merasakan. Mungkin saya lagi tidur,” ucap Mole. Menurut dia, beberapa orang yang sudah bangun untuk melihat matahari terbit merasakan getaran seperti rumah bergoyang selama beberapa saat.

Pakar Kebencanaan Geologi sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Dicky Muslim menjelaskan karakter gempa Kepulauan Seribu melalui Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Senin, 14 September 2026. “Kalau gempanya makin dalam, maka radius terasanya makin lebar,” ujar Dicky. (Foto: Dok. Pribadi)
Bukan Karena Gunung Anak Krakatau

Pertanyaan lain muncul karena Kepulauan Seribu berada di kawasan yang relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Apakah gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas gunung api yang juga perlu mendapat perhatian masyarakat?

Dicky menilai keduanya tidak berkaitan berdasarkan posisi dan kedalaman sumber gempa. Ia menjelaskan titik gempa berada pada zona tektonik yang berkaitan dengan pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, bukan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Jadi mungkin tidak berhubungan kalau menurut saya dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Dicky. Penjelasan ini penting karena gempa tektonik dan aktivitas vulkanik memiliki mekanisme berbeda, meskipun keduanya sama-sama dapat menjadi sumber bahaya di kawasan kepulauan.

Tidak Ada Tsunami, Aktivitas Warga Berjalan Normal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG melalui keterangan resminya yang kami akses pada Senin, 14 September 2026, menyatakan gempa pada Sabtu, 12 September 2026 tersebut tidak berpotensi tsunami. Data yang dipantau kantor berita ANTARA menunjukkan pusat gempa berada pada kedalaman 376 kilometer sehingga karakter guncangannya berbeda dari gempa dangkal yang berpotensi memicu perubahan dasar laut secara signifikan.

Hasil pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kepulauan Seribu, seperti dilaporkan ANTARA, juga menunjukkan tidak ada kerusakan maupun warga yang terdampak. Dari enam kelurahan yang dipantau, sebagian warga di Pulau Panggang, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa sempat merasakan getaran, tetapi tidak ada laporan kerusakan bangunan atau lingkungan.

Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat kembali berjalan normal setelah gempa. Kepala Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kepulauan Seribu, Wachid Wahyudi, mengatakan pelayanan perizinan dan aktivitas usaha tidak mengalami gangguan.

“Alhamdulillah pascagempa kemarin pelayanan, perizinan, penanaman modal, dan semuanya berjalan lancar,” kata Wachid dalam wawancara dengan Pro 1 RRI Jakarta. Ia menyebut petugas pelayanan di berbagai pulau dan titik pelayanan tetap bekerja, sementara masyarakat beraktivitas tanpa kepanikan yang signifikan.

Ilustrasi. Pemandangan udara terumbu karang dan perairan di Kepulauan Seribu Utara, Jakarta.. (Foto: Tom Fisk/pexels)
Apakah Kepulauan Seribu Masih Aman untuk Wisata?

Kondisi pascagempa juga menjadi perhatian karena Kepulauan Seribu merupakan kawasan wisata. Pertanyaan mengenai keamanan perjalanan muncul terutama setelah informasi gempa menyebar melalui media sosial dan pemberitaan.

Raja mengatakan kondisi Pulau Pramuka tetap aman untuk dikunjungi. “Silakan, silakan kalau mau datang ke Pramuka,” kata dia ketika ditanya mengenai kemungkinan wisatawan berkunjung setelah gempa.

Mole juga menyebut aktivitas wisata di Pulau Pari tetap berjalan. Menurut dia, kegiatan seperti snorkeling, menyelam, banana boat, dan speedboat masih dapat dilakukan, meskipun kondisi laut perlu diperhatikan karena pengaruh angin timur dan gelombang.

Wachid mengatakan pemerintah daerah juga terus mendorong masyarakat dan wisatawan tidak ragu melakukan aktivitas di Kepulauan Seribu. “Sampai hari ini terpantau suasana aman, nyaman, baik perjalanan laut menuju ke pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu,” ucapnya.

Waspada Gempa Susulan dan Ancaman yang Berbeda

Tidak adanya kerusakan bukan berarti kewaspadaan dapat dihentikan. Dicky menjelaskan secara teori gempa susulan dapat terjadi setelah gempa utama, tetapi kemunculannya bergantung pada karakter material di bawah permukaan.

Dalam kasus gempa Sabtu, menurut Dicky, hingga Senin, 14 September 2026 belum terdapat informasi mengenai gempa berikutnya dengan kedalaman atau episentrum yang sama. “Kalau dilihat dari informasi yang hari Sabtu kemarin, itu sampai sekarang tidak ada lagi informasi gempa berikutnya di kedalaman yang sama atau di titik episenter yang sama,” ujarnya.

Namun, Dicky mengingatkan masyarakat agar tidak mencampuradukkan ancaman gempa tektonik dengan bahaya Gunung Anak Krakatau. Gunung api tersebut memiliki potensi bahaya tersendiri, termasuk abu vulkanik, lontaran material, dan kemungkinan runtuhan material ke laut yang dalam kondisi tertentu dapat memicu tsunami.

“Yang mungkin juga perlu diwaspadai adalah runtuhan dari produk letusan ini. Jadi dia masuk ke air laut, kemudian di lereng Gunung Anak Krakataunya mengendap. Yang berbahaya itu kalau dia runtuh,” kata Dicky. Ia mengingatkan peristiwa runtuhan material Gunung Anak Krakatau pernah berkontribusi terhadap tsunami di Pandeglang pada akhir 2018.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....