Pati Biji Nangka dan Kulit Bawang Merah Bawa Tim Alnacoat PNJ Lolos Pendanaan PKM-K
- 08 Sep 2026 16:50 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Tim Alnacoat dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). Tim beranggotakan Anggi Nuraini, Aisyah Nur Zahirah, Jie Be Arimbi Ariwantania, Muhammad Rifqi Al-Ghifari, dan Risa Sandy Indriani menciptakan inovasi edible coating berbahan dasar pati biji nangka (Artocarpus heterophyllus) dan ekstrak kulit bawang merah (Allium cepa).
Ide pengembangan Alnacoat berangkat dari permasalahan produk hortikultura yang memiliki masa simpan relatif singkat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas buah dan sayuran serta meningkatkan risiko kerusakan produk selama proses penyimpanan maupun distribusi.
Di sisi lain, biji nangka dan kulit bawang merah merupakan bahan organik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tim melihat potensi kedua bahan tersebut untuk diolah menjadi produk inovatif yang tidak hanya memiliki manfaat dalam membantu mempertahankan kualitas produk hortikultura, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap bahan organik yang sebelumnya kurang termanfaatkan.
“Pati biji nangka digunakan sebagai bahan pembentuk lapisan, sedangkan ekstrak kulit bawang merah ditambahkan sebagai bahan alami yang mendukung fungsi edible coating. Pemanfaatan kedua bahan ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan produk berbasis bahan lokal dengan nilai ekonomi dan keberlanjutan,” ujar Ketua Tim, Anggi Nuraini dalam keterangan resminya, Selasa, 8 September 2026.

Anggi menjelaskan, bersama tim menghadirkan inovasi edible coating dalam bentuk konsentrat cair yang dapat diencerkan sebelum digunakan. Produk diaplikasikan melalui metode perendaman pada buah dan sayuran sehingga penggunaannya praktis dan tidak membutuhkan proses yang rumit.
Lapisan yang terbentuk pada permukaan produk membantu mempertahankan kualitas dan kesegaran selama penyimpanan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan ALNACOAT dapat membantu memperpanjang masa simpan buah dan sayuran dari sekitar lima hari menjadi 12–13 hari pada kondisi penyimpanan 4–5°C.
“Peningkatan masa simpan tersebut berpotensi membantu mengurangi kerusakan produk selama penyimpanan dan distribusi sehingga buah dan sayuran memiliki waktu pemasaran dan konsumsi yang lebih Panjang,” kata Anggi yang dalam pelaksanaan program, didampingi dosen pembimbing, Saeful Imam, A.Md., S.T., M.T.
Menurut Anggi, selain membantu mempertahankan kesegaran produk hortikultura, Alnacoat juga mengusung konsep pemanfaatan bahan organik sebagai bahan baku. Biji nangka dan kulit bawang merah yang sebelumnya kurang termanfaatkan diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi memberikan manfaat secara ekonomi.
“Inovasi ini ditujukan bagi pelaku UMKM buah dan sayuran, pedagang pasar, distributor hortikultura, hingga rumah tangga yang membutuhkan solusi praktis untuk mempertahankan kesegaran produk,” ucapnya.
Melalui pendanaan PKM-K, pengembangan Alnacoat diharapkan tidak hanya menghasilkan produk inovatif berbasis bahan lokal, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi salah satu upaya dalam mengolah bahan organik menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung pengurangan kerusakan dan pemborosan pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....