Hujan Meteor Perseid Terekam Observatorium Timau, BRIN Berikan Penjelasan
- 14 Agt 2026 22:12 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Hujan meteor Perseid yang mencapai puncaknya pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026 lalu berhasil direkam All Sky Camera (ASC) di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur. Fenomena tahunan tersebut terjadi ketika Bumi melintasi gugusan debu yang ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan partikel debu komet yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi akan terbakar pada ketinggian sekitar 70–90 kilometer. Proses pembakaran partikel itulah yang menghasilkan cahaya yang terlihat sebagai meteor di langit.
"Hujan meteor Perseid terjadi karena pertemuan Bumi dengan gugusan debu Komet Swift-Tuttle. Akibatnya, debu-debu yang masuk atmosfer terbakar pada ketinggian sekitar 70–90 kilometer. Debu yang terbakar itulah yang tampak sebagai meteor,” kata Thomas, sebagaimana dikutip dari BRIN, Jumat 14 Agustus 2026.
Ketika Bumi melintasi kawasan yang dipenuhi partikel peninggalan komet tersebut, sejumlah partikel dapat memasuki atmosfer dalam waktu yang relatif bersamaan sehingga meteor tampak muncul dalam jumlah banyak.
Fenomena itu kemudian dikenal sebagai hujan meteor, meskipun material yang menghasilkan cahaya tersebut tidak jatuh hingga ke permukaan Bumi seperti hujan pada umumnya.
Meteor Perseid secara perspektif tampak seolah-olah berasal dari satu kawasan langit di sekitar rasi Perseus yang berada di arah timur laut. Posisi kawasan tersebut disebut radiant, sehingga nama Perseid merujuk pada rasi tempat meteor-meteor itu seolah berasal ketika lintasannya ditarik ke belakang.
Perseid berlangsung dalam periode yang cukup panjang, yakni sejak 23 Juli hingga 20 Agustus 2026, dengan puncak aktivitas pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus.
Masyarakat yang belum sempat menyaksikan puncaknya masih memiliki kesempatan mengamati aktivitas hujan meteor tersebut hingga akhir periode. "Silakan pantau sampai 20 Agustus di situs ASC Obsnas Timau," ujar Thomas.
Pengamatan di Observatorium Nasional Timau turut mendokumentasikan kemunculan meteor Perseid melalui All Sky Camera yang dipasang di fasilitas tersebut. Rekaman itu menunjukkan pemanfaatan fasilitas astronomi untuk memantau dan mendokumentasikan fenomena langit yang berlangsung di wilayah Indonesia.
Secara internasional, Perseid merupakan salah satu hujan meteor tahunan dengan aktivitas tinggi dan berasal dari material Komet 109P/Swift-Tuttle. Kondisi pengamatan pada 2026 juga relatif menguntungkan karena puncak Perseid bertepatan dengan fase Bulan baru, sehingga minim cahaya Bulan membuat meteor yang lebih redup berpeluang terlihat.
Namun, jumlah meteor yang dapat disaksikan masyarakat bergantung pada sejumlah faktor, seperti cuaca, tutupan awan, polusi cahaya, posisi radiant, dan lokasi pengamatan. Pengamat di wilayah Indonesia juga menghadapi keterbatasan karena posisi radiant Perseid lebih rendah dibandingkan pengamatan dari wilayah belahan Bumi utara.
Lokasi dengan pandangan langit yang terbuka dan jauh dari cahaya perkotaan lebih mendukung pengamatan Perseid. Fenomena tersebut juga dapat diamati tanpa teleskop karena meteor dapat terlihat dengan mata telanjang ketika kondisi langit memungkinkan.
Aktivitas Perseid belum berakhir setelah malam puncaknya dan masih dapat dipantau hingga 20 Agustus 2026. Masyarakat juga dapat melihat dokumentasi meteor yang direkam All Sky Camera Observatorium Nasional Timau melalui situs BRIN. (Salwa Basyarewan - Mahasiswa Universitas Gunadarma)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....