Sistim Pengairan Cerdas PNJ, Hasil Panen Petani Naik 31 Persen

  • 09 Agt 2026 20:49 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Program pemberdayaan berbasis masyarakat yang didanai Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026 berhasil membawa angin segar bagi Kelompok Tani Mina Tirta di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Para petani, yang selama ini bergantung pada tenaga manusia untuk mengatur aliran air ke petak-petak yang berjauhan dari sumber air, kini tak perlu lagi bolak-balik ke lahan hanya untuk membuka-tutup saluran air secara manual. Melalui Politeknik Negeri jakarta (PNJ), program ini berhasil mengubah menjadi sistem "pengairan cerdas" dengan menggunakan Smart Direct Gear Motor Operated Valve (SDGMOV), katup air yang bisa dikendalikan lewat aplikasi smartphone.

Ketua pelaksana kegiatan, Muhamad Hanhan Nugraha menjelaskan bahwa selama ini petani menggunakan metode konvensional dalam proses penyiraman tanaman, dengan memikul air lalu menyiramkan ke tanaman, hal ini tentunya akan berdampak pada ketidakseragaman dalam distribusi penyiraman terhadap tanaman dan juga akan berdampak negatif terhadap postur fisik petani di masa yang akan datang.

Dalam pemantauan awal yang dilakukan tim mahasiswa bersama petani mitra pada pertengahan hingga akhir Juli 2026, di petak uji coba seluas empat bedeng, hasil panen rata-rata naik dari 1,45 kilogram menjadi 1,90 kilogram — atau naik 31 persen.

“Menariknya, meski harga jual di tingkat petani justru turun dari Rp37.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, pendapatan kotor tetap naik 25 persen (dari Rp53.200 menjadi Rp66.500) dan pendapatan bersih naik 27 persen (dari Rp49.200 menjadi Rp62.500), karena biaya operasional tidak berubah,” ujar Muhamad Hanhan dalam keterangan resminya, Minggu, 9 Agustus 2026.

Zamzam Rizki Nugraha, salah satu anggota Kelompok Tani Mina Tirta, mengungkapkan bahwa perubahan tersebut langsung dirasakan dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, kehadiran sistem SDGMOV membuat proses pengaturan irigasi menjadi lebih mudah dan efisien.

“Jika sebelumnya petani harus menyiram manual dan memakan waktu lama, kini pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan lebih praktis sehingga menghemat waktu, tenaga, dan memungkinkan petani lebih fokus pada kegiatan budidaya di lahan,” katanya.

Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai Kemdiktisaintek pada tahun anggaran 2026, dengan target akhir mengurangi waktu pengairan hingga 50 persen dan kebutuhan tenaga kerja hingga 50 persen dibanding sistem manual. Kegiatan yang berjalan selama delapan bulan ini mencakup sosialisasi, pelatihan, instalasi sistem, pendampingan, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) pengairan agar petani mampu mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri setelah program berakhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....