AIS dan TED Dorong Perikanan Demersal Berkelanjutan
- 07 Agt 2026 10:22 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- AIS dan TED Dorong Perikanan Demersal Berkelanjutan
RRI. CO. ID, Jakarta - Upaya mewujudkan perikanan demersal yang berkelanjutan terus diperkuat melalui transfer teknologi Automatic Identification System (AIS) dan Turtle Excluder Device (TED) kepada nelayan jaring apolo di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.
“Teknologi AIS ditujukan untuk dapat mengantisipasi terjadinya kecelakaan laut antara kapal nelayan dengan kapal non perikanan yang banyak melintas di perairan Selat Sunda. Selain meningkatkan keselamatan nelayan di laut, data AIS juga dapat dimanfaatkan untuk memetakan daerah penangkapan ikan, pola operasi armada, serta mendukung pengelolaan sumber daya perikanan berbasis data (data-driven fisheries management)”. kata Prof. Adi Susanto dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa selaku ketua tim di Pandeglang, Jumat 7 Agustus 2026 seperti rilis yang diterima RRI.

Indra Supiyono Solihin,S.Pi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten menyampaikan bahwa kapal nelayan kecil yang tidak lengkapi dengan alat navigasi tidak dapat terdeteksi oleh kapal non perikanan yang ukurannya lebih besar.
Hal ini meningkatkan potensi tubrukan laut apalagi saat cuaca buruk seperti yang terjadi antara kapal nelayan dengan kapal tongkang pada Bulan September 2025 yang lalu.
Kapal perikanan yang telah menggunakan AIS akan terdeteksi oleh kapal non perikanan yang sudah dilengkapi dengan alat penerima sinyal AIS.
Selain penggunaan AIS, nelayan jaring apolo memperoleh pelatihan dan pendampingan untuk pemasangan dan pengoperasian TED. Teknologi ini dirancang agar penyu dan biota berukuran besar lainnya dapat keluar dari kantong jaring apolo tanpa mengurangi target tangkapan utamanya. Pemasangan TED dilakukan pada bagian kantong yang wajib menggunakan ukuran mata jaring sebesar 1,5 inci.

Achmad Arif Afandi, S.St.Pi koordinator Satuan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Pandeglang menegaskan bahwa jaring apolo harus bertransformasi menjadi Jaring Hela Dasar (JHD) sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36 Tahun 2023 Pasal 27 ayat 3 dengan pemasangan TED dan menggunakan kantong jaring berukuran minimal 1,5 inci tanpa rangkap.
Penggunaan TED merupakan salah satu bentuk praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab (responsible fishing) sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global.
Kepala Desa Panimbangjaya Ade Nurdin S.E mendukung penuh adanya transfer teknologi AIS dan TED untuk mewujudkan perikanan demersal yang berkelanjutan di Desa Panimbangjaya. Melalui kegiatan ini diharapkan nelayan JHD dapat menerapkan teknologi AIS dan TED sehingga dapat meningkatkan keselamatan di laut, produktivitas penangkapannya menjadi optimal dan kelestarian sumber daya tetap terjaga.
Ketua KUB Cahaya Nelayan, Agus Sirojudin menyambut baik adanya transfer teknologi AIS dan TED untuk nelayan JHD. Keterbatasan pengetahuan dan ketakutan nelayan bahwa penggunaan TED dapat mengurangi hasil tangkapan telah terpecahkan sehingga semua anggota berkomitmen untuk menerapkan teknologi tersebut.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan kelompok nelayan, Desa Panimbangjaya diharapkan dapat menjadi kawasan percontohan penerapan teknologi perikanan berkelanjutan di Selat Sunda.
Keberhasilan program ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya sebagai bagian dari transformasi menuju perikanan yang modern, produktif, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....