Prof. Iwa Garniwa dan Rakhmadi Irfansyah Luncurkan Buku Bumi yang Terjaga
- 22 Jul 2026 15:48 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Upaya memperkuat literasi publik mengenai transisi energi di Indonesia, mendapat momentum baru melalui peluncuran buku Bumi yang Terjaga: Transisi Energi untuk Indonesia yang Berkelanjutan. Buku yang mengupas pelbagai aspek transisi energi itu, resmi diluncurkan dalam sebuah forum diskusi bertajuk "Transisi Energi Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan", yang berlangsung di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Buku itu diketahui merupakan karya Prof. Iwa Garniwa, bersama Rakhmadi Irfansyah Putra. Dengan ketebalan lebih dari 300 halaman, buku itu menyajikan beragam perspektif mengenai ketahanan energi, pengembangan energi baru dan terbarukan, kebijakan, teknologi, investasi, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor, dalam mewujudkan masa depan energi Indonesia yang berkelanjutan.
Dalam acara peluncuran buku itu, Prof. Iwa Garniwa yang juga merupakan Rektor ITPLN, memaparkan lima pesan utama dari buku itu. Menurut Iwa, penguasaan teknologi mutakhir seperti panel surya, turbin angin, hidrogen hijau, hingga jaringan cerdas (smart grid) berbasiskan kecerdasan buatan (AI), hanyalah sekadar alat (tools).
"Transisi energi itu sama dengan perubahan cara berpikir. Bukan sekadar kita merubah fosil menjadi non-fosil. Teknologi hanyalah alat. Arahnya ditentukan oleh manusia, oleh kebijakan kita, dan oleh nilai yang kita pegang," ujar Prof. Iwa Garniwa.
Pesan kedua yang disoroti dalam buku itu adalah, pentingnya menyadari posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dampak pemanasan global dan pencairan es di kutub, akan menghantam negara kepulauan jauh lebih parah, dibandingkan negara daratan di Eropa maupun Amerika.
"Kerentanan geografis ini justru harus dijadikan sebagai basis kekuatan, dan posisi tawar (bargaining position) Indonesia di tingkat internasional. Persoalannya bukan kita tidak punya sumber daya, melainkan bagaimana kita berani mengambil keputusan, konsisten pada kebijakan, dan meningkatkan kualitas SDM," kata Iwa.
Prof. Iwa menggarisbawahi pesan ketiga, label "hijau" atau "bersih" tidak secara otomatis mencerminkan keadilan. Ia menyatakan, transisi energi wajib dijalankan secara adil, inklusif, transparan, dan humanis (just energy transition).
"Kita tidak bisa merayakan energi bersih, sambil membiarkan pekerja tambang kehilangan masa depan. Tidak adil kalau kita melakukan itu. Transisi harus menyediakan pelatihan keterampilan baru, menciptakan ekonomi baru bagi daerah penghasil fosil, serta menjamin akses listrik hingga ke desa-desa tertinggal," katanya.
Pesan keempat menepis pandangan konvensional, yang menganggap ekonomi hijau semata-mata sebagai beban biaya yang mahal. Iwa menjelaskan, persepsi energi fosil terkesan murah selama ini, terjadi karena harganya tidak pernah menghitung biaya eksternalitas nyata. Seperti biaya kesehatan masyarakat akibat polusi, kerugian banjir akibat perubahan iklim, dan kerusakan alam yang diwariskan ke generasi mendatang.
"Sebaliknya, transisi menuju ekonomi hijau justru membuka peluang besar, bagi pertumbuhan industri baru, lapangan kerja berkualitas, dan pembiayaan berkelanjutan. Hingga mekanisme perdagangan karbon (carbon trading), yang mendorong kemandirian bangsa," katanya.
Adapun pesan kelima mengingatkan pentingnya kejujuran akademis, terhadap jejak lingkungan dari teknologi hijau itu sendiri. "Panel surya membutuhkan pemanfaatan lahan dan material tambang, baterai kendaraan listrik memerlukan nikel dan kobalt, sedangkan turbin angin berpotensi mengganggu habitat fauna," katanya.
Oleh sebab itu, Iwa mendesak agar Analisis Siklus Hidup (Life Cycle Analysis), konsep ekonomi sirkular, dan sistem pengelolaan limbah teknologi hijau dijadikan sebagai pilar inti, dalam setiap perencanaan transisi energi. Bukan sekadar catatan kaki atau pelengkap formalitas belaka.
Sementara itu, Managing Director Listrik Indonesia, Irwadhi Marzuki, mengatakan peluncuran buku itu diharapkan menjadi salah satu referensi penting, dalam memperkaya pemahaman masyarakat. Mengenai dinamika transisi energi di Indonesia.
"Transisi energi merupakan agenda strategis nasional, yang membutuhkan dukungan seluruh elemen bangsa. Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui investasi dan pengembangan teknologi, tetapi juga melalui peningkatan literasi publik, agar masyarakat memahami urgensi, tantangan, serta manfaat transisi energi bagi masa depan Indonesia,” katanya.
Listrik Indonesia, lanjutnya, selama ini berkomitmen menjadi mitra strategis, bagi seluruh pemangku kepentingan sektor energi, melalui penyelenggaraan forum diskusi, publikasi. Serta berbagai kegiatan yang mendorong lahirnya gagasan dan kolaborasi, untuk mendukung ketahanan energi nasional.
“Melalui peluncuran buku ini, kami ingin menghadirkan ruang berbagi pengetahuan, yang mampu mempertemukan perspektif pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat. Sehingga tercipta pemahaman yang sama, dalam mendorong sistem energi nasional yang lebih tangguh, bersih, dan berkelanjutan," ucap Irwadhi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....