Blue Moon Muncul Lagi, Ini Fakta Menariknya

  • 30 Mei 2026 13:44 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Langit malam akhir Mei 2026 akan menghadirkan fenomena astronomi yang cukup jarang terjadi, yakni Blue Moon. Fenomena ini menarik perhatian masyarakat karena namanya yang unik dan kembali menjadi perbincangan di berbagai platform digital.

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, melalui laman media sosial instagramnya menjelaskan, Blue Moon yang terjadi pada 31 Mei 2026 merupakan bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender. Purnama pertama telah terjadi pada 1 Mei 2026, sehingga kemunculan purnama kedua pada penghujung bulan membuatnya mendapat sebutan Blue Moon.

Meski demikian, masyarakat kerap salah memahami fenomena ini sebagai perubahan warna Bulan menjadi biru. BRIN menjelaskan bahwa Bulan tetap terlihat putih kekuningan seperti biasanya dan tidak mengalami perubahan warna saat Blue Moon berlangsung.

Fenomena ini sesungguhnya berkaitan dengan siklus fase Bulan yang berlangsung sekitar 29,5 hari. Karena siklus tersebut sedikit lebih pendek dibandingkan panjang rata-rata bulan kalender, sesekali muncul kesempatan terjadinya dua kali bulan purnama dalam satu bulan yang sama.

Data yang dipublikasikan NASA menunjukkan Blue Moon terjadi rata-rata setiap dua hingga tiga tahun sekali. Lembaga antariksa Amerika Serikat itu menjelaskan bahwa sebuah Blue Moon bulanan muncul ketika bulan purnama terjadi dua kali dalam satu bulan kalender, sehingga purnama kedua memperoleh status khusus sebagai Blue Moon.

Laman astronomi Space.com yang kami akses pada Sabtu, 30 Mei 2026 mengatakan, Blue Moon yang muncul esok hari termasuk kategori monthly Blue Moon atau Blue Moon bulanan. Fenomena ini berbeda dengan seasonal Blue Moon yang merujuk pada bulan purnama ketiga dalam satu musim yang memiliki empat kali bulan purnama.

Yang menarik, istilah Blue Moon ternyata telah berkembang menjadi ungkapan populer dalam budaya masyarakat dunia. Karena kemunculannya yang tidak terlalu sering, istilah "once in a blue moon" digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang jarang terjadi.

Namun, apakah Bulan pernah benar-benar tampak berwarna biru? Jawabannya adalah ya, meskipun sangat langka. NASA mencatat Bulan dapat terlihat kebiruan apabila terdapat partikel-partikel sangat kecil dari debu atau asap vulkanik di atmosfer yang menyaring cahaya merah dan membuat cahaya biru lebih dominan terlihat.

Peristiwa serupa pernah tercatat setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883. NASA mencatat debu dan abu vulkanik yang terlempar hingga lapisan atas atmosfer menyaring cahaya merah sehingga Bulan tampak berwarna biru, bahkan kehijauan, di sejumlah wilayah dunia selama berbulan-bulan setelah letusan tersebut.

Untuk Blue Moon 31 Mei 2026, fenomena tersebut tidak akan membuat Bulan berubah warna. BRIN menjelaskan bahwa waktu puncak purnama terjadi pada sore hari di Indonesia, sehingga masyarakat dapat mulai mengamatinya setelah malam tiba ketika Bulan muncul jelas di langit timur.

Selain itu, BRIN mengungkapkan bahwa Blue Moon kali ini akan tampak berdekatan dengan Antares, bintang merah terang yang menjadi salah satu objek paling mencolok di rasi Scorpio. Kedekatan visual ini menjadi daya tarik tambahan bagi para pengamat langit.

Masyarakat tidak memerlukan teleskop atau alat khusus untuk menikmati fenomena tersebut. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang dari lokasi yang memiliki pandangan langit terbuka dan minim polusi cahaya.

"Blue Moon dapat diamati langsung dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus," ujar BRIN melalui unggahan edukasi astronominya. BRIN menambahkan, "Jika cuaca cerah, fenomena ini dapat dinikmati dari seluruh wilayah Indonesia sepanjang malam."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....