Kenapa Lagu Bisa Terdengar “Nendang”?

  • 29 Mei 2026 18:34 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Rahasia utamanya ada di EQ! Teknologi pengatur frekuensi ini bikin vokal lebih jelas, bass lebih dalam, dan musik terasa profesional meski direkam sederhana.

RRI.CO.ID, Jakarta – Equalizer atau EQ menjadi salah satu “senjata rahasia” paling penting dalam dunia produksi audio modern. Teknologi ini tidak hanya dipakai musisi profesional, tetapi juga podcaster, penyiar radio, content creator, hingga editor video untuk membentuk karakter suara agar terdengar lebih nyaman, detail, dan bertenaga.

Dalam dunia audio digital, EQ bekerja dengan cara menaikkan atau menurunkan frekuensi tertentu pada suara. Teknologi ini menjadi dasar penting dalam proses audio mixing dan mastering karena membantu setiap instrumen memiliki ruang tersendiri di dalam lagu. Tanpa EQ, suara vokal, bass, drum, dan instrumen lain mudah bertabrakan sehingga hasil akhir terdengar keruh.

Seorang audio engineer melakukan proses mixing menggunakan equalizer (EQ) untuk mengatur keseimbangan frekuensi suara agar hasil audio terdengar lebih jernih dan profesional. (Foto: Ilustrasi/pexels)

Laman resmi iZotope dalam artikel “Principles of Equalization: How to EQ Your Mix” yang ditulis Nick Messitte yang kami akses pada Jumat, 29 Mei 2026, menjelaskan bahwa EQ merupakan alat fundamental bagi audio engineer untuk membentuk karakter suara. “Dengan equalization, Anda dapat menaikkan atau menurunkan frekuensi tertentu agar elemen audio terdengar lebih jelas, seimbang, dan memiliki karakter tonal tertentu,” tulis Messitte.

Dalam praktiknya, EQ dibagi menjadi tiga area utama yaitu Low, Mid, dan High. Area Low berada pada rentang 20–250 Hz yang bertugas menghadirkan dentuman bass dan rasa “tebal” pada musik. Frekuensi ini biasanya ditempati kick drum dan bass gitar sehingga jika terlalu berlebihan suara menjadi boomy atau pecah.

Area Mid berada di kisaran 250 Hz hingga 4 kHz dan dianggap sebagai bagian paling krusial dalam mixing audio. Mayoritas karakter vokal, gitar, piano, hingga instrumen utama berada di area ini. Banyak engineer menyebut Mid sebagai “nyawa musik” karena kesalahan kecil pada area tersebut dapat membuat lagu terdengar sesak dan tidak jelas.

Sementara itu, area High berada di rentang 4 kHz hingga 20 kHz yang berfungsi memberi detail, kilau, dan kejernihan suara. Cymbal, hi-hat, ambience, hingga napas vokal banyak bermain di area ini. Penambahan frekuensi High secara tepat dapat membuat lagu terasa modern dan bersih, namun jika berlebihan justru membuat telinga cepat lelah.

Pengalaman penulis sebagai Audio Mixing dan Audio Mastering di RRI Jakarta menunjukkan bahwa EQ bukan sekadar membuat suara lebih keras. Dalam proses editing siaran maupun produksi podcast, pengurangan frekuensi di bawah 80 Hz menggunakan high-pass filter sering dilakukan untuk menghilangkan noise meja, dengungan AC, atau getaran mikrofon. Setelah itu area Mid sekitar 2 kHz biasanya dinaikkan sedikit agar vokal penyiar terdengar lebih jelas dan dekat di telinga pendengar.

Teknik serupa juga digunakan dalam produksi musik modern seperti EDM dan pop. Kick drum biasanya diperkuat pada rentang 60–100 Hz agar terasa menghentak, sedangkan bass dipotong di area 200–300 Hz untuk memberi ruang bagi vokal. Pada saat yang sama, synth dan hi-hat ditambahkan frekuensi di atas 10 kHz agar menghasilkan efek sparkle yang kini identik dengan musik digital modern.

Menurut iZotope, salah satu fungsi penting EQ adalah mengatasi frequency masking atau tabrakan frekuensi antar instrumen. Kondisi ini sering membuat kick drum tertutup bass atau vokal tenggelam oleh instrumen lain. “EQ membantu mengatasi muddiness ketika instrumen dengan frekuensi yang saling tumpang tindih bertabrakan,” tulis Messitte dalam artikelnya.

Perkembangan teknologi digital audio workstation (DAW) seperti FL Studio, Ableton Live, dan Adobe Audition membuat penggunaan EQ semakin mudah dipahami oleh pemula. Plugin parametric equalizer kini memungkinkan pengguna melihat spektrum frekuensi secara visual sehingga proses mixing lebih presisi. Bahkan, banyak content creator rumahan mampu menghasilkan kualitas audio profesional hanya dengan laptop dan headphone sederhana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....