Buku Kampus Meretas Batas, Rahasia President University Jadi Kampus Global
- 26 Apr 2026 12:42 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta : President University berhasil berdiri sebagai institusi yang konsisten mencetak sumber daya berstandar global.
Setyono Djuandi Darmono menyampaikan bahwa ide mendirikan kampus internasional muncul dari keresahan sederhana di tahun 1994.
Dimana di dalam kawasan industri yang dibentuknya yakni kawasan Industri Jababeka Cikarang, perusahaan multinasional yang ada membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Namun saat itu kondisi pendidikan tinggi di Indonesia belum benar-benar mampu menjawab tuntutan dunia industri tersebut.
"Berangkat dari kebutuhan kawasan industri akan tenaga kerja terampil, saya menyadari bahwa pendidikan tinggi di Indonesia saat itu belum sepenuhnya menjawab tuntutan dunia industri," ujar Darmono dalam sambutannya saat peluncuran buku Kampus Meretas Batas di President University Cikarang, Rabu, 22 April 2026.

Menurutnya, inspirasi awal sempat datang dari model politeknik di Singapura yang dibangun lewat kolaborasi internasional dengan Jerman, Prancis dan Jepang. Namun keterbatasan sumber daya memaksanya mencari jalan lain, yakni mendirikan universitas dengan jiwa vokasi.
Bukan sekadar memberi gelar akademik, tapi menanamkan keterampilan praktis dan konsep economic survival sejak tahun pertama lewat program magang.
Perjalanan jauh dari kata mulus. Krisis moneter 1998 mengguncang fondasi ekonomi dan menghentikan arus investasi asing.
Namun, menurut Darmono, di tengah ketidakpastian tersebut muncul secercah peluang.
“Saya berpikir, jika industri belum siap datang, maka pendidikanlah yang harus lebih dulu bergerak,” katanya.
Dari keyakinan itulah President University tumbuh, dengan ambisi menjadi institusi berkelas dunia. Bukan hanya lewat nama, tapi lewat komposisi mahasiswa dan dosen internasional yang nyata.
"Tanpa memahami sejarah, mustahil merumuskan masa depan. Dan membaca 18 bab buku ini, saya merasa terharu. Betapa tidak, mimpi saya dan kawan-kawan mendirikan institusi pendidikan tinggi vang lulusannya memiliki economic survival dan good character mampu ditangkap dengan baik oleh Pak Satrijo, terasa benar. Pak Satrijo terlibat secara emosional ketika menulis buku ini," ucap Darmono.
Sang penulis buku, Satrijo Tanudjojo dari kota Paris, dalam jarak yang jauh namun dengan kedekatan gagasan menyatakan bahwa ketertarikan menulis buku bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar dari kegelisahan intelektual yang ia tuangkan sejak awal dalam bukunya tentang pendidikan tinggi di Indonesia yang masih bergulat dengan realitas dunia kerja.
“Memahami sejarah sebuah organisasi berarti memahami nilai, keputusan, dan perjuangan yang membentuk identitasnya, dan dari situlah masa depan bisa diarahkan. Dari titik itulah buku Kampus Meretas Batas lahir, bukan sekadar dokumentasi, tetapi sebagai upaya membangun konteks," ujar Satrijo.

Dalam bukunya, Ia juga mengangkat satu hal yang menurutnya “mengganggu sekaligus menggugah”: sistem pendidikan tinggi Indonesia yang cenderung memakan waktu lebih lama dari yang dirancang.
Baginya, keberanian itu bukan sekadar efisiensi, melainkan filosofi—sebuah sikap untuk berbeda.
“Berani untuk berbeda, berani untuk menembus batas—itulah semangat yang ingin saya tangkap," kata sang penulis yang hadir secara daring.
Prof. Dr. M. Syafi'i Anwar, Dekan Faculty of Social Science and Education President Unuversity menilai kekuatan utama buku ini ada pada kemampuannya menggambarkan universitas bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai entitas pembentuk karakter.
“Narasi dalam buku ini berhasil menampilkan keunikan dan keunggulan komparatif President University sebagai universitas internasional yang berakar di Indonesia,” ucap Syafi'i.
Menurutnya,, buku ini lebih dari sekadar dokumentasi, dimana Kampus Meretas Batas membuka ruang ekspansi intelektual lintas bahasa dan budaya.
"Rencana penerjemahan ke bahasa Mandarin jadi bukti bahwa kisah ini tak hanya relevan secara lokal, tapi juga punya daya tarik global—sejalan dengan visi universitas itu sendiri," ujar Syafi'i.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....