Guru Besar UI Kembangkan Metode Sintesis Hijau

  • 13 Feb 2026 20:50 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, para ilmuwan terus berupaya, agar energi bersih dapat diproduksi dengan ramah lingkungan. Menariknya, salah satu jawaban justru datang dari alam.

Melalui pemanfaatan ekstrak tumbuhan, Prof. Drs. Nofrijon Sofyan, M.Si., Ph.D. mengembangkan metode “sintesis hijau”. Untuk membuat partikel nano titanium dioksida (TiO₂), material penting dalam teknologi panel surya generasi terbaru.

Partikel nano adalah partikel berukuran sangat kecil, sepersejuta milimeter, yang memegang peran besar, dalam meningkatkan kinerja sel surya sensitif zat warna (DSSC), dan sel surya perovskite (PSC). Kedua teknologi itu dikenal sebagai sel surya generasi ketiga yang lebih ringan, fleksibel, dan berpotensi lebih murah dibanding panel surya konvensional.

Menurut Prof. Nofrijon, selama ini pembuatan partikel nano TiO₂, umumnya melibatkan bahan kimia berbahaya, dan proses yang membutuhkan energi tinggi. "Proses tersebut menimbulkan pertanyaan baru, bagaimana mungkin kita berbicara tentang energi bersih, jika materialnya diproduksi dengan cara yang kurang ramah lingkungan?," ujar Prof. Nofrijon dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 Februari 2026.

Untuk itu, katanya, pendekatan sintesis hijau sebagai solusi. Tumbuhan yang kaya akan senyawa alami seperti flavonoid, tanin, dan polifenol, dapat membantu membentuk partikel nano, tanpa perlu bahan kimia beracun.

Ekstrak dari buah ketapang, bunga melati, daun gambir, hingga daun sawit, dapat dimanfaatkan dalam proses itu. Molekul alaminya tidak hanya membentuk partikel nano TiO₂, tetapi juga menjaga ukurannya tetap kecil dan seragam.

"Prosesnya relatif sederhana. Ekstrak tumbuhan dicampur dengan bahan dasar titanium, lalu senyawa alami di dalamnya memicu terbentuknya partikel nano. Hasilnya adalah material yang lebih ramah lingkungan, lebih hemat biaya, dan memanfaatkan sumber daya hayati yang terbarukan," kata Prof. Nofrijon.

Setelah terbentuk, lanjutnya, partikel nano TiO₂ dilapiskan tipis di atas kaca konduktif, sebagai bagian dari sel surya. Dalam sistem itu, TiO₂ berfungsi sebagai jalur transportasi elektron.

"Ketika cahaya matahari mengenai molekul pewarna pada permukaannya, elektron menjadi aktif, dan mengalir melalui lapisan TiO₂, menghasilkan arus listrik. Semakin baik kualitas dan struktur partikel nano, semakin efisien pula proses konversi cahaya menjadi listrik," katanya.

Prof. Nofrijon menyatakan, sintesis hijau membuka peluang produksi material surya, berbasis sumber daya lokal. Artinya, komunitas di berbagai daerah berpotensi memanfaatkan tanaman yang tersedia di sekitarnya, untuk mendukung pengembangan energi terbarukan.

"Model itu memberi harapan bagi percepatan adopsi energi bersih, khususnya di wilayah berkembang. Meski demikian, tantangan tetap ada. Variasi komposisi kimia dalam setiap tumbuhan, dapat memengaruhi konsistensi hasil partikel nano," katanya.

Para peneliti terus mengembangkan metode yang lebih terstandar, agar kualitas material tetap stabil, dan dapat diproduksi secara luas. Terlepas dari tantangan tersebut, sintesis hijau partikel nano TiO₂ menunjukkan, masa depan energi dapat dibangun dengan cara yang selaras dengan alam.

Inovasi itu mempertemukan kimia, biologi, dan rekayasa energi dalam satu tujuan, yakni menciptakan teknologi surya yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan.

Penelitian terkait energi bersih itu, mengantarkan Prof. Nofrijon sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Material Berstruktur Nano untuk Energi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI). Penelitian lainnya seputar energi, antara lain Synergistic Effects of Fluorine and Molybdenum Co-Doping on NMC811 Cathodes Synthesized Via Hybrid SelfCombustion and Solid-State Routes (2025).

Kemudian Sustainable Synthesis of TiO2 Nanoparticles from Gambier Leaf Extract for Enhanced DSSC Photocurrent Response (2025). Dan Jasmine Flowers Extract Mediated Green Synthesis of TiO₂ Nanoparticles and Their Photocurrent Characteristics for Dye-Sensitized Solar Cell Application (2025).

Gelar guru besar Prof. Nofrijon diraih, setelah ia menamatkan pendidikan S1 Kimia, FMIPA Universitas Andalas (1992); S2 Material Sains, FMIPA UI (1999); S2 Materials Engineering, Auburn University, USA (2005); dan S3 Materials Engineering, Auburn University, USA (2008). Saat ini, ia aktif sebagai Ketua Advanced Materials Research Center (AMRC) FTUI, dan Anggota Board Editor, International Journal of Technology.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....