Guru Besar UI Kembangkan Material Bangunan Berbasis Limbah Industri
- 13 Feb 2026 14:44 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Sotya Astutiningsih, M.Eng. sebagai Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan, di Balai Sidang UI, Depok, Rabu, 11 Februari 2026. Dalam pidato pengukuhannya, ia menyoroti lonjakan populasi dunia, meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur, yang berpotensi menekan sumber daya alam.
Karena itu, diperlukan langkah strategis, untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Menurut Prof. Sotya, pemanfaatan bahan baku sekunder adalah salah satu pendekatan kunci, untuk memenuhi kebutuhan produksi bahan bangunan.
Bahan baku sekunder dapat berupa material keluaran dari produk samping, atau limbah yang dimanfaatkan sebagai masukan pada proses produksi lain. Limbah yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan Batubara, misalnya, menyumbang hampir 60% sumber energi di Indonesia.
Residu itu bersifat reaktif, yang dikenal sebagai abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash). “UI berkolaborasi dengan SIG, meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia, sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (SCM, supplementary cementitious materials), maupun sebagai bahan dasar (prekursor) semen geopolymer,” ujar Prof. Sotya dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 Februari 2026.
Prof. Sotya menemukan lebih dari 75% bahan geopolimer, berasal dari limbah seperti abu terbang dan terak. Meski komposisi abu terbang dari tiap pembangkit berbeda-beda, bahan itu lebih hemat karena sudah berbentuk serbuk halus, dan tidak perlu digiling lagi.
Penggunaannya sebagai campuran semen Portland juga lebih mudah diterapkan, dan tetap kuat meski mutu bahan bakunya bervariasi, dibandingkan dengan sistem semen geopolimer. Selain abu terbang, terak feronikel merupakan bahan baku sekunder paling prospektif, untuk agregat beton.
Terak feronikel ditimbulkan dari pengolahan bijih nikel lateritik pada smelter. Berbagai penelitian di UI menunjukkan, mortar maupun beton berbahan terak feronikel sebagai agregat, memiliki kuat tekan lebih tinggi, dibandingkan mortar atau beton berbahan pasir biasa atau pasir kuarsa.
Tim peneliti Fakultas Tehnik UI, membuat formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel, dari proses pembuatan nickel pig iron yang digiling menjadi serbuk halus, dan menggunakan terak feronikel dari proses RKEF, di PT Aneka Tambang sebagai agregat. Dari eksperimen itu, dihasilkan beberapa paten, dan hasilnya dilanjutkan dengan uji coba aplikasi pada produk beton pracetak, bekerja sama dengan PT Jaya Beton Indonesia.
Tak hanya itu, palm kernel shell atau cangkang kelapa sawit (CKS), juga dimanfaatkan sebagai pengganti agregat batu pecah pada beton. Hasil kajian tim peneliti FTUI, yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), menemukan dampak lingkungan dari penggunaan CKS sebagai agregat beton, dibandingkan dengan agregat daur ulang, serta agregat alam bersifat kontekstual, bergantung pada kebutuhan performa mekanis dan aspek geografis.
Dari sisi performanya, beton CKS memiliki kekuatan dan pola keruntuhan, serta perilaku di bawah beban yang mirip dengan beton biasa namun lebih ulet, menjadikannya lebih tahan gempa. Pemanfaatan bahan baku sekunder dalam industri konstruksi, tidak hanya membuka peluang pengurangan limbah industri dan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan material nasional.
Penelitian Prof. Sotya terkait pemanfaatan bahan baku sekunder itu, merupakan bagian dari peta jalan riset berkelanjutan, di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan, yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah publikasi ilmiahnya memperkuat arah riset tersebut, antara lain A Comparative Study of the Life Cycle Assessment of Natural, Recycled and Oil Palm Shell Aggregate Concretes (2025).
Kemudian Mechanical and Physical Characteristics of Oil Palm Empty Fruit Bunch as Fine Aggregate Replacement in Ordinary Portland Cement Mortar Composites (2024). Serta Experimental and Finite Element Analysis of Reinforced Concrete Beams Using Ferronickel Slag as Partial Replacement for Fine Aggregate Under Semi-Cyclic Loading (2024).
Sebelum dikukuhkan sebagai guru besar UI, Prof. Sotya memperoleh gelar Sarjana Teknik dari FTUI pada 1991; M.Eng. in Metallurgy dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia pada 1994. Dan Ph.D in Materials Engineering dari The University of Western Australia, pada 2005.
Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Fisika Material, FTUI (2021–2026). Serta Anggota Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia periode 2024–2027.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....