Tiga Penggerak Pendidikan-Kemanusiaan Raih Frans Seda Awards 2025

  • 11 Des 2025 16:05 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Tiga insan muda yang menjadi penggerak pendidikan dan kemanusiaan meraih penghargaan Frans Seda Awards 2025.

Penghargaan dua tahunan hasil kolaborasi Yayasan Atma Jaya, Unika Atma Jaya dan Frans Seda Foundation diberikan kepada Dissa Syakina Ahdanisa dari Deaf Café Finger Talk & Deaf Car Wash dan Muhammad Aripin dari Rumah Kreatif dan Pintar untuk kategori kemanusiaan serta Empriani Maria Ina Magi dari Sekolah Alam Dyatame untuk kategori pendidikan.

Ketiganya dinilai berhasil menjalankan kerja nyata dalam isu pendidikan komunitas, pemberdayaan perempuan dan disabilitas, arsip budaya, literasi, hingga pembangunan infrastruktur berbasis masyarakat.

Para peraih awards ini merupakan contoh konkret kepedulian sosial yang diwujudkan melalui tindakan—selaras dengan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan harapan yang menjadi inti warisan Frans Seda.

Ketua Panitia Frans Seda Award 2025, Dr. Angela Oktavia Suryani, M.Si. menyampaikan bahwa penghargaan ini bukan hanya tentang apresiasi, tetapi juga tentang menghadirkan ruang perjumpaan bagi para penggerak sosial muda yang membawa perubahan nyata.

“Frans Seda Award ingin mengenali, menguatkan, dan memperluas dampak para pelaku perubahan muda Indonesia. Semangat Frans Seda hidup melalui karya mereka,” ujar Angela Oktavia dalam sambutannya di malam penganugerahaan di Kampus Semanggi, (5/12/2025) yang menjadi bagian dari rangkaian penutup Lustrum XIII Unika Atma Jaya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S. (K) mengatakan bahwa melalui Frans Seda Award, Atma Jaya tidak hanya mendidik, tetapi menghidupkan nilai kemanusiaan.

“Kami bangga mendukung para penggerak muda yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Penganugerahan ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat luas untuk mengenal karya-karya inspiratif generasi muda serta mendorong lebih banyak inisiatif yang mempromosikan pendidikan berkualitas dan keberpihakan pada kelompok rentan,” katanya.

Penghargaan ini merupakan wujud penghormatan terhadap semangat dan keteladanan Frans Seda (1926–2009)—negarawan, pendidik, dan pelayan gereja—yang sepanjang hidupnya menegaskan komitmen “mengabdi Tuhan dan Tanah Air.”

Memasuki kali ke-6 penyelenggaraannya, Frans Seda Award memasuki babak baru dengan semakin banyaknya inisiatif akar rumput yang lahir di tengah komunitas, memperlihatkan kreativitas, empati, dan daya juang generasi muda dalam menjawab persoalan sosial di seluruh Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....