Pasar Global Bergejolak, Aset Utama Tertekan

  • 02 Feb 2026 15:09 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Tekanan di pasar keuangan global semakin dalam setelah aksi jual meluas menghantam komoditas, saham, hingga aset kripto. Dikutip dari Bloomberg.com,  kejatuhan harga logam mulia menjadi pemicu utama memburuknya sentimen pasar dalam perdagangan awal pekan ini.

“Gold extends losses after biggest drop in over a decade,” dikutip dari Bloomberg, Senin, 2 Februari 2026, menggambarkan kondisi emas yang terus melemah setelah mencatat penurunan harian terburuk dalam lebih dari sepuluh tahun. Aset yang selama ini dianggap sebagai pelindung nilai justru tertekan oleh penguatan dolar AS dan meningkatnya kebutuhan likuiditas investor global.

Tekanan paling tajam terjadi pada perak. Bloomberg mencatat, “Silver plunges as much as 12% after record slump on Friday,” menandai salah satu kejatuhan terbesar dalam sejarah perdagangan perak modern. Aksi jual agresif ini mencerminkan derasnya pelepasan posisi di pasar komoditas di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Dampak gejolak komoditas ini merembet ke pasar saham. Bloomberg melaporkan bahwa “futures point to declines for Europe and US shares,” mengindikasikan pembukaan bursa Eropa dan Amerika Serikat yang cenderung melemah. Investor global memilih bersikap defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan kondisi likuiditas.

Di kawasan Asia, tekanan terasa lebih kuat. Menurut Bloomberg, “Asian stocks set for worst two-day drop since early April,” mencerminkan kombinasi keluarnya arus dana asing dan meningkatnya aversi risiko di pasar negara berkembang.

Tekanan juga melanda aset digital. Bloomberg mencatat bahwa “Bitcoin declines to fresh 10-month low in Asia,” memperkuat pandangan bahwa kripto semakin bergerak seiring aset berisiko lainnya, alih-alih menjadi lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menunjukkan pasar global tengah berada dalam fase koreksi yang sensitif. Seperti disorot Bloomberg, pelemahan serentak di berbagai kelas aset menjadi sinyal bahwa investor kini lebih fokus pada manajemen risiko, sembari mencermati arah ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.

Bagi pelaku pasar saham, langkah pertama adalah menerima bahwa fase defensif sedang berlangsung. Ketika likuiditas mengetat dan sentimen global rapuh, menjaga modal menjadi prioritas utama. Rebalancing portofolio ke sektor yang lebih tahan siklus—seperti kebutuhan pokok, utilitas, dan kesehatan—lebih masuk akal dibanding mengejar saham berisiko tinggi. Investor juga perlu meninjau ulang fundamental emiten, memastikan arus kas, rasio utang, dan daya tahan bisnisnya, bukan sekadar terpikat narasi pertumbuhan. Dalam fase ini, kesabaran sering kali lebih menguntungkan daripada transaksi berlebihan.

Sementara itu, bagi pelaku Bitcoin dan aset kripto, realitas pahit perlu diakui: kripto saat ini bergerak sebagai aset berisiko, bukan safe haven. Manajemen risiko menjadi kunci. Penggunaan stop loss, pengaturan ukuran posisi, dan menghindari leverage berlebihan adalah langkah rasional, bukan tanda pesimisme. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan koreksi sebagai fase akumulasi bertahap, bukan all-in emosional, sambil tetap menyadari bahwa volatilitas ekstrem adalah bagian dari DNA Bitcoin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....