Membaca Konflik Iran–Israel–AS dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

  • 11 Apr 2026 21:15 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid menyelenggarakan dialog akademik bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran–Israel–AS dalam Perspektif Perang Global” pada Jumat, 10 April 2026. Forum ini menghadirkan perspektif multidisipliner yang tidak hanya membedah dimensi geopolitik, tetapi juga menyoroti peran komunikasi, media, dan teknologi dalam membentuk realitas konflik global.

KH Fatur Fathurahman Yahya, analis geopolitik timur tengah. Foto: RRI/Yanti

Dalam paparan geopolitik Timur Tengah, KH Fatur Fathurahman Yahya, seorang analis geopolitik timur tengah sekaligus angkatan 29 Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, menekankan bahwa konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak dapat dilepaskan dari ketegangan struktural antara sistem nilai Barat dan karakter sosial-politik kawasan Timur Tengah. Demokrasi, sebagai produk ideologis Barat, tidak selalu kompatibel dengan konteks lokal, sebagaimana terlihat dalam pengalaman di Iran maupun Afghanistan. Dalam konteks ini, posisi strategis Iran melalui Selat Hormuz menjadi faktor krusial yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Lebih lanjut, dinamika kekuatan global menunjukkan adanya pergeseran pengaruh. China dinilai semakin siap secara strategis melalui diversifikasi energi, sementara Inggris mulai memperkuat perannya di kawasan. Di sisi lain, pengaruh geopolitik Amerika mengalami penurunan relatif, terutama pada era kepemimpinan Donald Trump.

Didin Nasirudin, Managing Director Bening Communication. Dok: Pribadi.

Dari perspektif militer-strategis, Didin Nasirudin, Managing Director sekaligus Mahasiswa angkatan 35 Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, menguraikan bahwa konflik ini tidak hanya berbasis kekuatan konvensional, tetapi juga dipengaruhi oleh doktrin keamanan eksistensial Israel. Dengan pengalaman historis seperti tragedi Pemboman Hiroshima, Israel mengembangkan sikap preventif terhadap ancaman nuklir di kawasan. Hal ini menjelaskan berbagai serangan terhadap fasilitas nuklir di negara-negara Timur Tengah.

" Hiroshima pada tahuin 1945, dijatuhi bom hanya 0,07 kg uranium tapi kehancuran hiroshima mencapai 90 persen. TeL aaviv hanya1/17 hiroshima. Dengan teknologi hampir 80 tahun yang lalu hisroshima hancur, apalagi dengan teknologi nuklir saat ini.. Sehingga tidak heran Israel paranoid dengan neghara yang memiliki senjata nuklir", ujar Didin.

Jadi israel takut paranoid dengan nuklir karena hal tersebut.

Didin juga menilai bahwa secara material, aliansi Amerika–Israel memiliki keunggulan signifikan dibandingkan Iran, baik dari segi persenjataan, intelijen, maupun infrastruktur militer global. Namun demikian, faktor domestik menjadi variabel penting, di mana tekanan politik internal di Amerika Serikat dapat membatasi eskalasi konflik jangka panjang.

Henry Sianipar, {roduser Liputan 6 SCTV. Foto: RRI/Yanti.

Sementara itu, Henry Sianipar, Produser Liputan 6 SCTV sekaliguis angkatan 33 Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, menggeser fokus diskusi pada dimensi komunikasi dan media. Ia menyoroti bagaimana perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang digital melalui konstruksi narasi dan framing media. Algoritma media sosial berperan dalam memproduksi realitas yang bias, di mana opini mayoritas—yang seringkali pro-perang—lebih dimunculkan dibandingkan suara kritis.

Fenomena ini sejalan dengan teori framing dalam studi komunikasi, yang menjelaskan bahwa media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara audiens memahami realitas. Dalam konteks ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi instrumen strategis. Amerika Serikat memanfaatkan AI untuk keperluan intelijen dan penargetan militer, sementara Iran menggunakannya dalam produksi konten propaganda, termasuk teknik deepfake.

Lebih jauh, diskursus ini mengarah pada refleksi kritis mengenai implikasi teknologi terhadap eksistensi manusia. Dalam logika algoritmik, individu direduksi menjadi data dan kode, yang dapat dilacak, dianalisis, bahkan dieliminasi secara presisi. Hal ini menegaskan bahwa ancaman terbesar teknologi bukan semata pada kecanggihannya, tetapi pada transformasi cara manusia memaknai dirinya sendiri dalam sistem digital.

Assoc. Prof. Dr. Prasetya Yoga Santoso, Kepala Prodi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, menegaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari upaya akademik untuk memperkaya perspektif mahasiswa doktoral dalam membaca isu-isu global secara kritis dan kontekstual. Dengan mengintegrasikan pendekatan geopolitik, komunikasi, dan teknologi, dialog ini membuka ruang refleksi bahwa konflik modern adalah fenomena kompleks yang tidak dapat dipahami secara parsial.

Secara keseluruhan, diskusi ini menunjukkan bahwa potensi konflik global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh pertarungan narasi, legitimasi, dan kontrol informasi. Dalam era konvergensi media dan teknologi, perang tidak lagi sekadar soal senjata, melainkan juga tentang siapa yang menguasai makna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....