Menhut Turun ke Lokasi Karhutla Ketapang, Ingatkan Jangan Lengah
- 09 Sep 2026 17:38 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Antoni, kembali turun langsung mengecek lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di Kalimantan Barat (Kalbar)
- Menhut mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah, meski jumlah titik panas di Ketapang terus menunjukkan penurunan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Antoni, kembali turun langsung mengecek lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di Kalimantan Barat (Kalbar). Dalam peninjauan itu, Menhut mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah, meski jumlah titik panas di Ketapang terus menunjukkan penurunan. Pengecekkan dilakukan di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa, 8 September 2026.
Menhut Raja Antoni mengatakan, berdasarkan data per malam sebelumnya, 7 September 2026, jumlah hotspot di Ketapang tersisa 13 titik. Penurunan itu, kata Menhut, merupakan hasil kerja bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, KPH, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, serta pihak lainnya.
“Dari data yang ada per malam tadi, hotspot di Ketapang, berkat kerjasama semua pihak, Pak Bupati, TNI, Polri, KPH, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, dan seterusnya. Angkanya terus turun, tinggal 13 hotspot,” ujar Menhut Raja Antoni.
Meski demikian, Menhut meminta, penurunan angka hotspot tidak membuat seluruh pihak, menganggap penanganan karhutla telah selesai. Justru, lanjutnya, sisa titik panas itu harus segera dikejar dan dipadamkan, agar tidak berkembang kembali.
“Tetapi jangan sampai penurunan angka hotspot ini, membuat kita justru menganggap kerjaan sudah selesai. Membuat kita menjadi berleha-leha. Justru momentum mumpung 13, semua harus mengejar titik-titik apinya dan diselesaikan, dipadamkan,” katanya.
Menhut menjelaskan, penanganan karhutla di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api yang terlihat di permukaan, dapat tampak sudah padam, tetapi masih terdapat potensi api di bawah permukaan, yang dapat kembali hidup ketika terjadi angin.
“Tadi temen-temen liat sendiri kan, di gambut itu memadamkan api beda dengan di mineral. Bisa jadi di atas sudah tidak terlihat sama sekali ada api, tapi kadang-kadang masih berasap. Karena tidak ada asap, tapi di bawahnya masih berpotensi untuk hidup kembali ketika ada angin, dan sebagainya,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....