Kemenkes Siapkan Rekomendasi PJJ saat Kualitas Udara Memburuk akibat Karhutla
- 27 Agt 2026 14:53 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kementerian Kesehatan sedang menyiapkan surat edaran yang merekomendasikan pengurangan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan.
- Surat edaran tersebut juga mencakup penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai salah satu langkah adaptif terhadap dampak karhutla.
- Koordinasi telah dilakukan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama, dan diproyeksikan surat edaran akan diterbitkan dalam waktu dua hari ke depan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan surat edaran, yang berisi rekomendasi pengurangan aktivitas di luar ruangan. Termasuk penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ), apabila kualitas udara memburuk akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dikutip dari Antara, Rabu 26 Agustus 2026, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Agama, terkait langkah tersebut. "Jadi memang surat edaran sedang kita siapkan, mungkin dalam dua hari ini akan terbit surat edaran tersebut dari sekjen," ujarnya di Jakarta.
Menurut Then, kebijakan itu disiapkan sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat. Terutama kelompok rentan, dari paparan asap akibat karhutla.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, juga telah mengeluarkan surat edaran kepada para kepala daerah, mulai dari gubernur, wali kota, hingga bupati. Mengenai pemantauan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing. "Disarankan untuk sekolah tidak perlu tatap muka, dengan kondisi ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) yang meningkat," kata Jumhur.
Berdasarkan pemantauan per 22 Agustus, sejumlah wilayah seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan, tercatat mengalami intensitas karhutla yang tinggi. Then menyebut hasil pemantauan terhadap 17 stasiun, menunjukkan adanya kondisi kualitas udara, yang berada pada tingkat berbahaya di beberapa daerah.
"Kondisi yang berbahaya ada di Kabupaten Muaro Jambi, dengan nilai ISPU-nya 302. Kemudian di Palangkaraya, Jekan Raya, di Kalimantan Tengah dengan 573. Ini berbahaya," katanya.
Ia menjelaskan, skor ISPU 0-50 menunjukkan kondisi udara yang baik, sedangkan skor 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat, dan berisiko meningkatkan gangguan kesehatan. Tingginya konsentrasi PM2,5 menjadi perhatian, karena polutan itu dapat menyebar luas, dan meningkatkan risiko bagi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.
"Adanya PM 2,5 yang tinggi, tingkat pajanannya sangat luas, karena di mana-mana udara itu ada tidak ada batasan. Dan kelompok rentan menjadi perhatian kita sama-sama, karena mudah terkena penyakit, dan ini perlunya respons cepat kita semua," katanya.
Menurut Then, dampak paparan polusi tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi polutan. Tetapi juga lama seseorang berada dalam kondisi itu, serta tingkat kerentanan masing-masing individu.
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan. Antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pada mata dan kulit, hingga peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.
Untuk mengurangi dampak kesehatan, Kemenkes mendorong masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan, menggunakan masker, serta rutin memantau informasi mengenai kualitas udara. Masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Selain itu, kesiapan obat-obatan dan fasilitas pelayanan kesehatan perlu diperhatikan. Evaluasi serta skrining kesehatan secara berkala, juga menjadi bagian dari upaya menghadapi dampak buruk karhutla. (Ike Chelia Putri – mahasiswi magang Universitas Gunadarma)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....