Menhut Sampaikan Duka Mendalam, atas Berpulangnya Birute Mary Galdikas

  • 25 Mar 2026 15:50 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Dunia konservasi internasional berduka. Profesor Dr Birute Mary Galdikas, pakar primatologi legendaris, yang mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian orangutan di Indonesia, tutup usia di Los Angeles, Amerika Serikat. Kabar duka itu disampaikan oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam unggahannya di akun Instagram @rajaantoni, pada Rabu, 25 Maret 2026.

Kabar kepergian sosok yang dijuluki sebagai, salah satu dari "Trimates" (tiga peneliti primata perempuan utama dunia), itu disampaikan langsung oleh putra beliau, Fred Galdikas, melalui pesan singkat kepada Menteri Kehutanan. Birute mengembuskan napas terakhir dengan tenang, pada pagi hari waktu setempat, setelah berjuang melawan penyakit kanker paru yang dideritanya.

"Selamat malam Pak, dengan berat hati kami mengabarkan kepergian Ibu saya. Beliau pergi dengan damai tadi pagi di Los Angeles," tulis Fred dalam pesan yang diterima Menhut Raja Juli Antoni.

Kepergian Birute meninggalkan kerinduan mendalam bagi tanah Kalimantan Tengah. Fred mengungkapkan, ibunya sempat menyampaikan wasiat terakhir sebelum berpulang. Beliau ingin dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, bersisian dengan pusara mendiang suaminya, yang merupakan warga lokal.

Keinginan tersebut sempat terhambat oleh kondisi kesehatan Birute. Akibat kanker paru yang dideritanya, ia tidak diizinkan melakukan penerbangan panjang lebih dari lima jam, sehingga kerinduannya untuk kembali menginjakkan kaki di hutan Kalimantan, belum sempat terwujud.

Menanggapi wasiat tersebut, Menteri Kehutanan Raja Antoni, berkoordinasi dengan pihak terkait di Amerika. "Saya sudah mendapatkan nomor kontak Konjen kita di LA dari Pak Umar Hadi (PTRI New York). Saya juga mendapat kabar dari Duta Besar RI di Washington DC, Pak Indroyono Soesilo, yang akan membantu pengurusan administrasi di KJRI LA. Semoga prosesnya berjalan cepat," ujar Menhut.

Raja Juli mengenang pertemuan emosionalnya dengan Birute, di awal masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan. Saat itu, ia memutuskan untuk kembali membuka akses diskusi, bagi para aktivis konservasi, di Gedung Manggala Wanabakti, yang disebut-sebut sempat "tertutup" selama delapan tahun terakhir.

"Ibu yang tangguh itu menangis terharu. Beliau mengingat perjuangan keras yang dilakukan bersama suaminya, selama puluhan tahun. Beliau sangat mengapresiasi terbukanya kembali pintu diskusi, dan ruang kritik bagi para pegiat lingkungan," kata Menhut.

"Indonesia kehilangan salah seorang putri terbaik, yang bekerja keras dalam senyap demi konservasi. Jika hari ini kita melihat Tanjung Puting yang indah, dengan orangutan yang terjaga, di sana ada jejak kaki, dan tangan seorang perempuan berhati keras dan berkomitmen tinggi," ucap Menhut.

Selamat jalan, Prof. Birute Mary Galdikas. Terima kasih atas dedikasi abadi bagi alam Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....