KemenPPPA Dorong Maskulinitas Positif untuk Perlindungan Anak Laki-laki
- 04 Feb 2026 11:20 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan anak laki-laki juga membutuhkan penguatan mental dan emosional serta ruang aman untuk mengekspresikan perasaan. Penegasan itu disampaikan saat pembukaan kegiatan Boys Training & Capacity Building bagi pelajar di Jakarta, pada Selasa 3 Januari 2026.
“Selama ini penguatan psikologis kerap lebih difokuskan kepada anak perempuan sementara anak laki-laki sering dipersepsikan sebagai pihak yang selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kerentanan. Padahal, laki-laki juga manusia yang memiliki emosi dan berhak untuk merasa sedih, takut, serta membutuhkan dukungan dalam menghadapi masalah,” kata Arifah dalam siaran pers yang diterima RRI Jakarta, Rabu 4 Januari 2026.
Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) mencatat sepanjang tahun 2025 lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan berbasis gender. Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 menunjukkan prevalensi kekerasan seksual terhadap anak laki-laki mencapai sekitar 8,34 persen, hampir setara dengan anak perempuan.
Menurut Arifah, data tersebut menegaskan anak laki-laki juga rentan menjadi korban kekerasan di keluarga, sekolah, hingga komunitas. Namun, kuatnya stereotipe maskulinitas membuat banyak korban memilih diam dan tidak memperoleh penanganan semestinya.
Stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk selalu mandiri dan menahan emosi justru berpotensi membebani anak laki-laki dan membuat mereka enggan berbagi cerita. Akibatnya, banyak persoalan pribadi yang dipendam sendiri dan berisiko berdampak pada kesehatan mental serta perilaku sosial remaja.
“Tidak seharusnya ada pemisahan peran yang kaku antara anak laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki peran dan tanggung jawab yang setara dalam masyarakat, serta sama-sama berhak mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan ruang dialog yang aman. Kemen PPPA mendorong adanya konsep maskulinitas positif yang sehat dimana anak dan remaja laki-laki perlu diajarkan untuk mengekspresikan emosi dan menunjukkan empati,” ujar Arifah.
Arifah menekankan peran sekolah sebagai lingkungan strategis untuk deteksi dan pencegahan masalah sejak dini. Guru, khususnya guru bimbingan konseling, didorong aktif mendampingi siswa yang mengalami tekanan psikologis.
Dalam kesempatan itu, Menteri KemenPPPA juga mengapresiasi ECPAT Indonesia atas inisiatif program Boys Initiative: Breaking the Silence. Program tersebut dinilai sejalan dengan mandat penguatan perlindungan anak dan pengembangan maskulinitas positif.
“Para pelajar diharapkan saling peduli dan peka terhadap perubahan perilaku teman di lingkungan sekolah. Saya berharap kegiatan ini dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi muda yang sehat secara mental, setara, dan siap berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” kata Arifah.
Perwakilan Youth Group ECPAT Indonesia, Najwa Athifa Rianja, menjelaskan Boys Initiative bertujuan melindungi anak laki-laki dari kekerasan dan eksploitasi seksual. Program ini juga berupaya membongkar stigma sosial melalui penguatan kapasitas, ruang berbagi, serta kegiatan edukatif seperti pameran seni, talkshow, dan bimbingan teknis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....