Menhut Hadiri United for Wildlife Global Summit

  • 05 Nov 2025 15:24 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli Antoni, menghadiri United for Wildlife Global Summit, dan Pertemuan Tingkat Tinggi Menteri di Rio de Janeiro, Brasil, Selasa (4/11/2025). Menhut Raja Antoni menegaskan kembali komitmen kuat Indonesia, terhadap pengakuan hutan adat.

Dalam sambutannya, Menhut menyatakan, perlindungan keanekaragaman hayati dan percepatan pengakuan hutan adat, merupakan bagian integral dari strategi nasional Indonesia, untuk memerangi kejahatan lingkungan. Dan memperkuat tata kelola hutan berbasis masyarakat.

“Salah satu aspek krusial yang sering terabaikan dalam penanggulangan kejahatan lingkungan, adalah keterlibatan Masyarakat Adat dan masyarakat lokal. Mereka adalah penjaga sejati hutan kita,” ujar Raja Juli Antoni, di hadapan para menteri dan perwakilan dari seluruh dunia.

United for Wildlife Global Summit, dan High-Level Ministerial Roundtable adalah pertemuan bergengsi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Kerajaan Pangeran dan Putri Wales, di Rio de Janeiro, Brasil. Forum itu dihadiri oleh Yang Mulia Pangeran William, beserta delegasi dari berbagai negara, dan organisasi internasional.

Dalam forum tersebut, Menteri Kehutanan menjelaskan, pada Maret 2025, Indonesia telah membentuk Satuan Tugas Khusus Percepatan Pengakuan Hutan Adat. Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto, Menteri Raja Antoni menetapkan target, untuk mengakui 1,4 juta hektar hutan adat baru, selama periode 2025–2029.

Raja Juli Antoni menekankan, pengakuan hutan adat bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap hak-hak Masyarakat Adat, tetapi juga telah terbukti mengurangi laju deforestasi sebesar 30–50 persen, menurut data SOIFO 2024.

“Melalui dukungan untuk tata kelola hutan berbasis masyarakat, Indonesia memperkuat kejelasan hukum, jaminan tenurial, dan keberlanjutan pengelolaan hutan,“ katanya.

“Oleh karena itu, mempercepat pengakuan ini sangatlah penting. Sama pentingnya komitmen kita untuk mengakui Masyarakat Adat dan komunitas lokal,” tambahnya.

Menhut juga menyerukan kerja sama lintas batas, dan pertukaran data global. Hal itu untuk mengatasi kejahatan lingkungan seperti perdagangan satwa liar ilegal dan deforestasi.

Menutup pidatonya, ia menegaskan kesiapan Indonesia untuk menjadi mitra aktif dalam koalisi global, guna menghentikan kejahatan lingkungan. Serta melestarikan warisan alam planet ini untuk generasi mendatang.

“Mari kita melangkah melampaui retorika menuju solidaritas sejati. Indonesia siap berkolaborasi bersama, kita dapat memastikan bahwa warisan alam kita lestari untuk generasi mendatang,” katanya.

Tom Clements, Direktur Eksekutif United for Wildlife, mengatakan pihaknya menyambut baik komitmen berani Indonesia yang baru, dalam mengakui 1,4 juta hektar hutan adat bagi Masyarakat Adat, sebagai bagian dari kepemimpinan berkelanjutannya, dalam mengurangi deforestasi dalam beberapa tahun terakhir. “Ini merupakan contoh kepemimpinan yang menginspirasi, dalam melindungi manusia dan planet ini,“ katanya.

“Dengan mendukung masyarakat lokal, negara ini menunjukkan bahwa tata kelola hutan yang kuat, merupakan kunci untuk mengatasi kejahatan lingkungan, dan melestarikan warisan alam bersama. Kami sangat senang Indonesia memilih untuk mengumumkan langkah penting ini, pada KTT Global United for Wildlife tahun ini, yang bertemakan melindungi para pelestari alam, dan berfokus pada pemberantasan kejahatan lingkungan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....