Rindu Dengan Ka’Bah Terbayar saat Sujud di Lantai Masjidil Haram

  • 19 Jun 2026 13:52 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Wajah-wajah lelah bercampur bahagia memenuhi aula kedatangan, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Jumat 19 Juni 2026. Mereka baru saja kembali dari Tanah Suci, membawa kisah spiritual yang sulit dilupakan.

Sambil menggenggam tasbih di tangannya, Chaerudin mengenang momen saat pertama kali melihat Ka'bah yang berada persis di hadapannya. Kerinduan yang selama ini dirasakan, akhirnya benar-benar terwujud ketika ia sujud di lantai Masjidil Haram.

"Masyaallah, kenikmatan tersendiri ketika kita beribadah di Makkah. Terutama ketika kita pertama kali datang, kita tawaf ya, kita begitu merindukan sekali selama ini kita sholat, kita jauh, sekarang kita betul-betul berhadapan di Ka'bah,” katanya.

Chaerudin juga menghadapi ujian yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Setelah mempersiapkan diri untuk banyak berjalan kaki selama di Tanah Suci, justru cedera pada kaki menjadi hal yang harus ia hadapi dengan ikhlas.

“Saya sudah mempersiapkan diri untuk jalan kaki. Nah, tiba-tiba ujian saya di sana adalah kaki saya keseleo. Itu di luar ekspektasi saya. Kita harus ikhlas menerima setiap ujian, masing-masing orang berbeda-beda," ujar Chaerudin.

Jemaah haji kloter JKG 20, Chaerudin ketika diwawancara RRI Jakarta, di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat 19 Juni 2026. (Foto: RRI/Setyo Agung)

Selama berada di Makkah, ia menempati hotel yang berjarak sekitar 2,2 kilometer dari Masjidil Haram. Karena tidak selalu mendapatkan bus shalawat, ia memilih berjalan kaki menuju masjid sebelum sholat Subuh dan kembali ke hotel usai sholat Isya.

Baginya, perjalanan menunaikan ibadah haji memberikan pelajaran untuk melepas ketergantungan terhadap urusan duniawi. Di padang tandus Arafah, ia merasa diingatkan bahwa pada akhirnya manusia hanya dapat bersandar kepada tuhannya dan menerima setiap ketentuannya.

“Saat di Arafah kita berpanas-panas tapi kita bersabar, kita tidak lagi ketergantungan dengan urusan dunia. Kita semua ketergantungan dengan Allah,” ucap Chaerudin.

Chaerudin tergabung dalam Kloter JKG 20 yang terdiri atas 389 jemaah dan empat petugas. Rombongan tersebut berangkat dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, pada Kamis waktu setempat.

Pesawat yang mengangkut mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat sekitar pukul 02.00 WIB, setelah sempat transit untuk pengisian bahan bakar di India.

Momen saat sekelompok jemaah haji kloter JKG 20 asal Jakarta Selatan mengabadikan kepulangan ibadah haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat 19 Juni 2026. (Foto: RRI/Setyo Agung)

Dari Bandara Soekarno-Hatta, ratusan jemaah itu kemudian diberangkatkan menuju Asrama Haji Pondok Gede untuk menjalani proses debarkasi sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Chaerudin mengaku seluruh proses kepulangan berlangsung lancar dan tertib, termasuk distribusi koper serta pelayanan yang diterima jemaah setibanya di Tanah Air.

Selain sebagai jemaah, ia juga bertugas sebagai ketua regu (Karu) yang memimpin 10 jemaah dalam satu regu. Dalam struktur kloter, empat regu membentuk satu rombongan yang berisi sekitar 40 jemaah.

"Tugas Karu itu pertama memfasilitasi jemaah untuk makan, kemudian terkait kegiatan ibadah dan perjalanan. Kita siapkan supaya jemaah beriringan, tidak ada yang memisah, jadi koordinasi antarjemaah," tuturnya.

Menurutnya, penyelenggaraan haji tahun ini berjalan cukup baik dan fasilitas yang diterima jemaah relatif memadai. Meski demikian, ia berharap cita rasa makanan dapat menjadi perhatian dalam evaluasi penyelenggaraan haji tahun mendatang.

“Menunya memang makanan Indonesia, tapi rasanya seperti bukan rasa Indonesia, bumbunya begitu. Kalau di Madinah itu bumbunya bumbu Indonesia sehingga makanannya habis," ucap Chaerudin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....