Tawuran di Jalur KRL Manggarai, Mengapa Dampaknya Meluas?

  • 24 Agt 2026 11:52 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Tawuran terjadi di kawasan antara Stasiun Manggarai dan Pasar Minggu pada Jumat, 21 Agustus 2026, menyebabkan gangguan operasional KRL Commuter Line lintas Bogor.
  • Perjalanan kereta harus dihentikan dan menunggu kondisi aman sebelum melanjutkan operasional, berdampak pada ribuan pengguna transportasi publik.
  • Gangguan semacam ini menunjukkan bahwa tawuran di sekitar jalur kereta api bukan sekadar bentrokan antarkelompok, tetapi memiliki dampak serius terhadap sistem transportasi perkotaan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Tawuran di sekitar jalur kereta api bukan sekadar persoalan bentrokan antarkelompok. Ketika peristiwa terjadi di dekat rel, dampaknya dapat menjalar ke ribuan pengguna transportasi publik karena perjalanan kereta harus dihentikan atau menunggu sampai jalur dinyatakan aman.

Gangguan semacam itu kembali terjadi di kawasan antara Stasiun Manggarai dan Pasar Minggu, Jumat, 21 Agustus 2026. Perjalanan Kereta Rel Listrik atau KRL Commuter Line lintas Bogor sempat tertahan karena kereta harus menunggu hingga kondisi di sekitar jalur aman, sebelum petugas melakukan penguraian antrean perjalanan.

Fatin Robani Sukmana, perwakilan Komunitas KRL Mania sekaligus pengamat kebijakan publik dari Pusat Studi Visi Nusantara, mengalami langsung gangguan tersebut ketika perjalanan pulang dari Stasiun Cikini. Ia mengatakan kereta yang ditumpanginya semula menunggu perjalanan menuju Manggarai selama sekitar 10 hingga 15 menit tanpa pengumuman.

Menurut Fatin, informasi mengenai gangguan kemudian disampaikan kepada penumpang karena terdapat rintangan perjalanan akibat tawuran di sekitar Manggarai. Ia memperkirakan penumpang mengalami waktu tunggu sekitar satu setengah jam, termasuk proses penguraian setelah perjalanan kembali berjalan. “Kalau ketahan secara keretanya sejam, cuma kita sebagai penumpang itu sekitar sejam setengah,” ujar Fatin dalam wawancara dengan Radio 91,2 FM pada Senin, 24 Agustus 2026.

Masalahnya tidak berhenti ketika satu rangkaian kembali bergerak. Fatin menjelaskan, interval perjalanan KRL yang berdekatan membuat keterlambatan satu perjalanan dapat memengaruhi perjalanan di belakangnya sehingga antrean kereta ikut menumpuk.

“Ketika satu KRL terlambat dengan interval antar-KRL tiga menit, itu kan pasti antarsinyalnya menumpuk terus ke belakang,” kata Fatin. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat penumpukan penumpang terjadi di sejumlah stasiun, antara lain Gondangdia, Juanda, dan Cikini, sementara proses penguraian baru berangsur normal pada malam hari.

Dampaknya Bukan Hanya kepada Penumpang

Gangguan akibat tawuran menjadi lebih serius karena pengguna KRL berada dalam perjalanan pada jam sibuk. Penumpang yang semula memperkirakan perjalanan berlangsung sesuai jadwal harus memilih antara menunggu, mencari moda transportasi lain, atau tetap berada di dalam kereta dan stasiun.

Fatin mengatakan sebagian penumpang memilih meninggalkan stasiun setelah mendapat informasi gangguan, sementara sebagian lainnya bertahan karena rumah mereka jauh dan tidak mudah berpindah moda. “Ada yang memilih moda lain, ada yang memilih menunggu, ada yang memilih makan,” ucapnya.

Dalam kondisi tertentu, kepanikan juga dapat menciptakan persoalan baru. Fatin mengingatkan penumpang agar tidak melakukan tindakan spontan seperti membuka pintu atau memecahkan kaca ketika kereta berhenti karena gangguan keamanan.

“Ketika memang terjadi seperti itu harus rileks dulu, tenang dulu. Ikuti instruksi dari petugas,” kata Fatin. Menurut dia, kepatuhan terhadap arahan petugas menjadi bagian penting dari keselamatan penumpang ketika perjalanan terhenti akibat gangguan di sekitar jalur.

Mengapa Tawuran di Sekitar Rel Menjadi Persoalan Berulang?

Fatin melihat tawuran di kawasan Manggarai bukan persoalan baru. Ia mengatakan pernah mengalami gangguan serupa pada periode sebelumnya, bahkan ketika jenis layanan kereta yang digunakan masyarakat masih berbeda.

“Tawuran di Manggarai itu tetap ada di situ, tidak hilang-hilang,” ujarnya. Karena lokasinya berdekatan dengan jalur kereta, bentrokan tidak hanya membahayakan kelompok yang terlibat, tetapi juga masyarakat sekitar dan pengguna transportasi yang tidak memiliki hubungan dengan konflik tersebut.

Dari perspektif sosial, Fatin menilai tawuran dapat berawal dari gesekan kecil yang kemudian membesar karena solidaritas kelompok. “Tidak jarang kejadian tawuran ini terjadi karena gesekan-gesekan kecil yang memang berdampak besar,” kata dia.

Dampaknya dapat meluas ke lingkungan sekitar. Fatin menyebut masyarakat dapat merasa takut, sementara kendaraan dan fasilitas di sekitar lokasi berpotensi mengalami kerusakan ketika bentrokan terjadi.

Pemerintah Sudah Mencoba Pendekatan Berbasis Ruang Publik

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya menempatkan penyediaan ruang publik sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi tawuran. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada blan Juli 2026 meminta warga menghentikan tawuran dan mengalihkan energi anak muda ke aktivitas yang lebih positif.

Pendekatan itu antara lain diwujudkan melalui fasilitas olahraga. Pemprov DKI meresmikan Arena Ring Tinju dan Skatepark di kolong Flyover Pasar Rebo pada Senin, 18 Mei 2026 sebagai ruang aktivitas bagi anak muda sekaligus upaya mengurangi potensi tawuran.

Pramono mengatakan tawuran di sekitar lokasi tersebut menurun setelah fasilitas olahraga digunakan. “Setelah mempunyai tempat ini, hari ini alhamdulillah tawurannya menurun secara drastis,” ujar Pramono dalam keterangan resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Timur juga memperlihatkan adanya penurunan jumlah peristiwa tawuran. Pemerintah Kota Jakarta Timur mencatat 132 peristiwa tawuran sepanjang 2025, sementara pada 2026 tercatat 55 peristiwa hingga saat fasilitas tersebut diresmikan.

Mengapa Pengamanan Tetap Menjadi Kunci?

Penyediaan ruang olahraga dan aktivitas positif tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Di kawasan yang berbatasan langsung dengan jalur kereta, aspek pengamanan tetap menjadi faktor penting karena satu bentrokan dapat menghentikan perjalanan kereta dan mengganggu mobilitas masyarakat dalam skala lebih luas.

Fatin menilai aparat keamanan perlu hadir untuk mencegah bentrokan berkembang menjadi gangguan yang membahayakan masyarakat. “Peran pemerintah ini cukup besar karena dari keamanan dan sebagainya, kita melihat kemarin tawuran tidak ada aparat hukum, tidak ada aparat keamanan yang ada di sekitar untuk mengurai,” ujarnya.

Bagi pengguna KRL, keselamatan menjadi prioritas ketika perjalanan terganggu akibat kejadian di sekitar rel. Penumpang disarankan tetap berada di dalam rangkaian apabila belum ada instruksi untuk turun dan mengikuti informasi resmi dari petugas.

Fatin mengingatkan penumpang agar tidak mengambil keputusan berisiko karena kepanikan. “Jangan sampai ketika di dalam KRL tiba-tiba panik, pecahin kaca, atau buka pintu, dan sebagainya, itu malah lebih berbahaya,” ucapnya.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....