Bagaimana Komplotan "Rayap Besi" Mencuri Pagar Flyover Kampung Melayu?

  • 08 Jul 2026 13:47 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pencurian pagar besi di Flyover Kampung Melayu menunjukkan pola sindikat terstruktur dengan kelompok pelaku lebih dari lima orang yang menyamar sebagai petugas perawatan taman menggunakan linggis, palu, dan bajaj.
  • Guru Besar Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menyarankan penguatan sistem pengawasan berbasis komunitas yang melibatkan RT, RW, dan masyarakat sekitar untuk mencegah aktivitas mencurigakan sejak dini.
  • Polsek Jatinegara telah menangkap seorang pria berinisial CAT berusia 30 tahun dan terus mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap seluruh kelompok pelaku dan jaringan penadah.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pencurian pagar besi di taman bawah Flyover Kampung Melayu, Jakarta Timur, memunculkan pertanyaan baru. Bagaimana sekelompok pelaku dapat membongkar fasilitas publik secara terang-terangan, mengangkutnya dengan bajaj, bahkan luput dari kecurigaan warga maupun pengawasan di lokasi?

Pencurian ini kata pengamat bukan sekadar tindak kriminal biasa. Kasus ini memperlihatkan bagaimana fasilitas publik dapat dibongkar secara bertahap di tengah aktivitas masyarakat tanpa segera terdeteksi. Berdasarkan laporan kantor berita Antara, warga menyebut pelaku bekerja dalam kelompok berjumlah lebih dari lima orang, membawa linggis dan palu, lalu mengangkut besi menggunakan bajaj sehingga terlihat seperti pekerjaan resmi.

Kriminolog sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global Universitas Budi Luhur, Lucky Nurhadiyanto, menilai pencurian pagar besi di Flyover Kampung Melayu diduga tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi perlu ditelusuri hingga jaringan penadah dan aktor intelektual yang memperoleh keuntungan dari hasil kejahatan tersebut. (Foto: budiluhur.ac.id)

Kriminolog sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global Universitas Budi Luhur, Lucky Nurhadiyanto, menilai pola tersebut menunjukkan adanya organisasi kerja yang lebih rapi dibanding pencurian konvensional. "Saat kemudian ini dijalankan secara terstruktur, rapi, sampai bahkan ada orang yang melakukan pengepulan, tentu ada indikasi sindikat yang tidak hanya mengambil besi, tetapi juga mengolahnya kembali menjadi komoditas ekonomi," ujar Lucky kepada radio 91,2FM Pro 1 RRI Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.

Menurut Lucky, pelaku memanfaatkan persepsi masyarakat yang mengira aktivitas tersebut merupakan pekerjaan perawatan taman. Akibatnya, muncul pembiaran karena warga tidak merasa sedang menyaksikan tindak pidana. Ia menilai kerugian memang tidak langsung dirasakan masyarakat, tetapi dampaknya muncul ketika fasilitas umum yang dibangun dari pajak publik tidak lagi dapat digunakan secara aman.

Lucky mengatakan penyelidikan seharusnya tidak berhenti pada pelaku yang membongkar pagar. Aparat juga perlu menelusuri alur distribusi besi hasil curian hingga pihak yang membeli atau mengolah kembali material tersebut. "Yang harus ditingkatkan eskalasinya bukan hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi bagaimana barang hasil kejahatan itu bisa menjadi nilai ekonomi bagi aktor utamanya," ucapnya.

Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, melihat modus di Kampung Melayu memiliki pola yang berbeda dibanding kasus serupa sebelumnya di sejumlah wilayah Jakarta. Menurut dia, pelaku terlihat memahami waktu yang tepat untuk beraksi, yakni ketika masyarakat sedang sibuk atau menganggap mereka sebagai petugas lapangan. "Saya melihat mereka sudah cukup profesional. Jangan-jangan ada jaringan, termasuk penadahnya. Kalau tidak ada penadah, untuk apa besi-besi itu dicuri secara sistematis," kata Trubus kepada RRI Pro 1 Jakarta.

Trubus menilai lemahnya pengawasan kawasan fasilitas umum turut membuka peluang terjadinya pencurian. Ia menyebut keberadaan CCTV belum cukup apabila tidak diikuti patroli lapangan dan keterlibatan masyarakat sekitar. Menurutnya, RT, RW, komunitas warga, hingga pengelola wilayah perlu menjadi bagian dari sistem pengawasan agar aktivitas mencurigakan dapat segera dilaporkan.

Pandangan serupa juga disampaikan Lucky yang menekankan pentingnya pencegahan berbasis komunitas. Ia menilai kamera pengawas umumnya baru berfungsi setelah kejadian berlangsung, sedangkan pengawasan langsung oleh masyarakat dapat menjadi penghalang pertama terhadap aksi kriminal. "Community empowerment harus ditingkatkan sehingga ketika ada aktivitas mencurigakan, masyarakat menjadi barrier pertama sebelum kejahatan terjadi," ujar Lucky.

Kasus ini juga mendapat perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan laporan Detik, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan penindakan tegas terhadap pelaku pencurian besi fasilitas umum. Ia bahkan menyatakan pelajar yang terbukti mencuri akan dicabut kepesertaan Kartu Jakarta Pintar atau KJP, sementara penerima bantuan sosial yang terlibat dapat dicoret dari daftar penerima. Pramono juga meminta aparat memanfaatkan rekaman CCTV di Jembatan Penyeberangan Orang atau JPO untuk mengidentifikasi seluruh pelaku.

Sementara itu, Polsek Jatinegara seperti diberitakan kantor berita Antara telah menangkap seorang pria berinisial CAT (30) yang diduga terlibat dalam pencurian pagar besi tersebut. Polisi menyebut penyelidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kelompok pelaku lainnya, termasuk kemungkinan adanya jaringan penadah yang menjadi tujuan akhir hasil pencurian. Bagi para pengamat, pengungkapan rantai distribusi inilah yang akan menjawab bagaimana pencurian fasilitas publik dapat berlangsung berulang di berbagai lokasi Jakarta.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....