Generasi Muda Kembali Melirik Kaset dan CD di Era Serba Digital

  • 21 Sep 2026 19:39 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Media analog seperti kaset, CD, piringan hitam, dan perangkat elektronik bergaya retro kembali menarik minat generasi muda sebagai alat penggunaan, koleksi, dan bagian dari gaya hidup.
  • Penjualan CD di Amerika Serikat mencapai 17,5 juta unit pada semester pertama 2026, meningkat signifikan dari sekitar 12 juta unit pada periode yang sama tahun 2025.
  • Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun layanan streaming mendominasi, ada segmen konsumen yang tetap mencari pengalaman dan nilai nostalgia dari produk musik fisik.

RRI.CO.ID, Jakarta – Ketika layanan streaming menjadi pilihan utama untuk menikmati musik, berbagai media analog justru kembali menarik perhatian generasi muda. Kaset, CD, piringan hitam, kamera lawas, hingga perangkat elektronik bergaya retro mulai dilirik, bukan hanya sebagai alat penggunaan, tetapi juga sebagai benda koleksi dan bagian dari gaya hidup.

Fenomena itu terlihat dari meningkatnya penjualan sejumlah produk musik fisik. Berdasarkan data Recording Industry Association of America (RIAA), penjualan CD di Amerika Serikat mencapai 17,5 juta unit pada semester pertama 2026, naik dari sekitar 12 juta unit, pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan piringan hitam juga mengalami pertumbuhan, sedangkan kategori "other physical" yang mencakup kaset, dan sejumlah format fisik lainnya meningkat lebih dari 70 persen. Meski demikian, streaming masih menjadi sumber pendapatan terbesar dalam industri musik.

Menariknya, sebagian konsumen muda membeli kaset atau CD, meskipun tidak memiliki perangkat untuk memutarnya. Hal itu menunjukkan fungsi media fisik telah berkembang, dari sekadar sarana mendengarkan musik, menjadi barang koleksi sekaligus cara menunjukkan selera dan identitas.

Berbeda dengan streaming yang menawarkan kemudahan, dan akses jutaan lagu melalui perangkat digital. Media fisik memberikan pengalaman yang lebih nyata, mulai dari membuka kemasan, melihat sampul dan booklet, hingga memilih album dari rak untuk didengarkan secara berurutan.

Pengalaman itu menjadi salah satu alasan media analog kembali diminati. Aktivitas mendengarkan musik melalui CD atau kaset terasa lebih berwujud, dan disengaja dibandingkan sekadar memilih lagu melalui aplikasi. Di tengah penggunaan teknologi digital yang semakin dominan, sebagian konsumen tertarik pada proses menikmati musik yang melibatkan benda secara langsung.

Koleksi CD dan kaset juga dapat menjadi bagian dari identitas pemiliknya. Album yang sebelumnya hanya tersimpan dalam aplikasi, kini dapat dipajang di kamar, dan memperlihatkan musisi, album, atau genre yang disukai. Rilisan khusus dan edisi kolektor semakin menambah daya tarik, termasuk sejumlah album K-pop, yang pada 2026 menarik perhatian konsumen muda.

Daya tarik retro juga tidak selalu berasal dari nostalgia pribadi. Generasi yang tidak mengalami masa kejayaan kaset dan CD, tetap dapat menganggap benda-benda itu unik karena desainnya.

Kaset, kamera digital generasi lama, pemutar musik portabel, hingga telepon transparan bergaya 1990-an dan awal 2000-an, kini dipandang sebagai bagian dari estetika retro. Karena itu, seseorang tidak harus memiliki kenangan terhadap suatu benda untuk tertarik mengoleksinya.

Kembalinya kaset dan CD, tidak semata-mata menunjukkan keinginan anak muda untuk menggunakan teknologi lama. Pengalaman memegang benda secara langsung, nilai koleksi, desain retro, nostalgia, dukungan terhadap musisi, serta keinginan menikmati musik secara lebih terarah, menjadi sejumlah faktor yang mendorong tren itu.

Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi digital, media analog menawarkan pengalaman berbeda, karena memungkinkan seseorang memiliki, menyentuh, menyimpan, dan memajang benda secara nyata. Tanpa harus meninggalkan kemudahan yang ditawarkan layanan digital. (Ike Chelia Putri – mahasiswi magang Universitas Gunadarma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....