Kamera Jadul Menghidupkan Kembali Kenangan di Era Digital
- 24 Agt 2026 11:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebelum kamera ponsel membuat orang bisa memotret kapan saja, sebuah jepretan harus dipikirkan matang-matang karena jumlah foto terbatas dan hasilnya baru bisa dilihat setelah film dicetak. Kenangan tentang proses tersebut kembali muncul dalam siaran radio RRI Jakarta "Kilau Kenangan" yang dibawakan Eka Fikry pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Kamera jadul ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar bentuknya yang klasik. Ada kisah keluarga, teman sekolah, perjalanan, hingga orang-orang tercinta yang kini hanya bisa ditemui melalui foto lama.

Dari Kamera Film hingga Kamera Digital
Perjalanan kamera sudah berlangsung sangat panjang, mulai dari konsep camera obscura , istilah Latin yang berarti “ruang gelap” atau “kamar gelap”, sekitar tahun 1000 Masehi hingga kamera digital yang kini ada di hampir setiap telepon pintar. Perubahan teknologi tersebut membuat kegiatan memotret semakin praktis, tetapi tujuan utamanya tetap sama, yaitu menyimpan momen.
Kodak menjadi salah satu perusahaan yang ikut membuat fotografi semakin dekat dengan masyarakat. Kamera yang diluncurkan George Eastman pada 1888 menggunakan film yang sudah terpasang sehingga orang dapat memotret tanpa harus memahami teknik fotografi secara mendalam.
Kemudian hadir Kodak Brownie pada 1900 yang membuat fotografi semakin mudah diakses. Amateur Photographer mencatat kamera tersebut memakai roll film yang dapat dipasang kembali oleh pengguna dan hanya dijual dengan harga satu dolar.

Foto Lama Bisa Membawa Kita Pulang
Cerita paling menarik dari kamera jadul justru datang dari pengalaman orang-orang yang pernah menggunakannya. Dalam Kilau Kenangan, pendengar berbagi cerita tentang bagaimana kamera menjadi bagian dari masa kecil dan kehidupan keluarga mereka.
Mbak Meri dari Kemanggisan mengingat saat ayahnya mengajaknya ke rumah nenek dekat pantai. Ia paling senang ketika sang ayah memotretnya menggunakan kamera Polaroid karena hasil fotonya bisa langsung dilihat.
Bang Irwan dari Bekasi juga punya kenangan dengan kamera film. Masa sekolah menengah atas dan kuliah menjadi periode ketika foto bersama teman dan membeli roll film terasa biasa, tetapi kini justru menjadi kenangan yang berharga.
Cerita Pak Anton dari Rawamangun terasa berbeda. Ia mengenang sang mama yang dulu gemar memotret berbagai momen keluarga, sedangkan kini sang mama telah tiada.
Foto-foto lama tersebut akhirnya menjadi lebih berharga karena menyimpan wajah orang yang tidak mungkin ditemui kembali. Eka Fikry menyebut cerita itu sebagai kisah yang “so sweet”.
Dulu Memotret Harus Sabar
Ada satu hal yang mungkin sulit dipahami generasi yang terbiasa dengan kamera digital, yaitu menunggu hasil foto. Setelah roll film habis, seseorang masih harus membawa film ke tempat pencucian dan pencetakan sebelum mengetahui apakah foto yang diambil berhasil.
Karena itu, setiap jepretan terasa lebih penting. Kalau salah mengambil gambar, tidak ada tombol hapus lalu memotret ulang seperti sekarang.
Bu Desy dari Solo masih mengingat kebiasaan membeli roll film ketika keluarga mempunyai momen istimewa. Bahkan, ia mengaku masih hafal wajah pegawai toko tempat film keluarganya dicetak.
Kak Dian dari Bogor justru mengingat rasa kecewa ketika hasil roll film tidak sesuai harapan. Sementara Kak Wati dari Pekanbaru mengenang kamera digital saku sebagai masa ketika orang bisa mengambil foto berkali-kali selama memori belum penuh.

Generasi Muda Kembali Melirik Film
Kamera film ternyata belum benar-benar hilang. Kodak menyebut fotografi film kembali menarik perhatian generasi muda yang mencari pengalaman memotret dengan proses lebih lambat dan karakter gambar yang berbeda.
Pada kamera film, setiap foto memiliki konsekuensi karena jumlah jepretan terbatas. Pengguna harus memilih momen yang ingin disimpan dan tidak bisa langsung mengetahui hasilnya.
Laman Kodak yang kami akses pada Senin, 24 Agustus 2026, juga menyebut foto yang dicetak memiliki nilai khusus karena dapat disentuh, disimpan, dan dilihat kembali oleh keluarga. Foto fisik menjadi jembatan antara kenangan digital yang tidak terlihat dan pengalaman memegang gambar secara langsung.
Kamera jadul akhirnya bukan sekadar barang lama yang disimpan di lemari. Ia menjadi pengingat bahwa sebelum semua serba cepat, memotret pernah menjadi kegiatan yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan sedikit rasa penasaran.
Teknologi Boleh Berubah, Kenangan Tetap Sama
Amateur Photographer mencatat bahwa sejarah kamera menunjukkan perubahan teknologi yang sangat besar. Kamera kayu dan kuningan berkembang menjadi kamera film, kemudian kamera digital, hingga kamera mirrorless dan kamera pada telepon pintar.
Setiap perubahan membawa kemudahan baru. Namun, kebutuhan manusia untuk menyimpan wajah orang terdekat, perjalanan, dan peristiwa penting tetap tidak berubah.
Itulah alasan kamera jadul masih menarik dibicarakan. Bentuknya mungkin tidak secanggih kamera sekarang, tetapi foto yang dihasilkan bisa menyimpan cerita yang nilainya jauh lebih besar daripada perangkatnya.
Foto lama mengajarkan bahwa sebuah gambar tidak harus sempurna untuk menjadi berharga. Kadang, foto yang sedikit buram atau warnanya mulai berubah justru menjadi benda yang paling dicari ketika seseorang ingin kembali melihat masa lalu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....