Asa Membangun Sekolah Catur di Kolong Tol Sungai Bambu
- 27 Jun 2026 18:56 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di bawah naungan beton jalur tol yang bising, sebuah papan catur bukan sekadar tempat melepas penat, melainkan sebuah ruang kelas tanpa dinding. Bagi para pecatur di kawasan Pelumpang, catur adalah ilmu yang tak akan pernah habis dipelajari, bahkan hingga ajal menjemput.
Suryadi (60), salah seorang pecatur senior di lokasi tersebut mengungkapkan bahwa kemahiran dalam catur tidak datang secara instan. Meski telah memiliki pengalaman bertahun-tahun, ia mengaku masih terus belajar setiap hari.
"Catur itu memang tidak ada habisnya pelajarannya. Sampai mati pun tidak ada habisnya. Orang-orang yang kuat dan sering juara saja masih terus belajar," ujarnya sembari menunjuk papan catur di depannya kepada RRI Jakarta, Jumat 26 Juni 2026.
Teknologi vs Manusia
Menariknya, narasumber menyoroti pergeseran cara belajar pecatur di era digital. Jika dulu belajar catur harus melalui guru atau master secara langsung, kini teknologi telah mengambil alih peran tersebut. Penggunaan aplikasi catur dan mesin penganalisis (engine) seperti Stockfish di ponsel pintar kini dianggap jauh lebih efektif.
"Sekarang di HP itu jauh lebih hebat daripada manusia. Juara dunia saja kalau main lawan (aplikasi) HP sudah tidak sanggup, dibuat tidak bisa main. Jadi sekarang lebih praktis belajar di HP, meskipun peran manusia tetap penting untuk penyampaian strategi," tambahnya.
Mimpi Membangun Sekolah Catur
Melihat potensi besar di kolong tol yang sering dikunjungi anak-anak muda, muncul sebuah aspirasi agar tempat tersebut tidak hanya menjadi lapak bermain, tetapi juga pusat pembinaan. Lokasi yang strategis—dekat dengan RPTRA—dinilai sangat cocok untuk dijadikan "Sekolah Catur".
"Harapannya ada perhatian, tempat ini diperbesar supaya bisa ada sekolah catur di sini. Anak-anak muda sekarang banyak yang bagus, seperti Margo (atlet catur) yang dulu sering di sini. Saya sendiri sering melatih kalau ada yang mau, tapi saya tidak mau menawarkan diri, takut dibilang sombong," ungkapnya dengan rendah hati.
Narasumber menyayangkan kurangnya perhatian formal terhadap potensi catur di akar rumput. Padahal, menurutnya, pembinaan sejak dini melalui sekolah catur dapat melahirkan bibit-bibit unggul yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
Filosofi Kerendahan Hati
Di balik ketajamannya menganalisis langkah, pecatur ini menekankan pentingnya adab dalam bermain. Ia memilih untuk tetap rendah hati dan hanya berbagi ilmu jika diminta.
"Di catur itu tidak boleh sombong, nanti dibenci orang. Kecuali ada orang yang percaya dan minta dilatih, saya siap. Dulu waktu muda saya sering dipanggil untuk melatih, tapi sekarang zamannya sudah beda," tutupnya.
Keberadaan komunitas catur di kolong tol Sungai Bambu menjadi bukti bahwa semangat belajar dan intelektual tidak terbatas oleh fasilitas. Dengan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin dari bawah beton tol ini akan lahir Grandmaster masa depan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....