Skakmat di Bawah Beton: Geliat Komunitas Catur Kolong Tol Menembus Level Nasional

  • 27 Jun 2026 12:10 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di bawah naungan beton kokoh jalan tol kawasan Rawabadak, Jakarta Utara, suara klakson dan deru mesin kendaraan tak mampu mematahkan konsentrasi para pria yang duduk melingkar. Di sana, papan catur berpetak hitam-putih menjadi panggung bagi mereka yang mencari hiburan sekaligus mengasah ketajaman otak.

Komunitas ini bukan sekadar perkumpulan warga biasa. Di sinilah Suryadi (60), seorang mantan sopir truk, menemukan jalan hidupnya sebagai pecatur tangguh. Suryadi mulai menekuni catur sejak usia 20 tahun di lapak-lapak pinggir jalan. Siapa sangka, berawal dari hobi, ia berhasil menembus turnamen nasional.

“Awalnya saya ragu karena masih kerja (sopir truk), tapi setelah ikut turnamen, langsung juara tiga tingkat provinsi,” kenang Suryadi kepada RRI Jakarta, Jumat 26 Juni 2026 .

Puncaknya, pada 2019, ia berhasil menduduki peringkat ke-19 nasional dalam turnamen antar-master di Senayan yang diikuti 500 peserta dari seluruh Indonesia.

Meski punya kemampuan setara master, Suryadi memilih tetap menyandang status "Non-Master". Alasannya sederhana: agar ia tetap bisa bertanding di berbagai level turnamen terbuka. Baginya, catur adalah candu positif yang membuatnya tetap bugar di usia senja.

Filosofi Hidup dan Kritik untuk Pemerintah

Tak hanya kaum senior, generasi muda seperti Didi Kurniawan (30) juga rutin menghabiskan waktu di kolong tol ini. Bagi Didi, catur bukan sekadar permainan, melainkan simulasi kehidupan.

“Catur itu analisis. Setiap ada persoalan, pasti ada jawabannya. Setiap langkah harus ada alasannya. Saya kira dalam hidup juga begitu,” ujar Didi dengan filosofis.

Didi dan kawan-kawannya merasa kolong tol adalah tempat paling ideal untuk bermain karena sirkulasi udara yang baik dan perlindungan dari hujan. Namun, di balik kenyamanan itu, terselip kritik tajam terhadap perhatian pemerintah pada cabang olahraga ini.

Didi merasa catur sering dianaktirikan dibandingkan sepak bola. Ia mencontohkan negara-negara maju yang sudah memberikan perhatian khusus pada pembinaan catur sejak dini.

“Harapan saya, pemerintah lebih men-support bakat-bakat yang terpendam. Catur itu tolak ukur sumber daya manusia. Orang yang main catur itu terdidik, kalau tidak terdidik susah main catur,” tegas Didi.

Ia berharap ke depannya ada lebih banyak ekstrakurikuler catur di tingkat SD dan SMP, serta fasilitas pelatihan yang mumpuni. Menurutnya, potensi Indonesia sangat besar, terbukti dengan adanya talenta muda yang mampu berprestasi hingga ke Eropa.

Komunitas catur kolong tol ini menjadi bukti nyata bahwa bakat besar bisa tumbuh di mana saja, bahkan di bawah beton jalan tol yang bising. Mereka hanya butuh satu hal: pengakuan dan dukungan untuk terus melangkah, selangkah demi selangkah, menuju kemenangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....