Buibu Baca Buku Perkuat Literasi Iklim Ibu lewat Aksi Nyata
- 31 Mei 2026 09:09 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Buibu Baca Buku menjalankan program Literasi Iklim untuk Ibu sejak 2024 guna meningkatkan kesadaran dan aksi nyata menghadapi krisis iklim.
- Program telah menjangkau hampir 9.000 penerima manfaat serta memberdayakan lebih dari seratus komunitas dan Taman Baca Masyarakat di 16 provinsi.
- Dalam acara "Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi jadi Aksi", Buibu Baca Buku meluncurkan dua buku baru bertema lingkungan untuk mendukung pembelajaran iklim di lingkungan keluarga.
RRI.CO.ID, Jakarta – Buibu Baca Buku atau BBB terus memperkuat kepedulian terhadap isu lingkungan melalui program Literasi Iklim untuk Ibu sejak 2024. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran para ibu agar berani menyuarakan persoalan krisis iklim sekaligus mengambil aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Komitmen itu disampaikan Pendiri dan Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku, Puty Puar, dalam acara "Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi jadi Aksi" yang berlangsung di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Sabtu, 30 Mei 2026. Menurut Puty, isu perubahan iklim kini semakin mendesak untuk dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para ibu.
"Program kami ini judulnya Literasi Iklim untuk Ibu. Biasanya kami memang ngobrol soal literasi dan pendidikan. Tapi kami melihat isu iklim sekarang semakin mendesak untuk dibicarakan," ujar Puty.
Ia menilai keterlibatan ibu dalam pembahasan kebijakan energi dan lingkungan masih sangat terbatas. Padahal, dampak perubahan iklim justru banyak dirasakan langsung oleh keluarga yang sebagian besar pengelolaannya dilakukan oleh para ibu.
"Kapan ibu-ibu diajak ngobrol? Jarang, kan. Padahal ibu-ibu juga belum tentu memahami isu itu, dan kalaupun bersuara, belum tentu didengar. Yang kami rasakan sekarang, semua orang harus membicarakan isu iklim," ucapnya.
Puty menjelaskan perubahan iklim memiliki kaitan erat dengan persoalan sehari-hari yang dihadapi keluarga. Kenaikan harga pangan hingga gangguan pasokan listrik merupakan contoh dampak yang sering dirasakan masyarakat tanpa menyadari keterkaitannya dengan krisis iklim.
"Ibu-ibu sering ngomongin perubahan iklim, padahal dampaknya paling langsung ke kami. Misalnya harga beras naik, listrik padam yang paling pusing mikir solusinya ya ibu. Tanpa sadar, itu semua terkait perubahan iklim," kata Puty.
Untuk memperluas pemahaman masyarakat, Buibu Baca Buku mengembangkan pendekatan melalui buku anak bertema lingkungan. Cara tersebut diharapkan dapat mendorong proses belajar bersama antara anak dan orang tua di rumah.
"Harapannya, saat anak dibacakan buku, ibunya ikut belajar juga. Jadi proses literasinya jalan untuk dua pihak, anak belajar soal iklim, ibunya juga belajar. Akhirnya ada diskusi di rumah," ujarnya.
Selama dua tahun terakhir, program literasi iklim tersebut telah diintegrasikan ke berbagai kegiatan komunitas, mulai dari diskusi buku, membaca nyaring, lokakarya, lomba resensi, hingga diskusi bersama penulis. Pendekatan tersebut membantu masyarakat memahami isu lingkungan dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Buibu Baca Buku juga telah memberdayakan lebih dari seratus komunitas lokal dan Taman Baca Masyarakat di 16 provinsi. Program ini menjangkau hampir 9.000 penerima manfaat serta didukung lebih dari seratus kolaborator dari berbagai sektor.
Dalam acara tersebut, Buibu Baca Buku turut meluncurkan dua buku terbaru dalam Seri Keluarga Panik, yaitu _“Dari Mana Listrik Berasal?” dan “Makan Apa Hari Ini? Sesuai judulnya, “Dari Mana Listrik Berasal?” menjelaskan sumber energi, sementara “Makan Apa Hari Ini?” membahas perjalanan makanan hingga sampai ke piring kita. Kedua buku disajikan dengan cerita dan ilustrasi menarik, serta dilengkapi panduan aktivitas seru untuk orang tua dan anak.
Acara diramaikan dengan diskusi menarik seputar isu iklim dan lingkungan, mulai dari pangan, transisi energi, kota ramah lingkungan dan bebas polusi, hingga pengembangan karakter peduli lingkungan pada anak dalam ekosistem sekolah maupun keluarga.
Berbagai narasumber berpengalaman turut hadir, antara lain: Agus P. Tampubolon, Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR; Gina Karina, Kepala Sekretariat Koalisi Sistem Pangan Lestari; Muhammad Gibraltar Elmalik, Founder Bijak Kertas Kapten Kepik; Delih Ratnasari, praktisi home schooling Roosie Setiawan, Founder Reading Bugs, Komunitas Read Aloud Indonesia; Ranggi Kanya, Head of Academic Sekolah Murid Merdeka; dan lainnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....