IndoSalto antara Cedera dan Harapan Menjadi Atlet Dunia

  • 25 Apr 2026 11:23 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Bagi Ibu Tri Handayani (37), pemandangan Hafiz, putranya yang berusia 11 tahun, melayang di udara dan melakukan salto di atas lantai semen adalah hal yang mendebarkan. Ada rasa ngeri yang menyelinap setiap kali melihat kaki kecil anaknya mendarat di permukaan keras tanpa alas matras. Namun, di balik rasa khawatir itu, terselip kebanggaan yang jauh lebih besar.

Hafiz adalah satu dari sekian banyak anak di sebuah pemukiman padat Jakarta yang memilih untuk menghabiskan sorenya dengan berlatih akrobatik di komunitas IndoSalto. Di bawah bimbingan Yoga Ardian (Kak Yo) dan asistennya, Acil, anak-anak ini belajar menantang gravitasi.

"Awalnya ya ngeri melihat mereka lompat-lompat gitu. Tapi karena ada pengawasan dari Kak Yo dan Acil, saya jadi tenang. Sampai sekarang, Hafiz nggak pernah ngeluh sakit atau pegal, malah dia yang semangat ngajakin latihan terus," ujar Ibu Tri sambil tersenyum kepada RRI Jakarta, Jum'at 24 April 2026.

Bagi para orang tua di lingkungan tersebut, kehadiran IndoSalto adalah berkah di tengah keterbatasan. Di era di mana gadget seringkali menjadi "candu" bagi anak-anak, kegiatan ini menjadi pelarian positif yang menyehatkan. Sejak bergabung dengan IndoSalto, Hafiz kini lebih disiplin dan jarang bermain ponsel.

Namun, yang membuat Ibu Tri dan warga lainnya terkesan adalah sosok Yoga Ardian. Di mata mereka, Yoga bukan sekadar pelatih, melainkan sosok "atlet dermawan" atau relawan yang tulus berbagi ilmu tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Kak Yo ini baik banget, relawan dia. Kalau di tempat lain kita harus bayar mahal untuk latihan atlet begini, di sini gratis. Padahal ilmunya nggak sembarangan," tambah Ibu Tri.

Meski demikian, kenyataan pahit tetap harus dihadapi. Latihan di gang sempit bukanlah tanpa kendala. Ibu Tri menceritakan bagaimana tawaran bantuan matras dari netizen terpaksa ditolak karena tidak ada ruang untuk menyimpannya. Gang yang mereka gunakan terlalu sempit, dan rumah warga pun tak punya cukup ruang untuk menyimpan perlengkapan olahraga yang besar.

Harapan Ibu Tri kini tertumpu pada perhatian pemerintah. Ia bermimpi anak-anak seperti Hafiz tidak lagi harus bersalto di atas semen yang keras. Ia berharap ada bantuan berupa fasilitas matras yang memadai dan tempat latihan yang lebih layak.

"Cita-cita Hafiz pengen kayak Kak Yo. Saya sebagai orang tua cuma bisa dukung. Mudah-mudahan pemerintah kasih perhatian, minimal kasih bantuan matras atau tempat buat mereka berlatih supaya lebih aman," harapnya.

Dari gang sempit ini, sebuah gerakan kecil telah lahir. IndoSalto bukan hanya soal salto dan akrobatik, tapi tentang bagaimana seorang pelatih yang tulus dan dukungan orang tua yang berani bisa menciptakan ruang bagi mimpi anak-anak untuk melenting lebih tinggi—melampaui kerasnya semen dan sempitnya gang ibu kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....