Sarasehan Kandang Kebo Bedah Warisan Budaya Pertanian
- 17 Apr 2026 17:29 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Komunitas Kandang Kebo kembali menggelar agenda menarik yang menelisik akar kebudayaan agraris melalui kegiatan sarasehan dan blusukan sejarah. Acara ini dirancang untuk membuka wawasan masyarakat mengenai sistem pertanian tradisional yang menjadi fondasi kehidupan nenek moyang di masa lalu. Berlokasi di Sleman, Yogyakarta, para peserta akan diajak berdiskusi sekaligus terjun langsung ke lapangan melihat sisa-sisa kejayaan infrastruktur pengairan kuno. Kegiatan ini menjadi jembatan penting untuk memahami bagaimana kearifan lokal dapat menjawab tantangan ketahanan pangan di era modern saat ini.
Dosen Arkeologi UGM, Andi Putranto, S.S., M.Sc., menjelaskan bahwa teknologi pertanian masa lalu memiliki sistem pemetaan dan manajemen sumber daya yang sangat kompleks. Beliau menekankan bahwa jejak arkeologi seperti keramik dan alat pertanian kuno menyimpan informasi penting mengenai pola hidup masyarakat agraris. "Budaya pertanian kita adalah warisan masa lalu yang menghadapi tantangan besar di masa kini," ungkap Andi dalam persiapan materi sarasehan tersebut.
Senada dengan hal tersebut, Asep Saepudin, S.S., M.A., menyoroti pentingnya melihat sisi religi dan budaya lokal yang melekat pada setiap aktivitas bertani. Beliau menilai bahwa setiap saluran irigasi dan percabangan sungai memiliki nilai filosofis yang mengatur harmoni antara manusia dengan alam sekitarnya. "Sistem pengairan tradisional seperti Selokan Van Der Wijck memiliki peran diplomasi dan teknis yang luar biasa bagi warga sekitar," ujar peneliti lepas tersebut. Melalui penelusuran sejarah ini, diharapkan ada kesadaran kolektif untuk menjaga situs-situs pengairan yang masih berfungsi hingga sekarang.
Agenda sarasehan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 2026, bertempat di Basecamp Komunitas Kandang Kebo yang berada di Ngemplak, Sleman. Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan agenda blusukan ke beberapa titik lokasi bersejarah seperti Penampungan CB Seyegan dan Jembatan Duwet. Para peserta akan menyusuri hilir terowongan Selokan Van Der Wijck hingga titik percabangan dengan Selokan Mataram yang legendaris itu. Seluruh rangkaian acara ini disediakan secara gratis oleh panitia lengkap dengan fasilitas pendukung seperti konsumsi dan materi diskusi bagi para pendaftar.
Antusiasme masyarakat untuk mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat memicu gerakan pelestarian cagar budaya yang lebih masif di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan mengenal lebih dekat infrastruktur warisan masa lalu, warga diharapkan lebih peduli terhadap keberadaan saluran irigasi yang mengairi sawah-sawah mereka. Kegiatan blusukan ini juga menjadi sarana rekreasi edukatif yang menyegarkan pikiran sembari belajar sejarah langsung dari objek aslinya. Mari bergabung dalam perjalanan menelusuri jejak peradaban pertanian nusantara agar warisan berharga ini tidak hilang ditelan arus modernisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....