Musikalisasi Seloko Hidupkan Kearifan Lokal Jambi
- 27 Nov 2025 19:36 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Program Suara Budaya Nusantara menghadirkan tema menarik mengenai musikalisasi seloko dalam dialog budaya yang dipandu oleh Host RRI Jambi, Ansori, dan Host RRI Jakarta, Mariana Suhendi. Dialog ini menghadirkan Marali Rasoki Dalimonte, seorang penggiat budaya sekaligus anggota Pokdarwis Jambi, sebagai narasumber. Siaran yang tersambung melalui jaringan RRI ini mengajak pendengar berpikir bersama tentang cara-cara kreatif melestarikan budaya Jambi di era modern.
Dalam penjelasannya, Marali menyampaikan bahwa seloko adalah sastra lisan khas Jambi yang berbentuk ungkapan, peribahasa, atau petatah-petitih. Seloko sarat dengan pesan moral, etika, hingga nilai religius yang selama ini menjadi pedoman hidup masyarakat. “Seloko itu adalah sastra lisan dari Jambi yang mengandung pesan amanat, petuah, atau nasihat bernilai etik moral religius,” jelas Marali, Rabu, 26/11/2025.
Marali juga menguraikan bahwa seloko memiliki berbagai jenis, di antaranya seloko hukum adat yang berisi aturan beserta sanksi adat, serta seloko perkawinan yang dipakai untuk mengatur prosesi pernikahan adat Jambi. Namun, ia menekankan bahwa tidak semua seloko bisa dimusikalisasi karena sebagian memiliki nilai kesakralan yang tidak dapat dipisahkan dari fungsi ritual adat. “Tentu tidak semua seloko itu bisa dimusikalisasi karena dia sangat sakral,” ujarnya.
Gagasan musikalisasi seloko muncul sebagai upaya memperkenalkan budaya Jambi kepada generasi muda melalui sentuhan kreatif dan modern. Seloko yang dipilih untuk dimusikalisasi biasanya berisi pesan perjalanan hidup dan nilai-nilai moral, seperti ungkapan: “Itian teras bertanggau batu, cermin yang tidak kabur, lantak nanti tidak goyah, tidak laput di hujan, tidak lekang di panas.” Ungkapan ini mengajarkan prinsip keteguhan, kebijaksanaan, dan konsistensi dalam hidup.
Melalui pendekatan musik, seloko diharapkan lebih mudah dipahami dan diterima oleh generasi milenial maupun Gen Z. “Bagaimana kita memperkenalkan kepada gen Z dan milenial, bagaimana kita aransemen seloko itu kekinian sehingga mereka dapat mengikuti pendekatan minat,” terang Marali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....