Majelis Musikal Puitisasi Shiroothol Mustaqiim Padukan Seni dan Dakwah

  • 06 Nov 2025 23:26 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Dari obrolan santai di sebuah warung kopi di Cimone, Kota Tangerang, sekelompok sahabat melahirkan gagasan unik yang memadukan seni sastra, musik, dan dakwah. Gagasan itu kemudian melahirkan komunitas Majelis Musikal Puitisasi Shiroothol Mustaqiim (MPSM) yang resmi dibentuk pada Selasa, 5 Agustus 2025, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah.

Pendiri sekaligus Ketua MPSM, E. Bachtiar Magor, mengatakan komunitas ini lahir dari semangat untuk menghadirkan seni sebagai jalan dakwah yang inspiratif. “MPSM hadir dengan visi mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih mengenal dan menghargai para penyair yang pernah mengisi sejarah bangsa melalui karya-karya bernuansa religi,” ujar Magor dalam wawancara melalui sambungan telepon pada program Obrolan Komunitas Pro 4 FM Jakarta, Selasa, 28 Oktober 2025.

E. Bachtiar Magor, Pendiri & Ketua Majelis Musikal Puitisasi Shiroothol Mustaqiim (MPSM) (Foto: Dokumentasi pribadi)

Menurut Magor, MPSM berupaya memadukan nilai estetika dengan pesan moral dan spiritual. “Kami ingin seni tidak sekadar menghibur, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan nilai dakwah dan moral,” ucapnya menegaskan.

Dalam setiap penampilannya, MPSM mengusung konsep Syiar Syair, yaitu pertunjukan musikal puitisasi yang menggabungkan lantunan puisi, musik, dan pesan-pesan spiritual. Pertunjukan ini tidak hanya menggugah perasaan, tetapi juga menjadi ruang kreatif bagi seniman dan penikmat seni dakwah untuk terus berkarya serta beramal melalui jalur seni.

Kini, MPSM berkembang menjadi komunitas inklusif dengan dukungan anggota baru seperti Suryanto, Maharoji, Coyeh, Gilang, Lidya, Ai Lolita, Rohimin, TB. Muttaqin, dan Wisnoe. Melalui semangat kebersamaan, mereka berkomitmen menjembatani seni dan dakwah agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Magor menegaskan, kehadiran MPSM bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga ajakan untuk merenungi makna hidup dan nilai kemanusiaan. “Kami ingin pertunjukan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan kehidupan dan peradaban manusia,” ujarnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....