Evelyn Ghozalli: Menggambar, Bercerita, dan Menggerakkan Komunitas

  • 26 Apr 2025 17:08 WIB
  •  Jakarta

KBRN, JAKARTA: Menggambar bukan sekadar hobi bagi Evelyn Ghozalli. Melalui ilustrasi, ia membangun cerita, memperkaya dunia buku anak, dan menggerakkan ruang pertemuan lintas komunitas.

Dalam bincang santai di program Jazz dan Cerita Kita bersama Lia Kusumawardani di RRI Jazz Channel pada Kamis, 24 April 2025, Evelyn—akrab disapa Eve—berbagi kisah perjalanannya, dari seorang anak kecil yang gemar menggambar menjadi ilustrator, penggerak komunitas, dan agen literasi anak.

Cinta Ilustrasi Sejak Kecil

Sejak kecil, Eve sudah akrab dengan dunia gambar. Bahkan sebelum lancar membaca, ia bisa berjam-jam menatap ilustrasi dalam buku-buku fabel terjemahan dari Belanda atau Prancis. Gambar menjadi jembatan pertamanya dalam menikmati cerita.

Dukungan keluarga memperkaya kecintaannya pada dunia ini. Setiap kali mendapatkan nilai bagus di sekolah, ayahnya memberinya hadiah berupa buku atau boneka Barbie. "Aku lebih sering pilih buku," cerita Eve. Hadiah-hadiah sederhana ini memperkaya imajinasinya dan memperdalam cintanya pada dunia cerita.

Saat duduk di bangku kelas dua SD, Eve mulai menggambar untuk teman-temannya dan menerima bayaran pertamanya—50 rupiah untuk satu gambar, cukup untuk membeli kerupuk Bangka lengkap dengan sambal.

Menemukan Panggilan di Dunia Buku Anak

Eve melanjutkan pendidikan di Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB. Selepas kuliah, ia sempat terjun ke dunia desain grafis profesional, tetapi hatinya kembali tertarik pada ilustrasi.

Pintu dunia profesional terbuka saat Eve mengilustrasikan sepuluh buku bilingual Little Lily Adventure bersama Arleen Amidjaja. Dari pengalaman itu, Eve belajar bahwa ilustrasi bukan sekadar mempercantik halaman, melainkan memperkaya makna sebuah cerita.

Namun perjalanan sebagai ilustrator tidak selalu mudah. Ia mengalami berbagai tantangan, mulai dari tawar-menawar harga, ketidakcocokan dengan naskah, hingga belajar mengatakan "tidak" pada proyek yang tidak sejalan dengan hatinya. "Kalau ceritanya kuat meskipun bayarannya kecil, biasanya aku tetap ambil. Tapi kalau dua-duanya tidak mendukung, aku belajar untuk menolak," ungkapnya.

Menggerakkan Energi Kolektif Komunitas

Tidak puas hanya berkarya sendiri, Eve turut membangun dan memperkuat berbagai komunitas kreatif. Ia mendirikan Kelir (Komunitas Ilustrator Buku Anak), aktif dalam SCBWI Indonesia (Society of Children's Book Writers and Illustrators), membesarkan TACITA (Festival Cerita Anak), mendukung Gulali Festival, hingga terlibat dalam Tamasja Indonesia untuk seni pertunjukan anak global.

“Lewat komunitas, kita bisa belajar, berbagi, dan membangun jaringan. Semua yang aku jalani sekarang lahir dari energi kolektif itu," ujarnya.

Selain itu, Eve aktif menjadi agen literasi yang memperkenalkan karya penulis dan ilustrator Indonesia ke pasar internasional. "Buku anak Indonesia banyak yang punya kekuatan cerita universal. Aku ingin dunia mengenalnya lebih luas," tambahnya.

Semangat Tanpa Batas dan Mimpi Besar

Saat ditanya kapan ia sempat beristirahat di tengah berbagai aktivitas, Eve hanya tertawa. "Kalau kerja sendiri, capek. Tapi kalau kerja bareng teman-teman yang satu visi, malah tambah semangat," katanya.

Di tengah semua kesibukan, Eve masih menyimpan mimpi besar: membangun semesta dongeng, dunia ilustrasi tempat berbagai cerita dan karakter berjumpa dalam satu dunia kreatif. "Idenya sudah lama ada, tinggal menunggu kapan energinya cukup untuk mewujudkan," ujarnya penuh harap.

Melalui ilustrasi, cinta pada anak-anak, dan energi komunitas, Evelyn Ghozalli terus menghidupkan imajinasi dan memperkaya dunia cerita, meninggalkan jejak inspirasi bagi generasi baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....