Sanggar "Tukang Tabuh" Gambang Kromong

  • 24 Sep 2024 21:48 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Sedikit tersentak ketika mendengar istilah “tukang tabuh.” Dalam idiom pelaku seni ada istilah penabuh dan tukang tabuh sangat bertolak belakang. Menjiwai sepenuh hati sebagai pemain dan sekedar menggugurkan kewajiban bermain musik yang hanya berharap imbalan jasanya.

Selasa; 24 September 2024, tepat pukul 20.15 WIB, dari Studio Pro IV Gedung Depan LPP RRI Jakarta, Apresiasi Budaya Sunda, Apdaun menghadirkan narasumber Imam Firmansyah, S.Sn., Pengajar Seni, Dosen DKV Universitas Mercubuana, dan Ketua Sanggar Tukang Tabuh Jakarta. Impian seorang musisi dalam sebuah orchestra adalah keamanan kerja, gaji yang baik, tunjangan kesehatan, dan kesempatan untuk bermain secara teratur. Dilain sisi musisi orchestra menganggap bahwa orkestra adalah salah satu kuil pemujaan musik murni terakhir yang ada. Sangat jelas bedanya untuk kebutuhan lahiriyah dan keterpenuhan kebutuhan batiniah.

Tukang Tabuh yang dimaksudkan oleh Imam Firmansyah adalah kegelisahan karena tergerusnya kesenian Gambang Kromong di wilayah Jakarta, karena semakin sedikit penanggap gambang Kromong di Jakarta. Sanggar Tukang Tabuh berinisiatif untuk menangkap ekosistem baru masyarakat Jakarta yang berakar pada Budaya Betawi. Budaya Betawi semakin terkikis, sehingga Sanggar Tukang Tabuh melayani berbagai genre musik masyarakat Betawi yang tersisa di Jakarta. Melayani pembaharuan musik Gambang Kromong dengan memasukkan musik modern seperti dangdut, dan musik Nusantara yang lain seperti Jaipong, Minang dan Jawa.

Kondisi keberlangsungan musik Gambang Kromong dipastikan hanya dari Dinas Kebudayaan Jakarta, untuk pembukaan suatu acara saja. Peminat dari penduduk Betawi di Jakarta hampir dipastikan tidak ada lagi. Fenomena ini dipengaruhi banyak hal, seperti berkurangnya penduduk Betawi di wilayah Jakarta, juga karena lahan untuk menggelar kesenian Gambang Kromong semakin hilang. “Fenomena yang menyakitkan adalah kalah murah secara financial dan kalah penampilan dengan organ tunggal yang lebih menawarkan good looking penyanyinya.” ujar Imam Firmansyah.

Sanggar Tukang Tabuh bermain di berbagai disiplin musik Nusantara untuk menyikapi kesenian Gambang Kromong tetap eksis melayani penduduk Jakarta. Linier dengan musik Gambang Kromong yang juga terjadi karena gabungan dari berbagai disiplin musik Tionghoa dan gamelan Nusantara. Semula Gambang Kromong berasal dari orkes Gambang Tionghoa yang dikenal di Jakarta sekitar abad 18. Terdiri dari alat musik Gambang, empat alat musik gesek dan seruling tionghoa. Oleh komunitas masyarakat daerah Senen, dimasukkan alat musik Nusantara, yaitu kendhang, gong, dan bonang yang mereka sebut kromong. Setelah masuknya alat musik Nusantara, orang Pribumi Betawi baru menyukainya. Akhirnya melebur menjadi kesenian yang bernama Gambang Kromong.

Bukan hal yang mengejutkan, jika penyangga kesenian Gambang Kromong adalah di daerah Cina Benteng di Tangerang, karena semua peristiwa budaya Tionghoa di Cina Benteng masih melibatkan kesenian Gambang Kromong. Merupakan bentuk prestise apabila menggelar Kesenian Gambang Kromong. Jika ingin mendengarkan Lagu Pobin Kong Ji Lok, Pobin Poa Si Li Tan tidak lagi di daerah Jakarta. Kita harus meluangkan waktu ke daerah Cina Benteng Tangerang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....