7 Film Animasi yang Bikin Kita Peduli Terhadap Satwa
- 07 Okt 2026 13:59 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Karakter hewan dalam film animasi tidak selalu hadir hanya untuk membuat cerita menjadi lucu atau menghibur. Sejumlah film justru menjadikan satwa, kepunahan spesies, perdagangan hewan liar, dan kerusakan lingkungan sebagai bagian penting dari cerita.
Salah satu contoh dari Indonesia adalah Riki Rhino: Kerajaan Burung. Film ini mengangkat Badak Sumatera dan menjadi konteks menarik karena memperlihatkan bagaimana satwa langka Indonesia bisa dikembangkan menjadi karakter animasi sekaligus membawa pesan mengenai lingkungan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai animasi memiliki potensi untuk memperkenalkan isu konservasi kepada masyarakat. “Riki Rhino merupakan karya yang mengangkat salah satu spesies langka Indonesia, yaitu Badak Sumatera, ke layar lebar,” ujar Irene melalui keterangan tertulisnya di Jakarta pada Selasa, 7 Oktober 2026.
Kalau melihat film animasi dari berbagai negara, Riki Rhino ternyata bukan satu-satunya karya yang membawa isu perlindungan satwa. Berikut tujuh film animasi yang bikin kita peduli satwa:

1. Finding Nemo Bikin Dunia Laut Jadi Cerita
Siapa yang tidak kenal Nemo? Film ini mengikuti petualangan seekor ikan badut dan ayahnya, tetapi di balik kisah tersebut terdapat gambaran mengenai kehidupan satwa laut dan persoalan yang dapat mengancam ekosistem.
Kajian Sage Publications memasukkan Finding Nemo sebagai salah satu film animasi yang berkaitan dengan isu konservasi. Film tersebut dapat membuka pembicaraan mengenai perdagangan satwa laut, pencemaran, dan penangkapan ikan berlebihan.
2. Rio Membawa Isu Perdagangan Satwa
Rio menjadikan burung makaw Spix sebagai salah satu karakter penting dalam ceritanya. Di balik petualangannya, film ini juga membawa persoalan perdagangan satwa liar dan ancaman terhadap spesies yang terancam.
Kajian Sage Publications menyebut Rio sebagai contoh film yang menggunakan karakter satwa sekaligus memasukkan persoalan konservasi ke dalam cerita. Dengan cara tersebut, isu yang biasanya terasa serius bisa dikenalkan melalui cerita yang lebih dekat dengan penonton.
3. Kung Fu Panda Kenalkan Satwa Asia
Po memang terkenal sebagai panda yang jago bela diri. Namun, penggunaan panda dan beberapa satwa lain membuat Kung Fu Panda ikut memperkenalkan spesies nyata kepada penonton dari berbagai negara.
Kajian Sage Publications mencatat beberapa spesies yang menjadi dasar karakter dalam film tersebut merupakan satwa yang menghadapi persoalan konservasi. Meski begitu, film tetap merupakan karya fiksi sehingga informasi mengenai kondisi satwa di dunia nyata perlu dicari dari sumber konservasi yang tepercaya.

4. Madagascar Pamerkan Biodiversitas
Madagascar membawa lemur dan berbagai satwa lainnya ke layar melalui cerita komedi dan petualangan. Film tersebut membuat penonton internasional semakin akrab dengan sejumlah satwa yang berkaitan dengan ekosistem Madagaskar.
Kajian Sage Publications memasukkan Madagascar sebagai salah satu animasi yang menampilkan keanekaragaman hayati tropis. Namun, peneliti juga mengingatkan bahwa gambaran habitat dalam film bisa dibuat lebih ideal dibanding kondisi alam sebenarnya.

5. Spycies Bicara soal Perubahan Iklim
Spycies menggunakan karakter hewan dalam cerita aksi yang juga membawa isu perubahan iklim dan kepunahan spesies. British Film Institute mencatat dua karakter utamanya terlibat dalam petualangan yang berkaitan dengan ancaman terhadap lingkungan.
Film ini memperlihatkan bahwa isu konservasi bisa dikemas dalam cerita yang penuh aksi. Pesan lingkungan tidak harus selalu disampaikan dalam bentuk dokumenter atau cerita yang serius.
6. The Missing Lynx Melawan Pemburu
The Missing Lynx membawa kisah kelompok satwa terancam yang berhadapan dengan pemburu. Ceritanya menggunakan aksi, humor, dan karakter hewan untuk membicarakan hubungan manusia dengan alam.
Common Sense Media menilai tema spesies terancam dalam film tersebut dapat menjadi bahan diskusi mengenai hubungan manusia dengan alam dan satwa. Dengan kata lain, cerita hiburan juga bisa menjadi awal percakapan tentang konservasi.
7. Riki Rhino Bawa Satwa Indonesia
Riki Rhino: Kerajaan Burung hadir dengan karakter yang dekat dengan kekayaan alam Indonesia, yaitu Badak Sumatera. Ceritanya kemudian diperluas melalui perjalanan Riki dan Beni dari Kalimantan menuju Papua untuk menghadapi ancaman terhadap ekosistem pesisir.
Film tersebut dikembangkan melalui observasi di Sumatran Rhino Sanctuary, Taman Nasional Way Kambas. “Film animasi tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga dapat menjadi penggerak konservasi dan membuka peluang pengembangan IP,” kata Irene.
Waralaba Riki Rhino juga sudah mencoba menjangkau penonton internasional. Film pertamanya telah didistribusikan ke sejumlah negara, sedangkan Riki Rhino: Kerajaan Burung telah diperkenalkan di Timur Tengah, Turki, Amerika Serikat, dan Kanada.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop nasional pada 2027. Kehadirannya menjadi contoh bahwa cerita mengenai satwa Indonesia dapat dikemas dalam animasi dan dibawa ke pasar yang lebih luas.
(Cecep Ilham, peserta magang RRI Jakarta berkontribusi menyusun artikel ini)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....