Hampir Seabad, Miss Tjitjih Terus Jaga Tradisi Seni
- 17 Sep 2026 18:00 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih telah mempertahankan seni teater tradisional Sunda selama hampir satu abad dengan terus menghadirkan pertunjukan berkualitas.
- Kelompok kesenian ini berasal dari Opera Valencia yang berdiri pada dekade 1920-an dan mengalami transformasi nama setelah bergabung dengan Nyi Tjitjih di Sumedang.
- Perkumpulan membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar dan mempelajari seni teater tradisional Sunda sebagai upaya pelestarian budaya lokal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih terus mempertahankan seni teater tradisional yang telah berjalan hampir satu abad. Kelompok kesenian ini tetap membawa unsur budaya Sunda dalam pertunjukan sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar seni.
Ketua Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih Sudariana mengatakan, sejarah kelompok tersebut bermula dari Opera Valencia, kelompok teater keliling yang berdiri pada dekade 1920-an. Dalam perjalanannya ke Sumedang, rombongan bertemu Nyi Tjitjih yang kemudian bergabung dan membuat nama kelompok berubah menjadi Miss Tjitjih Tonil Gezelschap.
“Yang dulunya berbahasa Melayu, kini teater ini kental dengan unsur berbahasa Sundanya,” ujar Sudariana.
Pada 1928, kelompok tersebut pindah ke Jakarta dan Nyi Tjitjih semakin dikenal sebagai primadona panggung. Setelah Nyi Tjitjih meninggal dunia di atas panggung pada 1939, namanya tetap digunakan sebagai identitas kelompok kesenian.
“Sejak saat itulah sosok Nyi Tjitjih ini menjadi inspirasi buat kita semua,” katanya.
Miss Tjitjih sempat kehilangan gedung kesenian akibat kebakaran dan harus berpindah tempat untuk tetap menggelar pertunjukan. Gedung tersebut kemudian kembali dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2004 dan kini berada di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Sudariana mengatakan, Miss Tjitjih tidak hanya menampilkan cerita horor yang selama ini dikenal masyarakat, tetapi juga mengangkat kisah babad, pewayangan, percintaan, persilatan, serta kehidupan sehari-hari. “Hits-nya kita tetap di horor, karena itu yang sering diminta oleh masyarakat,” ujarnya.
Di tengah perkembangan zaman, unsur tradisi seperti tarian dan identitas budaya Sunda tetap dipertahankan, sementara teknologi digunakan untuk mendukung tata suara dan suasana pertunjukan. Regenerasi juga terus dilakukan dengan membuka latihan bagi anak-anak, remaja, hingga masyarakat yang belum memiliki dasar seni.
“Yang nol, tidak punya basic tetap bisa belajar ke sini, karena Miss Tjitjih terbuka untuk semua kalangan,” kata Sudariana.
Saat ini sekitar 137 orang masih terlibat dalam kegiatan Miss Tjitjih sebagai pemain, penari, pemusik, dan pendukung pertunjukan. Sudariana berharap semakin banyak ruang diberikan kepada seniman agar kesenian tradisional dapat terus berkembang.
“Permintaan yang paling besar adalah berikanlah ruang-ruang yang lebih luas untuk seniman untuk berkarya,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....