Tari Keroncong Nusantara Massal di Kota Tua, Momentum menuju Identitas Global
- 15 Sep 2026 17:43 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) mencetak tonggak sejarah baru dalam upaya mengangkat kembali kejayaan musik keroncong di tanah air. Sebanyak 500 wanita tampil memukau dalam pergelaran massal membawakan "Tari Keroncong Nusantara" di kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Pergelaran akbar ini dirancang untuk memastikan irama keroncong semakin dicintai, hidup, dan berkembang di tengah masyarakat luas.
“Tari Keroncong Nusantara merupakan buah kolaborasi karya musik dari lagu berjudul "Irama Senja", dipadukan dengan gerak dasar tari garapan para seniman terkemuka dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) mulai dari Gita Novia Sofyan, Agustina Rochyanti, Aty Widyawaty, Atien Kisam dan Wahyuni Hazierda Dauly,” ujar Ketua LINI, Rudy Octave,
Kemeriahan semakin memuncak ketika suasana Kota Tua dihebohkan oleh penampilan kejutan (surprise performance) dari diva keroncong Indonesia, Sundari Soekotjo. Kehadiran Sundari Soekotjo yang menyanyikan langsung lagu Tari Keroncong Nusantara mengiringi pemecahan rekor pergelaran massal 500 penari tersebut menjadi momen emosional dan spektakuler bagi para peserta serta ribuan pengunjung yang hadir.
Musik keroncong memiliki akar sejarah yang sangat panjang di tanah Batavia sebagai seni rakyat yang sarat nilai akulturasi budaya. Namun, sejarah membuktikan bahwa sebuah irama musik memerlukan pola gerak agar dapat terus hidup, lestari, dan membesar di ruang publik.
"Keroncong bukan lagi irama yang hanya bisa didengar dan menjadi latar, tetapi kini dapat ditarikan, dirayakan, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat," kata Ketua Aseti, Agustina Rochyanti yang menyambut baik kolaborasi transformasi seni ini.
Rudy Octave menjelaskan, inisiatif besar ini tidak berhenti pada pergelaran hari ini saja. LINI menargetkan gerakan ini untuk berkembang luas dan viral di media sosial, menjadi acuan tari pergaulan sehari-hari di tengah masyarakat, mendunia sebagai identitas nasional Indonesia, sejajar dengan Tango dari Argentina, Samba dari Brasil, atau Poco-Poco yang telah mendunia.
Kesuksesan pergelaran ini terwujud berkat sinergi kuat antara pemerintah pusat di bawah Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya (Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Pariwisata, serta Museum Sejarah dan Kepurbakalaan), serta berbagai elemen masyarakat.
Ketua LINI sekaligus penerima manfaat Dana Indonesiana 2025 Kementerian Kebudayaan RI (bidang Pendayagunaan Ruang Publik), Rudy Octave, menegaskan bahwa pelestarian keroncong membutuhkan gotong royong lintas sektor.
"Dibutuhkan kolaborasi mulai dari pemerintah, komunitas budaya, komunitas tari, komunitas lansia, hingga generasi muda seperti para pelajar SMA dan SMK, untuk memastikan irama keroncong terus bergema. Melalui semangat kebersamaan ini, pergelaran Tari Keroncong Nusantara di Kota Tua diharapkan mampu menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat dan membanggakan warisan budaya bangsa dari ibu kota untuk dunia," ucapnya.
Acara ini turut didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesia Raya, LPDP, Pemprov DKI Jakarta, serta partisipasi aktif dari 23 komunitas dan institusi Pendidikan. Antara lain Komunitas Angklung Kemuning, Komunitas KAWI Menari, Komunitas Menari Berkebaya, Sanggar MTN , Sanggar Srikandi, Team Lansia Pondok Melati, Yayasan Bethesda Indonesia, Kelompok Penyintas Kanker Srikandi Indonesia, SLB Negeri 05 Jakarta, SLB Santi Rama Jakarta, SMA Negeri 42 dan Alumni SMA Negeri 42 Angkatan1986,1989, 1990 & 2017, SMA Negeri 91 Jakarta, SMA Negeri 97 Jakarta, SMAS 28 Oktober 1928 Jakarta, SMA Bakti Idhata Jakarta, SMK Negeri 6 Jakarta, SMK Negeri 24 Jakarta, SMK Negeri 32 Jakarta, SMK Negeri 41 Jakarta, SMK Negeri 74 Jakarta, SMK Kartika Bhayangkari, SMK Satya Bakti 1 Jakarta, SMK Negeri 57 Jakarta dan masyarakat umum.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....