Dari Usia 22 hingga 82 Tahun, Kisah Comeback Musisi Jazz

  • 13 Sep 2026 12:42 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Usia bukan selalu menjadi batas bagi seorang musisi untuk memulai, berhenti, maupun kembali berkarya. Kisah sejumlah musisi jazz membuktikan bahwa kesempatan kedua dapat datang setelah perjalanan panjang, bahkan ketika dunia menganggap karier mereka telah berakhir.

Kisah tersebut menjadi tema RRI Jazz Channel pada Sabtu , 12 September 2026, malam melalui program Jazzy Vibes bersama penyiar Lia Kusumawardani. Mengusung tema “It’s Never Too Late: Late Bloomers, Comebacks, and Second Chances in Jazz”, program ini mengajak pendengar menyimak perjalanan para musisi jazz yang sukses setelah melalui jalan hidup yang tidak biasa.

Salah satunya adalah pianis asal Jepang, Ryo Fukui, yang baru mulai mempelajari piano pada usia 22 tahun. Ia belajar jazz secara mandiri dan pada 1976 merilis album Scenery. Puluhan tahun kemudian, musik Fukui kembali ditemukan oleh pendengar muda dari berbagai negara melalui internet, YouTube, dan layanan streaming.

Kisah comeback juga datang dari Jimmy Scott. Setelah bertahun-tahun menjauh dari industri musik dan bekerja di luar dunia pertunjukan, ia kembali merekam musik. Pada 1992, sekitar usia 67 tahun, Scott merilis album All the Way dan kembali mendapatkan perhatian luas, termasuk tampil dalam serial Twin Peaks serta berkolaborasi dengan Lou Reed.

Lebih mengejutkan, penyanyi blues dan jazz Alberta Hunter kembali ke panggung setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai perawat. Ia kembali bernyanyi secara rutin di New York setelah pensiun pada usia sekitar 82 tahun. Suaranya memang telah berubah, tetapi pengalaman hidup justru memberikan kedalaman baru pada lagu-lagu yang dibawakannya.

Ada pula Henry Grimes yang meninggalkan dunia musik selama sekitar 35 tahun. Setelah kembali bermain pada 2003 dengan dukungan pemain kontrabas William Parker, Grimes tidak sekadar bernostalgia. Ia kemudian tampil dalam ratusan konser di berbagai negara dan kembali bekerja bersama sejumlah musisi jazz.

Perjalanan serupa dialami Shirley Horn yang memilih mengambil jeda panjang untuk membesarkan putrinya, serta Charles Lloyd yang justru meninggalkan popularitas ketika kariernya sedang berada di puncak. Sementara Tony Bennett menunjukkan bahwa kembali relevan tidak selalu berarti mengikuti tren; ia tetap mempertahankan karakter musiknya ketika menjangkau generasi pendengar yang lebih muda.

Melalui kisah-kisah tersebut, Jazzy Vibes menyampaikan pesan bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalannya sendiri. Seperti improvisasi dalam jazz, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Yang terpenting adalah kemampuan mendengarkan keadaan, menemukan nada berikutnya, dan berani mencoba lagi ketika kesempatan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....