Kenapa Musik 60-an Masih Bikin Kangen?
- 31 Agt 2026 08:36 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kenapa Musik 60-an Masih Bikin Kangen?
RRI.CO.ID. Jakarta - Jawabannya ternyata bukan cuma soal musik. Kadang, sebuah lagu bisa membawa seseorang kembali ke rumah masa kecil, mengingat keluarga, atau sekadar menghidupkan suasana yang sudah puluhan tahun berlalu. Hal itulah yang terasa dalam Kilau Kenangan RRI bersama Tengku Loupita ketika cerita musik era 1960-an mulai mengalir dan pendengar ikut membuka kembali album kenangan mereka.
Malam itu, The Beatles menjadi salah satu pintu masuknya. Beatlemania pernah begitu menggila hingga penampilan The Beatles di The Ed Sullivan Show pada 1964 ditonton lebih dari 73 juta orang. Bukan cuma lagu yang ikut populer. Rambut poni ala John Lennon dan Paul McCartney pun menjadi gaya yang ingin ditiru anak muda.
Menariknya, kenangan pendengar justru terasa lebih dekat daripada cerita sejarahnya. Pak Bambang dari Kebayoran Baru misalnya, masih ingat bagaimana ia pertama kali mendengar She Loves You dari piringan hitam milik kakaknya. Lagu itu terlalu sering diputar sampai platnya sedikit tergores. Sementara Ibu Ratna dari Bandung mengenang masa ketika rambut poni menjadi gaya wajib anak muda yang ingin terlihat seperti anak band.
Ada satu hal yang mungkin sulit dibayangkan generasi sekarang: dulu mendengarkan lagu tidak semudah menekan tombol play. Radio AM menjadi andalan. Kenop harus diputar pelan-pelan untuk mencari gelombang yang jernih. Begitu lagu favorit terdengar, telinga pun didekatkan ke speaker. Tidak praktis memang, tetapi mungkin justru karena harus menunggu dan mencari itulah sebuah lagu menjadi begitu melekat dalam ingatan.
Cerita kemudian bergeser ke musik Indonesia. Nama Koes Bersaudara dan Dara Puspita ikut mengisi nostalgia malam itu. Bang Irfan dari Pondok Bambu mengingat lagu-lagu Titiek Puspa dan Said Effendi sebagai lagu yang sederhana tetapi romantis. Kak Arief dari Bekasi bahkan membawa cerita keluarga: koleksi piringan hitam Dara Puspita milik almarhum ayahnya kini menjadi pengingat akan cerita musik dan gaya hidup masa lalu.
Suasana makin cair ketika The Twist dibahas. Bang Dani dari Blok S mengaku pernah diajari dansa tersebut oleh om dan tantenya saat acara keluarga. Gerakannya mungkin terlihat kocak sekarang, tetapi dulu justru menjadi tren besar karena orang bisa berdansa tanpa pasangan. Dari sini terlihat, sebuah lagu kadang tidak hanya menyimpan bunyi, tetapi juga menyimpan gerakan, kebiasaan, dan orang-orang yang pernah hadir di dalam hidup kita.
Mungkin itu alasan lagu 60-an masih membuat banyak orang kangen. Bukan karena semua orang ingin kembali hidup di masa lalu, melainkan karena lagu-lagu itu punya cara sederhana untuk mengingatkan kita pada siapa diri kita dulu. Ketika sebuah lagu lama kembali terdengar, yang ikut muncul bisa jadi bukan hanya melodinya, tetapi suara radio, wajah orang tua, suasana rumah, sampai cerita yang selama ini tersimpan diam-diam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....