“Meradjoet Sendja” Sukses Hidupkan Sejarah di Panggung Orkestra
- 26 Agt 2026 18:06 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Sukses dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Orkestra Meradjoet Sendja mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
- Orkestra Meradjoet Sendja memadukan musik, seni peran, dan narasi sejarah untuk menghidupkan kembali gagasan para pendiri bangsa.
RRI.CO.ID, Jakarta - Orkestra kebangsaan “Meradjoet Sendja — Persembahan Cinta Untuk Republik” sukses dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 26 Agustus 2026. Menggabungkan musik, seni pertunjukan, dan narasi sejarah, pementasan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena menghadirkan kembali gagasan dan semangat para pendiri bangsa melalui pengalaman panggung yang emosional, reflektif, sekaligus relevan dengan kehidupan Indonesia hari ini.
Diproduseri sekaligus disutradarai Olivia Zalianty, Meradjoet Sendja menghadirkan sejumlah nama besar, antara lain Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Dira Sugandi, Isyana Sarasvati, Tanta Ginting, Jane Callista, Shanna Shannon, Fryda Lucyana, Lutfi Adriansyah, Ridho Rokhanah, Edopoaha, serta sejumlah penampil lainnya.
Yang menjadi kekuatan utama pertunjukan ini adalah keberanian merangkai gagasan dan pemikiran Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Tan Malaka dalam sebuah orkestrasi kebangsaan. Sejarah tidak sekadar diceritakan, tetapi dihidupkan melalui musik, dialog, karakter, dan atmosfer panggung yang membawa penonton menyelami kembali pergulatan pemikiran mengenai Indonesia dan kemerdekaan.

“Pertunjukan ini adalah persembahan seni, sejarah dan cinta untuk Indonesia. Karena kalau kita mencintai negara Indonesia, pasti kita ingin memberikan sesuatu yang terbaik. Jadi menumbuhkan cinta tanah air itu penting, salah satunya melalui kesenian,” ujar Olivia Zalianty, Produser sekaligus Sutradara Meradjoet Sendja.
Meradjoet Sendja hadir di tengah perubahan cara generasi hari ini menikmati sejarah. Ketika kisah masa lalu semakin banyak dikonsumsi melalui layar digital, pertunjukan ini membawa sejarah kembali ke ruang yang lebih intim: panggung dan perjumpaan langsung dengan penonton.
Melalui perpaduan musik, seni peran, dan narasi sejarah, penonton diajak tidak hanya mengingat siapa para pendiri bangsa, tetapi juga memahami kegelisahan, keberanian, serta gagasan yang mereka perjuangkan.
Bayangan tentang Tan Malaka dan Bung Karno yang hadir dalam satu ruang menjadi salah satu pendekatan artistik yang membuat sejarah terasa lebih dekat. Perjumpaan imajinatif tersebut membuka ruang untuk membicarakan kembali Indonesia, kemerdekaan, cita-cita kebangsaan, dan arah perjalanan Republik.
Bagi Ketua Umum PARFI’56 Marcella Zalianty, pementasan ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya meneruskan nilai yang telah diwariskan para pendahulu bangsa.
“Kita ingin memberikan sumbangsih dari mereka yang telah memberikan arti, untuk kita yang meneruskan hari, dan untuk generasi yang kelak menjaga negeri ini. Mari kita terus melaju,” kata Marcella.
Mengusung tema “keberanian mencintai Indonesia”, Meradjoet Sendja tidak berhenti pada romantisme sejarah. Pertunjukan ini justru mengajak penonton mengajukan pertanyaan yang lebih relevan: Apa arti kemerdekaan bagi kita hari ini? Apa yang tersisa dari gagasan para pendiri bangsa? Dan seberapa berani kita mencintai Indonesia dengan segala kompleksitasnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi benang merah yang membawa penonton dari masa lalu menuju refleksi tentang Indonesia hari ini.

Apresiasi yang muncul setelah pementasan menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium yang kuat untuk mempertemukan sejarah dengan generasi masa kini. Meradjoet Sendja membuktikan bahwa kisah tentang bangsa tidak harus selalu hadir dalam bentuk buku atau ruang kelas, tetapi dapat dirasakan melalui musik, emosi, dialog, dan pengalaman artistik.
Pementasan Meradjoet Sendja juga mendapat dukungan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya PARFI’56, Dompet Dhuafa, KEANA, Kementerian Kebudayaan RI, serta sejumlah pihak lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....