Kelompok Teater Kami mempersembahkan sajian memukau bertajuk "Sesuatu Ophelia"

  • 18 Jul 2026 05:51 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Sesuatu Ophelia"

RRI.CO.ID, Jakarta - Kelompok Teater Kami mempersembahkan sajian memukau bertajuk "Sesuatu Ophelia". Yang di selenggarakan di Galeri Indonesia Kaya di Mall Grand Indonesia, lantai 8, Jakarta Pusat, pada hari Rabu dan Kamis 15-16 Juli 2026, Pukul 19.00 wib. Hasil Karya dari seorang penulis handal yaitu Harris Priaddie Bah, disamping sebagai penulis, beliau mengemban sebagai penangung jawab, sutradara dari Kelompok Teater Kami.

Harris sang penulis naskah mengatakan, "Sesuatu Ophelia tidak dimaksudkan sebagai kelanjutan dari pemanggungan kami sebelumnya, yakni Hamlet karya Heiner Muller yang ide penulisannya berdasarkan naskah drama Hamlet karya William Shakespeare yang di pentaskan tahun lalu di bulan Juli 2025 Di Taman Ismail Marzuki, ujar Harris.

(Foto: Dermawan Ismail)

Harris menambahkan, "Seberapa pun kerasnya diskusi atau wacana tentang pencapaian karya seni dalam pertunjukan, terkhusus seni teater yang diangap sudah melampaui maksud maksud aslinya sebagai karya yang meberi pesan moral, bagi para kamioso (anggota Kelompok Teater Kami) dan tentunya, aku sebagai teaterrawan, masih tetap juga istiqomah dan bersetia dengan jalan mula mual kami berteater, yakni jalan seni yang memberi ruang kesadaran bagi para penikmat karya kami", ungkap Harris.

(Foto: Dermawan Ismail)

Walau keterbatasan jumlah kapasitas kursi di Galeri Indonesia Kaya, namun tidak menyuruti animo penonton untuk hadir dan melihat hasil karya gemilang dari sosok Harris yaitu, Sesuatu Ophelia.

Salah satu pemain Sesuatu Ophelia Esti Aryani memaparkan rasa bahagianya mendanpatkan kepercayaan untuk ikut serta mengambi bagian menjadi pemain.

(Foto: Dermawan Ismail)

" Sebuah kehormatan bagi saya diajak sutradara sekaligus pendiri Kelompok Teater Kami untuk ikut dalam pemanggungan ini. Naskah yang kami tampilkan ini adalah penafsiran beliau. Intinya sederhana, bahwa perempuan yang ditindas pun pada akhirnya akan membela dirinya dengan cara apapun. Disini pilihannya adakah membunuh Claudius. Simbol laki-laki yang dominan, culas, buas, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Sialnya tahu benar bagaimana membuat perselingkuh bahagia. Dalam pengisahan kisah drama ini terselip pesan bahwa manusia butuh agama, butuh Tuhan untuk mengatur kehidupannya", ujar Esti.

(Foto: Dermawan Ismail)

Baca Juga: Palakali Creative, Ruang Berkarya Menyatukan Seni, Desain, & Kepedulian Lingkungan

Baca Juga : Menjaga Tradisi, Melalui Dialog Budaya antara Swara SeadaNya dan Pakualaman

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....