Hari Anak Nasional, Regina Art Hadirkan Teater Musikal bagi Penyandang Autisme
- 09 Jul 2026 19:56 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Dalam rangka menyambut hari anak nasional 2026, Regina Art menghadirkan Fantasy Land, sebuah teater musikal yang dirancang inklusif dan ramah bagi anak-anak penyandang autisme. Pertunjukan yang akan digelar pada 18 Juli 2026, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, diharapkan menjadi ruang aman bagi seluruh anak untuk menikmati seni tanpa hambatan.
Mengusung konsep sensory-freindly, pertunjukan ini menampilkan berbagai penyesuaian agar anak-anak yang memiliki sensitifitas sensorik dapat menikmati pertunjukan yang lebih nyaman.
Pendiri Regina Art, Joane Win mengatakan, gagasan tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap masih minimnya ruang hiburan yang benar-benar ramah bagi anak berkebutuhan khusus, terutama penyandang autisme.
"Anak-anak dengan autisme sering menghadapi tantangan saat menyaksikan pertumbuhan konvensional karena pencahayaan yang telah terang maupun suara yang terlalu keras. Kami ingin meruntuhkan batasan tersebut karena seni adalah hak setiap anak yang harus dapat diakses dengan aman, nyaman dan tanpa diskriminasi," ujar Joane dalam keterangan resminya, Rabu, 9 Juli 2026.
Selain menghadirkan hiburan, Fantasy Land juga membawa pesan tentang pentingnya penerimaan terhadap perbedaan. Pertunjukan ini menggambarkan dunia imajinasi tempat setiap anak dapat bermain, bermimpi, dan diterima apa adanya tanpa memandang kondisi maupun latar belakang.
“Melalui cerita ini kami ingin menanamkan nilai persahabatan, empati, dan kepercayaan diri kepada anak-anak. Bagi orang tua, kami ingin mengingatkan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang patut dihargai dan didukung,” kata Joane yang juga sebagai penulis naskah Fantasy Land.
Untuk menciptakan suasana yang ramah bagi penyandang autisme, Regina Art melakukan sejumlah penyesuaian teknis. Volume musik dan efek suara dibuat lebih nyaman, penggunaan lampu berkedip (strobe) dihilangkan, sementara pencahayaan di area penonton tetap dibuat temaram dan tidak gelap total.
Selain itu, para aktor telah mendapatkan pelatihan agar mampu merespons secara adaptif apabila terjadi interaksi spontan dari anak-anak di dalam auditorium.
Joane Win menjelaskan persiapan pementasan berlangsung selama sekitar tiga hingga empat bulan. Proses tersebut meliputi riset mengenai kebutuhan anak berkebutuhan khusus, konsultasi dengan terapis dan ahli perilaku anak, penyesuaian naskah, penataan panggung, hingga latihan intensif para pemain.
Ia menilai kehadiran ruang seni yang inklusif penting untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam menikmati karya seni.
“Ruang seni inklusif bukan sekadar konsep, tetapi bentuk nyata bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati seni. Kami berharap masyarakat semakin terbiasa berbagi ruang dan membangun empati terhadap penyandang disabilitas,” ucapnya.
Joane Win berharap Fantasy Land dapat menjadi safe space bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, masih banyak orang tua yang merasa khawatir membawa anak mereka ke ruang publik karena takut mendapat stigma atau penilaian negatif.
Melalui pertunjukan ini, Regina Art ingin menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus berhak memperoleh hiburan berkualitas dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan menerima keberadaan mereka.
Meski dirancang ramah autisme, Fantasy Land terbuka untuk seluruh keluarga. Anak-anak pada umumnya tetap dapat menikmati cerita, musik, dan visual yang disajikan. Di sisi lain, pertunjukan ini juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar menghargai perbedaan dan berinteraksi dengan teman-teman berkebutuhan khusus sejak dini.
Ke depan, Joane menegaskan konsep inklusif akan menjadi bagian dari identitas Regina Art. Fantasy Land merupakan langkah awal untuk menghadirkan lebih banyak karya seni pertunjukan yang ramah dan dapat diakses oleh berbagai komunitas penyandang disabilitas.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Inklusivitas bukan tentang belas kasihan, melainkan tentang kesetaraan dalam memenuhi hak setiap anak. Yang dibutuhkan adalah ruang, penerimaan, dan hilangnya stigma terhadap anak-anak berkebutuhan khusus beserta keluarganya,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....