Candramawa, Ruang Hening Bernama Kehidupan
- 26 Jun 2026 20:23 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Musisi dan penulis lagu Danilla kembali menghadirkan karya yang tidak sekadar memanjakan telinga, tetapi juga mengajak pendengar menyelami makna kehidupan. Melalui album penuh bertajuk Candramawa, yang resmi dirilis pada 5 Juni 2026, Danilla merangkum berbagai sisi perjalanan manusia—tentang bahagia dan luka, terang dan gelap, hingga ruang abu-abu yang kerap menjadi tempat bertumbuhnya penerimaan.
Judul Candramawa dipilih bukan tanpa alasan. Dalam budaya Jawa, istilah tersebut identik dengan perpaduan warna hitam dan putih yang melambangkan keseimbangan. Sementara secara etimologis dari bahasa Sanskerta, kata ini dapat dimaknai sebagai "pembawa cahaya bulan", simbol kelembutan yang menyinari tanpa menyilaukan. Bagi Danilla, makna tersebut menjadi representasi perjalanan batin manusia yang selalu bergerak di antara dua kutub kehidupan, lalu menemukan kedamaian dalam proses menerima semuanya apa adanya.
Album ini lahir dari refleksi personal yang panjang. Danilla mengaku setiap manusia memiliki sisi yang murni sekaligus sisi yang dibentuk oleh berbagai pengalaman hidup. Ketika keduanya saling bertemu, muncul kelelahan, kegelisahan, hingga akhirnya berujung pada fase keberserahan. Bukan menyerah terhadap hidup, melainkan memilih untuk legawa menerima segala hal yang datang sebagai bagian dari perjalanan menjadi manusia.
Proses kreatif Candramawa dimulai sejak 2024 di Bantul, Yogyakarta. Di tempat yang tenang itu, delapan lagu dalam album ini mulai dirangkai bersama dua kolaborator dekatnya, Lafa Pratomo dan Otta Tarega. Menurut Danilla, keduanya memiliki kemampuan menerjemahkan gagasan dan emosi menjadi komposisi musik yang utuh, sehingga setiap lagu terasa hidup dan mampu menyampaikan suasana yang ingin dihadirkan.
Album ini memuat delapan lagu, yakni Pertunjukan Terakhir, Prasangka, Kata Siapa?, Anaking, Cinta Pertama, Lembar Biru, Dasawarsa, dan Setitik. Seluruhnya dirancang sebagai satu kesatuan narasi yang menggambarkan dinamika emosi manusia. Nuansa musik yang intim, melankolis, dan hangat berpadu dengan lirik reflektif, menjadikan setiap lagu seperti potongan cerita yang saling melengkapi dalam membentuk makna album secara utuh.
Sejumlah musisi turut memperkaya warna musikal Candramawa. Bilal Indrajaya hadir dalam lagu Prasangka, sementara mendiang Gusti Irwan Wibowo dipercaya sebagai co-produser Dasawarsa. Di lagu penutup Setitik, Danilla berkolaborasi dengan hara dan Sandrayati. Harmoni vokal keduanya menjadi penegas pesan utama lagu tentang keikhlasan, penerimaan, dan keyakinan bahwa setiap luka pada akhirnya akan menemukan jalan menuju ketenangan.
Tidak hanya hadir dalam format digital, Candramawa juga akan dirilis dalam bentuk piringan hitam melalui kerja sama dengan label asal Jepang, Big Romantic Records. Vinyl tersebut dipasarkan secara eksklusif di Jepang dan tersedia bagi penikmat musik internasional melalui platform e-commerce milik label tersebut. Langkah ini menjadi penanda bahwa karya Danilla tidak hanya menyasar pendengar di dalam negeri, tetapi juga membuka ruang apresiasi yang lebih luas di kancah global.
Melalui Candramawa, Danilla kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu musisi dengan karakter paling kuat di industri musik Indonesia. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan perjalanan emosional yang mengajak pendengar berdamai dengan sisi terang, gelap, maupun abu-abu dalam dirinya sendiri. Sebuah karya yang tidak hanya layak didengarkan, tetapi juga direnungi—karena pada akhirnya, setiap manusia memiliki Candramawa dalam perjalanan hidupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....