Amar Pantomim : Seni Gerak Pantomim Bukan Sekedar Profesi

  • 22 Jun 2026 17:53 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Bagi sebagian orang, pantomim mungkin hanya dianggap sebagai hiburan selingan. Namun bagi Amar, seni gerak tanpa kata ini telah mendarah daging dan mengisi 90 persen ruang dalam hidupnya. Sosok yang kini dikenal sebagai "Amar Pantomim" ini membagikan kisah panjangnya, mulai dari panggung-panggung emosional hingga harapannya terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam sebuah sesi bincang-bincang santai, Amar mengenang salah satu pertunjukan yang paling berkesan baginya. Bersama tokoh pantomim senior Septian Dwi Cahyo, ia pernah mementaskan cerita tentang pekerja yang terjepit di dalam kereta api yang sesak.

"Waktu itu main di Jogja, kota yang identik dengan kereta. Kami mencoba mengonversikan realita pekerja Jakarta-Jogja dalam gerak pantomim. Itu sangat memorable karena saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya terjepit di antara kerumunan," kenang Amar kepada RRI Jakarta, Minggu 21 Juni 2026.

Dari Pelampiasan Menjadi Profesi

Lebih lanjut, Amar menjelaskan evolusi hubungannya dengan seni ini. Jika dulu pantomim hanya dianggap sebagai tempat untuk meluapkan ekspresi sedih atau stres, kini pandangannya telah berubah total.

"Pantomim sekarang sudah jadi jati diri saya. Bangun tidur sampai mau tidur lagi, pikiran saya sudah pantomim. Di jalan pun kalau melihat gerakan orang yang lucu, langsung terpikir untuk dijadikan bahan naskah," ujarnya. Baginya, fase mencari jati diri lewat seni sudah terlewati, dan kini ia menjalaninya sebagai pekerjaan profesional yang penuh dedikasi.

Dukungan Pemerintah yang Masih 'Setengah Hati'

Meski telah mendedikasikan hidupnya, Amar merasa dukungan pemerintah terhadap seni pantomim masih fluktuatif dan belum berkelanjutan. Ia menyebutkan pernah ada gelaran "JakManFest" (Jakarta Pantomime Festival) yang mempertemukan seniman pantomim se-Indonesia, namun sayangnya acara tersebut tidak berlanjut.

"Dukungan pemerintah kalau dibilang cukup, ya belum. Seharusnya ada keberlanjutan, misalnya dalam setahun ada target program apa. Kemarin itu kesannya seperti 'beli putus' saja, setelah acara selesai, perhatiannya hilang," kritik Amar.

Ia juga membandingkan pengalamannya di era kepemimpinan sebelumnya, di mana seniman pantomim sering dilibatkan dalam acara besar seperti peresmian Dukuh Atas, Bundaran HI, hingga pemaparan materi rapat mengenai IKN (Ibu Kota Nusantara). Saat ini, menurutnya, intensitas keterlibatan tersebut mulai menurun.

Tantangan di Dunia Pendidikan dan Pajak

Di sisi lain, Amar mengapresiasi Dinas Pendidikan yang tetap konsisten mendukung pantomim melalui lomba-lomba di tingkat Sekolah Dasar (SD) sejak tahun 2013 hingga saat ini. Baginya, dunia pendidikan menjadi salah satu pilar yang menjaga nafas pantomim tetap ada.

Sebagai seniman profesional yang sering bekerja sama dengan instansi pemerintah, Amar juga menyinggung soal transparansi dan potongan pajak (PPh) yang cukup terasa bagi para pelaku seni. "Kami merasakan juga potongan pajak pendapatan, apalagi setiap kerja sama dengan dinas harus ada NPWP. Potongannya bisa mencapai 21 persen, itu cukup terasa bagi kami," pungkasnya.

Amar berharap pemerintah lebih pro-rakyat dan memberikan ruang yang lebih luas serta berkelanjutan bagi para seniman, agar seni pantomim tidak hanya muncul di momen-momen tertentu, tetapi bisa terus tumbuh sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....