Wajah Putih Penuh Ekspresi: Siswa SMPN 53 yang Tak Sengaja Jatuh Cinta pada Pantomim

  • 22 Jun 2026 13:14 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Seni pantomim mungkin bukan pilihan utama bagi kebanyakan remaja saat ini, namun bagi Tama (15), siswa SMP Negeri 53 Jakarta, seni gerak tanpa kata ini telah menjadi bagian penting dari hidupnya. Berawal dari ketidaksengajaan, Tama kini sukses membawa nama sekolahnya hingga ke tingkat provinsi.

Dalam sebuah wawancara santai, Tama menceritakan bahwa ia tidak memiliki latar belakang seni pantomim sama sekali saat duduk di bangku SD. Namun, segalanya berubah ketika ia duduk di kelas 7 SMP. Saat itu, ia diminta mewakili sekolah dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

"Dulu pas kelas 7 tiba-tiba disuruh ikut lomba FLS2N. Kaget banget karena belum ada basic sama sekali. Latihannya mepet cuma seminggu, tapi alhamdulillah langsung juara dua," kenang Tama kepada RRI Jakarta, Minggu 21 Juni 2026. Keberhasilan perdana itu membuatnya ketagihan dan memutuskan untuk menekuni pantomim lebih serius.

Namun, perjalanan Tama bukan tanpa tantangan. Ia mengungkapkan bahwa menjadi seorang pantomim membutuhkan dedikasi mental yang kuat. Salah satu tantangan terberat adalah menjaga ekspresi dan mood di atas panggung.

"Susahnya itu kalau lagi ada masalah atau sedih di rumah, tapi pas tampil harus tetap profesional sesuai tema. Kita harus bisa menyesuaikan ekspresi dan menyamakan gerakan dengan partner," ujar Tama yang kini rutin berlatih bersama rekannya, Aida.

Selain masalah teknis, Tama juga sempat merasa malu dengan riasan wajah putih tebal dan lipstik yang menjadi ciri khas pantomim. Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru merasa riasan tersebut adalah "topeng" yang memberinya kebebasan untuk bereksperimen. Ia merasa menjadi orang lain saat berada di atas panggung, yang justru membuatnya lebih percaya diri.

Baginya, pantomim bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk meluapkan emosi. Hal senada juga diungkapkan oleh Aida. "Kalau lagi pusing atau stres latihan pantomim jadi tempat buat ngeluapin perasaan, jadi hilang masalahnya," kata Aida.

Meski ekstrakurikuler pantomim di sekolahnya sempat ditiadakan karena minim peminat, prestasi Tama dan Aida yang berhasil meraih juara pertama baru-baru ini dan melaju ke tingkat provinsi diharapkan mampu membangkitkan kembali minat siswa lain.

Seni pantomim ini juga memberikan keuntungan akademis bagi mereka. Sertifikat kejuaraan yang mereka raih dapat digunakan sebagai jalur prestasi untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik SMA maupun perguruan tinggi.

Meskipun memiliki cita-cita menjadi seorang dokter, Tama tetap berkomitmen untuk terus berkarya di dunia pantomim selama kesempatan itu ada. "Jalanin dulu aja, pantomim seru banget," pungkasnya dengan semangat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....