Mimpi Besar Jakarta lewat Industri Film
- 12 Jun 2026 14:13 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Jakarta mulai menempatkan industri perfilman sebagai salah satu sektor yang diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada masa depan. Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi kreatif, film tidak lagi dipandang semata sebagai produk hiburan, tetapi juga sebagai aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pelaku usaha dan menciptakan nilai tambah bagi kota.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang membahas pengembangan industri perfilman, baru-baru ini. Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya mendorong Jakarta sebagai Kota Sinema sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota global.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan pengembangan industri film membutuhkan kerja sama banyak pihak, mulai dari pemerintah, otoritas, komunitas, pelaku industri, hingga generasi muda.
“Kami meyakini bahwa industri perfilman tidak hanya memiliki nilai budaya dan kreativitas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan urban tourism, serta penggerak sektor-sektor ekonomi lainnya,” ujar Iwan.
Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Di berbagai negara, industri film telah berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi kreatif. Korea Selatan, misalnya, berhasil memanfaatkan popularitas film dan drama untuk menarik wisatawan dari berbagai negara. Thailand juga aktif menarik produksi film internasional yang memberikan pemasukan bagi daerah serta membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat.
Jakarta kini berupaya membangun fondasi yang serupa. Selain mendorong tumbuhnya industri film, pemerintah daerah juga ingin menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya karya-karya baru dari para sineas muda.
Harapan itu terlihat dari tingginya partisipasi generasi muda dalam Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Hingga akhir April 2026, jumlah pendaftar Lensa Kompetisi Pelajar dan Mahasiswa mencapai 178 film. Sementara itu, program Jakarta Film Fund menerima 64 proposal film pendek.
Jumlah tersebut menunjukkan minat anak muda terhadap dunia perfilman terus berkembang. Di balik sebuah film pendek, terdapat berbagai profesi yang terlibat, mulai dari penulis naskah, sutradara, kamerawan, editor, penata suara, hingga pelaku usaha yang mendukung proses produksi.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menilai kolaborasi yang terjalin antara Pemprov DKI Jakarta dan Bank Indonesia menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem perfilman di ibu kota.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta yang telah menjadi mitra strategis utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung pengembangan industri kreatif, khususnya subsektor perfilman,” kata Rano.
Menurut Rano, pengembangan industri film tidak hanya berkaitan dengan lahirnya karya kreatif, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Karena itu, ruang bagi generasi muda untuk berkarya perlu terus diperluas agar potensi yang ada dapat berkembang secara berkelanjutan.
Perjalanan menuju Kota Sinema memang tidak bisa ditempuh dalam waktu singkat. Kota-kota seperti Seoul, Bangkok, maupun Paris membangun ekosistem perfilman selama bertahun-tahun sebelum dikenal sebagai pusat industri kreatif. Namun, besarnya minat generasi muda, dukungan pemerintah, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi modal yang dimiliki Jakarta untuk melangkah ke arah tersebut.
Di tengah kebutuhan mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru, Jakarta tampaknya ingin memberi ruang lebih besar bagi industri kreatif untuk berkembang. Dari festival film, program pendanaan, hingga kolaborasi lintas sektor, tersimpan harapan bahwa industri perfilman kelak tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga ikut menggerakkan roda perekonomian ibu kota.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....